×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Jorja Smith, Lost & Found

Posted on: 09/20/18 at 2:49 am

Penyanyi berusia 20 tahun yang ‘matang sebelum waktunya’ ini menyatukan R&B, soul, dan trip-hop pada album debut yang mendokumentasikan pencariannya yang terus berlanjut tentang jati dirinya dan bagaimana dia menyesuaikan diri di dunia yang bermasalah.

Oleh Jackson Howard (Pitchfork)

“Why do we fall down with innocence?” Jorja Smith bertanya-tanya di lagu pembuka Lost & Found. Debut yang sangat personal dari penyanyi berusia 20 tahun asal Inggris ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan impresionis seperti ini, tetapi dia tidak pernah meminta jawaban yang mudah. Pendekatannya dalam mencari pengetahuan diri penuh belas kasih dan kesabaran, yang menunjukkan kecerdasan yang tajam dan kaya akan kebijaksanaan yang matang sebelum waktunya.

“I need to grow and find myself before I let somebody love me/Because at the moment I don’t know me,” terangnya di lagu “Teenage Fantasy.” Di “February 3rd,” dia berkaca, “I’m constantly finding myself.” Namun dia tampaknya tidak khawatir dengan hasil akhir dari pencarian tersebut. Jorja membuat keresahan menjadi orang yang beranjak dewasa terdengar elegan.

Kepercayaan diri itulah yang membuatnya spesial, dan yang membuat musiknya terdengar abadi. “Saya tahu apa yang saya lakukan,” ucapnya kepada Pitchfork tahun lalu, dan musiknya mencerminkan kemandirian itu. Setelah muncul di 2016 dengan EP Project 11 yang berwibawa dan menduduki posisi keempat di daftar Sound of 2017 BBC, dia menggunakan pengendalian ahli dalam memilih langkah berikutnya: dua fitur di album Drake More Life, penempatan solo di soundtrack Kendrick Lamar untuk film Black Panther, segelintir kolaborasi keren, dan beberapa single solo yang terkenal. Semakin jauh dia mengenal dirinya, dengan balada yang tulus dan video musik buatan sendiri, semakin tinggi dia naik daun.

Terdiri dari 12 lagu yang cepat namun padat (termasuk empat lagu yang pernah dirilis sebelumnya dan beberapa lainnya yang Jorja bawakan secara live), Lost & Found adalah ujian terbesar sampai saat ini bagi komitmen Jorja dalam membuat musik dengan caranya sendiri. Hasilnya adalah pernyataan berani dengan tujuan artistik. Tidak ada yang menyerupai “On My Mind,” kolaborasi menularnya dengan Preditah di 2017, pun dia tidak tampak mengambil isyarat dari radio pop kontemporer. Dia melakukan segalanya dengan caranya sendiri.

Sementara Project 11 sering mirip dengan album Amy Winehouse Frank, Lost & Found memadu suara yang lebih orisinal, menggabungkan kontemporer dewasa, R&B, folk akustik, jazz, dancehall, dan bahkan gospel (di lagu “Tomorrow” yang menakjubkan). Tetapi album ini lebih berhutang budi pada trip-hop tahun ’90-an di dalam darah Portishead dan Massive Attack. Instrumental di “Lost & Found,” “Teenage Fantasy,” dan single yang menonjol “Where Did I Go” bergantung pada downtempo yang serupa, irama yang diselingi dengan cepat yang sangat cocok dengan suara halus dan pembawaan yang cepat dari pentolan Morcheeba, Skye Edwards. Namun Jorja tidak berbisik—dia bergerak cepat. Lost & Found tumbuh dengan minimalisme murni secara emosional, dengan suaranya sebagai instrumen sentral. Murni dan menjiwai, suaranya membentang seperti karet gelang, melonjak antara kehangatan Amy Winehouse dan falsetto bergaya FKA Twigs yang memusingkan.

Ini adalah titik tengah yang dapat berubah untuk sebuah album yang berpusat pada pencarian dan pertanyaan kaum muda. “Teenage Fantasy,” yang ditulis saat Jorja masih 16 tahun dan awalnya dirilis pada 2017, menampilkan Jorja dengan berapi-api bernyanyi tentang kekasih yang tidak ada gunanya, hanya untuk melepaskan kekuatan penuh suaranya dalam chorus yang pedih dengan penuh semangat, rasanya seperti dia membawakan lagu itu melalui megafon: “We all want a teenage fantasy/Want it when we can’t have it/When we got it we don’t seem to want it.” Ini adalah sentimen yang familiar, tetapi intensitas Jorja memberinya resonansi baru.

Lagu yang sebelumnya pernah dirilis “On Your Own” bisa menjadi sebuah potongan dari album Rihanna ANTI, dengan suara vokal Jorja yang bergerak gesit melalui drum dan distorsi musik dancehall. “The One” bahkan lebih baik dan lebih mengejutkan, menggunakan suara piano muram dan irama samba dari Brazil (yang dijangkari, seperti kebanyakan bagian dalam album, oleh instrumentasi hidup) yang secara bersamaan membuat pinggang bergoyang sekaligus memikirkan mantan pacar. “I’m not trynna let you in/Even if I found the one,” dia memperingatkan seorang pelamar. Lagu-lagu ini membantu membangun karakter yang meyakinkan dari seorang wanita muda yang cemberut dan sombong, hanya sesulit yang diinginkannya.

Tetapi pengembaraan Jorja melesat jauh dari urusan personal, dan wawasan serta rasa ingin tahu inilah yang meningkatkan karyanya. “Blue Lights,” single debutnya di tahun 2016, kembali muncul di sini; opini yang memilukan dan menyentuh terkait kebrutalan polisi dan penggambaran rasial tetap menjadi perbuatan bercerita yang luar biasa. Kali ini, pertanyaan Jorja diajukan secara retoris, untuk menyoroti ketidakadilan: “What have you done?/There’s no need to run/If you’ve done nothing wrong/Blue lights should just pass you by.” “Lifeboats (Freestyle)” adalah opini lisan tentang hak istimewa, kesenjangan pendapatan, dan kegagalan untuk meraih kesejahteraan. “So why are all the richies staying afloat?/See all my brothers drowning even though they’re in the boat/Mothership ain’t helpin’ anyone,” rapnya dengan Lauryn Hill, mendakwa pemerintah atas perlakuannya terhadap masyarakat yang terpinggirkan dan kegagalan menangani krisis pengungsi.

Tidak mengejutkan kalau Jorja tidak suka dibandingkan dengan artis lainnya, tetapi hubungannya dengan Hill sangat jelas. Sebagai wanita kulit hitam, muda, dan sangat berbakat lainnya yang mencari kejelasan di dunia yang dibangun untuk semua orang kecuali dirinya, Hill menggunakan musiknya untuk mengubah rasa sakitnya menjadi juru penyelamatnya. Hanya tiga tahun lebih muda dari saat Hill merilis The Miseducation of Lauryn Hill, Jorja berbagi opini terluka pendahulunya terkait ketidakadilan dunia dan keharusan untuk mencari kebenaran yang mendalam.

Di lagu utama Miseducation, Hill menyanyikan apa yang bisa menjadi seruan perjuangan Jorja: “Deep in my heart, the answer, it was in me/And I made up my mind to define my own destiny.” Di Lost & Found, Jorja mendefinisikan takdirnya sendiri. Dalam prosesnya, dia menegaskan bahwa dirinya spesial dan langka, seorang penanya pertanyaan yang mustahil tapi diperlukan.

 

Sumber: https://pitchfork.com/reviews/albums/jorja-smith-lost-and-found/

Posted on June 12, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019