×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Paramore: All We Know Is Falling (2005)

Posted on: 08/25/18 at 7:43 am

Oleh Staf A Diverse Sound

Paramore menjadi salah satu band favorit sepanjang masa saya sejak saya membeli album brand new eyes di salah satu acara festival buku bekas. Saya mendengarkan album tersebut sekitar album eponim mereka baru dirilis, dan sejak saat itu album-album Paramore pun menjadi barang wajib dalam koleksi saya. Karena akhir pekan nanti saya dan teman saya akan menonton konser mereka, saya akan mendedikasikan minggu ini untuk mengulas kelima album mereka dimulai dari album debut All We Know Is Falling.

Untuk album yang menunjukkan tingkat kedewasaan yang matang, tentu cukup mengejutkan bagi saya ketika mengetahui kalau pada saat dirilisnya single utama album ini, “Pressure,”  Hayley Williams baru menginjak usia 17 tahun, sementara sang drumer, Zac Farro, masih 15 tahun. Paramore yang ditampilkan di album ini berbeda dengan Paramore di album Riot! ataupun pada Paramore. Di sini, mereka seperti sebuah grup yang sedang bertarung melawan rasa rindu dan kehilangan. Hengkangnya bassist mereka, Jeremy Davis, di saat penulisan album adalah dasar kesedihan tersebut yang kemudian dijadikan konsep album ini secara menyeluruh. Dari segi lirik, kebanyakan dari All We Know Is Falling berpusat pada rasa kesepian dan kerinduan, sedangkan secara keseluruhan album ini lebih condong pada suara emo-rock pertengahan tahun 2000-an sebagai fondasi musiknya. Hasilnya, album tersebut terasa sedikit kuno pada masanya dan produksinya pun sejauh ini adalah yang paling lemah dari semua diskografi mereka.

Namun, hal ini sama sekali tidak berarti bahwa All We Know Is Falling bukanlah album yang solid. Meskipun instrumentasinya terkadang mungkin terdengar agak basi dengan nada tunggal, melodinya masih unggul di antara beberapa karya terbaik band ini. “Emergency,” misalnya, adalah lagu rock penggerak yang luar biasa yang dilengkapi dengan chorus yang sangat bikin emosional. “Brighter” adalah lagu ballad powerful yang bercerita tentang kandasnya sebuah hubungan, dan dibawakan dengan sempurna dengan vokal Hayley yang juga sama kuatnya, terlebih ketika menyanyikan, “Now I think we’re taking this too far / Don’t you know that it’s not this hard / Well it’s not this hard / But if you take what’s yours and I take mine / Must we go there / Please not this time, no not this time…. / If you run away now will you come back around?” Sedangkan “My Heart” adalah salah satu lagu penutup terbaik Paramore, lengkap dengan teriakan hardcore dari band ini.

Faktor terbesar yang membuat album ini kurang maksimal adalah kurangnya variasi dalam instrumentasi yang menjadikan lagu-lagunya terkesan lebih bergantung pada vokal Hayley dari yang seharusnya. Memang, hal ini kemungkinan besar lebih dipengaruhi oleh rasa nyaman mereka dengan tipe suara yang lugas ketimbang kurangnya ambisi (seperti yang akan kita lihat di album berikutnya). Ketika album ini mencoba melakukan sesuatu yang berbeda, hasilnya justru tidak sesuai harapan. “Here We Go Again” memiliki kualitas yang hampir cocok untuk membuat pendengarnya berjoget dengan lantunan gitar meskipun lagu tersebut sebenarnya memiliki unsur rock yang cukup kuat. “Whoa” dimaksudkan menjadi lagu yang menyenangkan namun malah lebih terdengar seperti lagu pengisi yang tak berarah ketimbang menonjolkan keunikannya.

Tidak dapat dipungkiri All We Know Is Falling adalah produk band anak muda, yang masih beberapa kali menunjukkan kualitas mereka yang masih perlu dipoles lagi. Meski demikian, ada beberapa potongan-potongan hebat di album ini yang kedengarannya tidak seperti apa pun yang pernah band ini lakukan. Jika Anda mencari album emo sederhana yang sedikit di atas rata-rata dengan edge yang lebih berat, Anda akan cukup puas dengan album ini.

 

Posted on February 5, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019