×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Lil Yachty, Teenage Emotions

Posted on: 09/1/18 at 7:01 pm

Kalau urusan kebahagiaan, Yachty adalah empunya. Album debutnya dipoles dengan cantik dan penuh dengan campuran pop-rap, tapi gayanya yang eksentrik hampir tidak menangkap nuansa yang ditampilkan di sampul dan judul album

Oleh Sheldon Pearce (Pitchfork)

Figur yang paling eksentrik di dunia hip-hop zaman sekarang tidak pernah minta menjadi seorang provokator atau reformis rap, tapi dia senang bisa membantu. Saat Lil Yachty dan timnya yang berisi kaum separatis remaja terang-terangan memberontak—lebih dipengaruhi oleh Kid Cudi dan Chief Keef dan pop-rocker Coldplay ketimbang jenis rap klise seperti Mt. Rushmore—mereka menantang ide-ide lama tentang bagaimana seharusnya musik rap berbunyi.

Penolakan Yachty untuk terlibat dengan ‘adat’ rap memperbarui bentrokan budaya yang telah lama berlangsung antara faksi-faksi yang berseteru selama beberapa dekade. Namun pembawaannya yang penuh semangat dan terkadang konyol serta keceriaannya telah membuatnya disayangi generasi baru penggemar musik rap. Lagu-lagunya yang ceria dengan cepat membuatnya menjadi pemimpin gerakan pemuda rap masa kini dan artis yang paling mungkin menyeberang ke khalayak pop. Platform kepositifan dan inklusivitas tampaknya merupakan tindakan yang tepat di era di mana grup rap yang paling populer dalam negeri akan mengecam anggotanya sendiri karena orang itu gay. Daya tarik memang selalu menjadi hal yang aneh, sikap acuh tak acuh Yachty terhadap adat di industri rap, berfokus pada melodi ceria yang terdengar seperti lagu jingle di Nicktoons. Dia paling nyaman saat dia gembira dan bergantung dengan kesenangan, tapi dia juga bisa kesulitan mempertahankan ide-idenya. Album debut Lil Yachty Teenage Emotions, yang dirilis setelah mixtape yang viral dan mixtape yang ekslusif hadir di Apple Music, adalah karya terlengkapnya sejauh ini, tapi album ini tidak mengandung nuansa yang ditampilkan di cover dan judul album.

Teenage Emotions terasa kopong di samping emosi remaja yang nyata dan rumit; kisah-kisahnya di album ini biasanya dibawakan tanpa kedalaman atau dimensi, dan lebih seperti sketsa tindakan yang spontan. Tapi dalam elemennya, ketidakpekaan Yachty akan lagu-lagu catchy dan iramanya yang tidak biasa membiarkannya melakukan segala sesuatu dengan cara termudah, melepaskan serangkaian kesimpulan yang tidak masuk akal dengan kesembronoan sehingga terasa seperti bermain-main di atas trampolin. Dia adalah ahli dalam hal kebahagiaan. Lagu-lagu seperti “All Around Me” dan “FYI (Know Now)” mengisi produksi yang hambar dengan flow-nya yang hidup. “Harley” hanya berisi pengulangan. Intro “Like a Star” terdengar berseri-seri sebelum berubah ke nada yang lebih halus, dan ini adalah tanda pertama (dari banyak tanda lainnya) kalau Yachty masih meraba-raba jalannya.

Keterampilan bernyanyi Yachty dengan Auto-Tune sudah jauh lebih dipoles dibandingkan dengan di mixtape Lil Boat, yang sering kali terdengar kasar dalam upayanya menemukan nada. Dan dia semakin mahir dalam seni pembuatan lagu, tidak lagi menciptakan musik dengan transisi yang berantakan. Lagu-lagunya di awal kariernya terdengar seperti dibuat asal-asalan. Namun Teenage Emotions sudah lebih baik dan lebih punya tujuan. Dengan produksi dari WondaGurl, Yachty keluar masuk falsetto di “Lady in Yellow,” mengubah bait yang berulang menjadi reff tapi terkadang juga mengubah liriknya. Saat bersanding dengan Grace di lagu DJ Cassidy “Honor,” dia tampak siap untuk melakukan crossover di “Running With a Ghost,” dan kolaborasinya dengan Diplo di “Forever Young” adalah karya pop rap yang memuaskan. Momen-momen ini menunjukkan pesona Yachty. Di mana dia terlibat masalah di situlah dia mencari restu dari para ahli rap.

Di bagian tertentu, Yachty jelas terpengaruh dengan kritik para tradisionalis rap, yang rasanya wajar saja mengingat Yachty dianggap sebagai kambing hitam yang telah merusak keseluruhan genre. Tetapi dia, dengan dramatisnya, terlalu berlebihan mengoreksi, menghabiskan terlalu banyak energi untuk mencoba memantaskan dirinya, atau menjadi seseorang yang cocok dengan sensibilitas klasik. Beberapa lagu di Teenage Emotions berusaha masuk ke dalam model yang tidak pantas untuk Yachty, dan dia berakhir dengan baris seperti, “She blow that dick like a cello.” Upayanya untuk bicara sok jagoan di “DN Freestyle” and “X Men” jauh dari kata bagus. Momen-momen seperti ini sangat berlawanan dengan gaya Yachty yang sebenarnya. Hasilnya adalah album yang setengah seru dan setengah ‘maksa’.

Meski ada keraguan kepada siapa dia berbicara, Yachty menantang dirinya sendiri untuk mengambil peran baru di Teenage Emotions, dan dalam hal tertentu dia memesona. Di “Made of Glass,” lagu balad synthpop yang menenangkan, dia bernyanyi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tak terlihat oleh wanita impiannya. Seiring dia bergerak bersama-sama dengan sample di “No More,” yang berubah-ubah dan membingungkan, dia bercerita dikejar-kejar oleh ‘cewek matre’. Ini adalah salah satu waktu di mana dia merangkul selebritasnya. Di “Priorities,” dia menilai keputusan yang pernah dibuatnya, menemukan keseimbangan yang pas. Meskipun terlalu panjang dan terkadang tak berarah, Teenage Emotions adalah hasil pikiran seorang bintang cilik yang meledak dan tampil di episentrum rap modern. Album ini ada untuk dipandang dan dikagumi, dan kemudian mungkin dinikmati.

 

Posted on May 26, 2017

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019