×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Paramore: After Laughter (2017)

Posted on: 08/25/18 at 9:16 am

Album kelima Paramore memantapkan ke-pop-an band ini. Tetapi, ada kesedihan mendalam di balik keceriaan yang ditampilkan

Oleh Leonie Cooper (NME)

Eyeliner anak-anak emo akan dibuat lebih berantakan daripada biasanya minggu ini karena di album kelimanya, rocker alternative asal Tennessee, Paramore, akhirnya benar-benar meninggalkan sisi emo-nya yang banyak diiringi alunan gitar bergerigi dan melenggang dengan lagu-lagu pop hits jaman dulu.

Hayley Williams mungkin sudah sangat mengisyaratkan arah baru band ini di album keempatnya Paramore yang condong bernuansa power-pop yang dirilisnya tahun 2013 silam. Tetapi, album After Laughter muncul bak sebuah soundtrack yang memukau untuk film John Hughes yang telah lama hilang. Band ini tidak lagi dapat disandingkan dengan My Chemical Romance, dan menjadi lebih setipe dengan Haim, apalagi dengan bahasa tubuh yang terbilang cukup centil di lagu “Forgiveness.” Anggukan kepala seperti di zaman punk mereka terdahulu sudah semakin jarang dan sedikit, yang berasal hanya dari dentuman offbeat di lagu “Caught In The Middle,” yang mengingatkan akan gaya awal band No Doubt, dan lagu “No Friend” yang moody, di mana Hayley mengambil time-out dan membiarkan Aaron Weiss dari band rock asal Philadelphia, mewithoutYou, bebas nge-rock.

Tapi itu jelas bukan hal buruk – kecuali Anda benar-benar tidak bisa move on dari 2006. Dengan dentum marimba yang bersemangat, “Hard Times” sebagai lagu pembuka album membuat suasana menjadi sempurna; suatu persembahan tropis yang ceria dan energetik seperti pakaian di Hawaii. Hal ini membuat lagu tersebut mungkin tidak terlihat seperti lagu orang yang sedang bad mood (“Walking around with my little rain cloud / Hanging over my head and it ain’t coming down”). “Told You So” juga sama cerianya, namun dengan nuansa muram yang sama pula (“For all I know / The best is over and the worst is yet to come”). Efek sonic therapy hadir di lagu “Grudges” yang bikin ketagihan, yang terasa seperti rekaman band The Bangles yang dipercepat, dan lagu “Pool” yang bouncy, sementara terdengar bisikan rock klasik khas Heart di lagu ballad “Forgiveness” dan petikan gitar di lagu “26.”

Katarsis biasanya memang tidak pernah se-menyenangkan ini, tapi terkadang tersenyum di tengah rasa sakit lebih baik daripada menangis.

TRACKLIST

  1. “Hard Times”
  2. “Rose-Colored Boy”
  3. “Told You So”
  4. “Forgiveness”
  5. “Fake Happy”
  6. “26”
  7. “Pool”
  8. “Grudges”
  9. “Caught in the Middle”
  10. “Idle Worship”
  11. “No Friend”
  12. “Tell Me How”

 

Posted on May 12, 2017 2:01 pm

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Gimana Nasib Masa Depan Paramore

Hayley Williams Akui Tidak Tahu Arah Paramore Selanjutnya!

Sudah lebih dari dua tahun sejak Paramore merilis album terakhir mereka, After Laughter, dan hampir setahun sejak mereka terakhir menggelar pertunjukan live, d

on Aug 18, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019
Duara

Flights Of Imagination - Duara

Imajinasi manis Duara! Baca Juga: Setelah Rilis EP, Duara Rencanakan Mini Tur ke Inggris Oleh: Amien. Tidak sengaja menemukan nama mereka di sebuah arti

on Aug 6, 2019