×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Nas, Nasir

Posted on: 09/20/18 at 9:48 am

Tak lagi mampu membangkitkan sentuhan khasnya dalam bercerita, Nas terdengar ‘hilang’ di album studionya yang ke-11. Produksi Kanye pun sama sekali tidak membantu

Oleh Stephen Kearse (Pitchfork)

Sulit membedakan apakah Nasir memang benar-benar ide Nas. Saat Kanye West mengumumkan bahwa ia akan memproduseri album ini, rasanya lebih seperti pencapaian pribadinya sendiri daripada sebuah kolaborasi yang mendetail. Nas jelas terpaksa, tapi sulit membayangkan kalau Nasir adalah album yang digadang Nas di lagu DJ Khaled “Nas Album Done” di tahun 2016. Pada saat lagu tersebut dirilis, album ini belum diselesaikan, namun kesombongan belaka Nas yang memperlakukan album yang belum selesai ini seperti sesuatu yang sangat berharga mengindikasikan bahwa dia sedang percaya diri. Tapi di album Nasir, bahkan ketika ia membahas subjek-subjek klasik khas Nas seperti kebrutalan polisi, mengatur uang, dan teori konspirasi, sebuah kejanggalan menggantung di atas semuanya: Nas sedang jenuh.

Nas membuka album dengan antusiasme acuh tak acuh bak seorang pelayan yang menjelaskan menu spesial ke tamu ke-30-nya di hari itu. “Escobar season begins,” katanya datar, dan dengan cepat memberikan mik ke Diddy, yang kehadirannya, sebaliknya, langsung terasa. Loop yang dipercepat dari tema utama The Hunt for Red October memberikan “Not for Radio” gaya sinematik dan megah, tetapi Nas tampak gagap di bait-baitnya. Menyatukan paranoia kebesaran (“They try to Hyman Roth me/John Fitzgerald me”), buku teks ‘hotepisms’ (“Black Kemet gods, Black Egyptian gods/Summoned from heaven, blessed, dressed in only Goyard”), dan komentar palsu yang klise (“Shoot the ballot box, no voter cards, they are all frauds”), Nas membangun litani kebodohan dan pelajaran sejarah yang tidak diminta.

Di permukaan, baris seperti “Fox News was started by a black dude” (justru sebaliknya) dan “Edgar Hoover was black” (justru sebaliknya pula) adalah standar pidato Nas; terlepas dari titel mesiasnya, Nas sangat jarang mengklaim dirinya sebagai hal lain selain seseorang yang berupaya menggerakkan hati banyak orang dengan berbagi apa yang dia percaya. Tetapi ada kekosongan pada provokasi ini. Nas tidak terlalu terdengar seperti pengkhotbah jalanan yang meneriakkan keyakinan dan urgensi, dan lebih seperti komentator online yang sedang shitposting untuk mencari keseimbangan. Hal ini sama sekali bukan hasil trolling, namun ada pengabaian terhadap klaim-klaimnya dan kurangnya pertimbangan. Sederhananya, ini adalah karya yang dibuat dengan malas-malasan.

“Cops Shot the Kid,” lagu bouncy yang merupakan sample dari lagu Slick Rick “Children’s Story,” lebih memiliki tujuan. Nas melesat di antara kejengkelan dan kepasrahan saat dia mengisahkan rasa takut dan teror yang dihadapi sebagai orang kulit hitam di Amerika. Dia konsisten berada di beat ini sejak mencaci maki “polisi yang keji” yang menembak seorang pria yang diduga tidak bersenjata di lagu “Halftime” dari album Illmatic, dan kamu bisa merasakan sejarahnya dari suaranya. “Y’all are blowing my high,” ratapnya saat para polisi mengelilingi beberapa anak kota yang sedang menikmati keran kebakaran yang rusak. Lagu tersebut langsung kehilangan momentum saat Kanye turun untuk menguraikan “sisi lain” dari para polisi yang membunuh anak-anak kulit hitam. Sementara bait Nas memiliki latar belakang, karakter, dan pengaturan, bait Kanye ibarat arahan panggung belaka. “I know every story got two sides,” rapnya mengambang. Sudah jelas di sisi mana dia ingin berempati, tapi mengingat komentar terbarunya tentang perbudakan dan baitnya yang ceroboh di album Pusha-T Daytona (“Will MAGA hats let me slide like a drive-thru?”), baitnya menjadi sangat mengganggu. Kenyataan bahwa bait tersebut tidak dipotong terasa serampangan.

Sangat mudah menempatkan kurangnya fokus dalam album ini pada visi Kanye yang mendominasi atas Nas, tapi Nas memang tidak pernah menuntut menjadi sorotan. Mengabaikan ketelitian yang dia peroleh dari singgasana karyanya yang terkenal, Nas justru memberikan laporan yang hambar dari Met Gala dan suatu tempat di selatan Perancis; narasinya sama menariknya seperti foto geo-tag. Barang-barang mewah, makanan artisan, dan wanita dibuat tak berseni, tanpa hiasan atau bahkan selera. “Having drinks in Vegas, my business,” umbarnya di lagu “Bonjour,” tanpa ada minuman maupun bisnis.

Saat Nas menemukan inspirasi, antusiasmenya malah sangat salah tempat. “Everything,” lagu inti dari album ini, pada dasarnya adalah versi aneh dari “If I Ruled the World” di mana, alih-alih menguraikan utopia kaum kulit hitam, Nas mengumpat terhadap… vaksinasi anak, pengelompokan, dan bayang-bayang orang kulit putih kaya. “If I had everything, everything/I could change anything,” senandung Kanye, membuktikan kenihilan tujuan lagu ini. Mereka mendambakan kekuatan untuk membentuk dunia, tapi tak ingin tanggung jawabnya.

Di momen-momen langka di mana Nasir mencapai koherensi, Nas sering mencemaskan ketidakpastian kesuksesannya. “Adam and Eve” dan “Simple Things” berisi banyak kiasan tentang kehilangan, umur panjang, dan penghinaan. Nas sering resah akan anak-anaknya yang tidak merasakan penghasilannya, dan ketenangan pikirannya yang terancam oleh kecerobohannya atau trauma yang turun-menurun. Tuduhan kekerasan yang dilontarkan Kelis baru-baru ini selama perkawinannya dengan Nas bisa membuat anggukan ini pada keluarga yang berantakan dan utang-utangnya terasa seperti peniadaan dan duri, tapi itu mungkin terlalu murah hati. Penulisan liriknya begitu rumit dan mekanis sehingga sedikit di album ini yang terasa disengaja, bahkan celahnya. Dan anehnya, itu adalah pesan yang ‘manis getir’: Nas si pengamat yang teliti telah digantikan oleh Nas si pengembara yang gugup. Rasanya bukan seperti kebetulan.

Sumber: https://pitchfork.com/reviews/albums/nas-nasir/

Posted on June 20, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019