<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Nine Inch Nails, Bad Witch

Posted on: 06/24/18 at 6:43 am

Sumber: Pitchfork

Posted on June 23, 2018

bad witch

Berdurasi seperti EP, album ketiga Nine Inch Nails (NIN) dalam dua tahun terakhir ini adalah yang terbaik di antara yang lainnya, dengan suara murni yang terasa belum selesai namun tetap hidup.

Oleh Sam Sodomsky (Pitchfork)

Kebanyakan album Nine Inch Nails dimainkan seperti dokumen perubahan suasana hati yang tajam dan bergejolak. Ledakan amarah menyebabkan kecemasan yang menjalar; suasana sesaat melahirkan nihilisme dan kebisingan. Sebuah rutinitas yang sangat dikenal sampai sekarang sehingga para fans bisa memprediksi temperamen Trent Reznor yang berubah-ubah seperti pola cuaca. Jadi ketika dia baru mengumumkan rencana merilis musik terbarunya dalam serangkaian EP yang saling berhubungan, ada harapan bahwa dia mungkin, dalam format yang singkat ini, menemukan sudut terbaiknya, menemukan beberapa sudut baru, dan membuat kita menginginkan lebih banyak lagi.

Tergantung siapa yang kamu tanyakan, Bad Witch yang secara menyegarkan kohesif ini adalah EP terakhirnya dalam trilogi tersebut atau album lengkap pertamanya dalam lima tahun belakang. Bahkan Reznor sendiri tampak dibuat sedikit bingung olehnya: “Saat kami memulai [proses produksi] kami tidak pikir [EP] ini akan menjadi seperti ini,” jelasnya dengan malu-malu tentang proyek ini. Meski album yang berisi enam lagu dan berdurasi 31 menit ini menjadi karya terpendek yang pernah ada untuk sebuah album dari NIN, sulit menangkal bahwa album ini terasa berbeda. Produksi-produksi sebelumnya, Not the Actual Events (2016) dan Add Violence (2017), adalah survei yang ringkas dan secara sporadis mendebarkan mengenai karya Reznor, tetapi Bad Witch berada di jalurnya sendiri. Seperti album-album terbaiknya, album ini lebih baik ketika didengar secara keseluruhan, diputar dengan kencang melalui headphone di kamar yang gelap. Seperti score film terkenalnya dengan teman satu band-nya, Atticus Ross, album ini sukses menciptakan sebuah atmosfer dan mengundang kita untuk menjelajahi setiap incinya.

Berasal dari salah satu perfeksionis paling terkenal dari tahun ’90-an, musik ini memiliki kekasaran yang mengejutkan. Breakbeat masuk dan terpotong secara tiba-tiba. Bunyi kerincing dan dengungan mendominasi. Motif-motif merdu muncul berulang-ulang seperti semuanya sedang dipalu saat rekaman berjalan. Reznor, yang baru saja menginjak usia 53 tahun, terdengar seperti didorong oleh energi baru, menikmati tekstur yang tidak dikenal atau yang sudah lama ditinggalkan. Keringkasan dan kekasaran ini menguntungkan baginya, membangkitkan semangat bahkan mungkin membunyikan rekaman politik yang baru-baru ini dikeluarkan PJ Harvey. Jika cita-cita artistiknya mencakup memperbolehkan pendengarnya untuk secara harfiah memandang proses kreatifnya, Bad Witch berupaya memberikan gambaran serupa dari sang artis. Rasanya seperti pekerjaan yang dengan bangga sedang berlangsung.

Reznor bermain saksofon di sepanjang album—dia sebelumnya telah mengubur instrumen tersebut dalam proses mixing atau memindahkannya untuk satu-satunya karya soundtrack (yaitu “Driver Down” dari film David Lynch di tahun 1997 Lost Highway, sebuah lagu bak permata yang tersembunyi yang terasa seperti petunjuk untuk arah barunya. Di lagu pembuka “Shit Mirror,” dia melapisi tiupan saksofonnya dalam lagu pengiring yang menyedihkan dengan gitar elektrik lo-fi yang mendera. Di lagu “Play the Goddamned Part,” salah satu dari dua lagu instrumental, dia menggunakan trompet untuk memberikan efek hipnotis dan tidak seimbang. Perlakuannya terhadap instrumen tersebut adalah pengingat akan kecenderungan yang terbengkalai untuk subversi—keterampilan yang sama yang, bertahun-tahun lalu, memungkinkannya untuk memutar komponen musik dance menjadi lagu wajib goth yang dapat mendominasi radio rock dan panggung Woodstock yang penuh lumpur.

“God Break Down the Door” adalah salah satu dari beberapa lagu di mana arwah David Bowie tampak besar. Dalam single itu dan lagu penutup yang luar biasa “Over and Out,” Reznor meniru senandung pahlawannya dari Blackstar untuk menyampaikan kemahatahuan yang sama samarnya. “You won’t find the answers here,” nyanyinya, dan peringatannya tampak benar. Sementara judul album ini mengingatkan pada kiasan favorit sang presiden, lirik-lirik Reznor jarang membahas kejadian-kejadian saat ini di luar menunjukkan kelelahan dan kemuakannya secara umum. Lagu kejam “Ahead of Ourselves” menampilkan dirinya mengutuk kemanusiaan dan memperdebatkan keberadaan Tuhan: Hanya beberapa lagu setelahnya, dia memperkenalkan kehadiran ilahi hanya untuk mengacaukan pikiran kita.

Seperti biasa, dia tidak melepaskan dirinya dari kesalahan dalam kiamat yang sudah dibayangkan ini. Tak peduli seberapa sering dia menggunakan sudut pandang orang kedua dengan nada menuduh di sepanjang buku musiknya, Reznor selalu menjadi target utama dari antagonismenya sendiri. Di momen terindah dan terkerasnya pun, musik Reznor mengisyaratkan keinginan untuk memaafkan yang terhalang oleh kemandekan desainnya yang menghancurkan. “Can this world really be as sad as it seems,” tanyanya dalam lirik awal yang menggemakan Charles Manson. Pemilihan kata sifat tersebut—tidak menakutkan atau kejam, tapi sedih—terlihat penting bagi pandangannya. Di lagu instrumental yang panjang dan benar-benar membuat gelisah “I’m Not From This World,” sulit mengatakan apakah judul tersebut menyatakan perasaan pelarian atau keterasingan penuh. Jika katarsis album NIN pernah berasal dari pengusiran semua iblismu secara berurut, musik ini akan membuatmu tidak nyaman.

Rasa ambiguitas kosmik menembus Bad Witch. Lagu-lagu ini bukanlah lagu barunya yang paling mengundang ataupun paling dekat, namun mereka berada di antara karyanya yang paling mendesak. Meskipun dia bukan satu-satunya artis dari generasinya yang mencoba potensi produksi yang ringkas (Pixies mendahuluinya dalam tren ini; My Bloody Valentine dan Smashing Pumpkins akan menyusul), Reznor mungkin yang pertama mendarat di suatu tempat yang tak terduga melalui proses tersebut. “Time is running out/I don’t know what I’m waiting for,” nyanyinya di “Over and Out,” setelah build-up yang panjang dan atmosferis. Sejarah sangat membebani pikirannya, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Reznor terdengar seperti sedang menatap masa depan.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019