×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Protomartyr, Relatives in Descent

Posted on: 09/28/17 at 5:24 pm

 

Relatives in Descent mengajarkan kita tentang kebenaran, kecemasan, dan kurangnya pemahaman kita akan dunia di sekitar kita

Oleh Loren Diblasi (Consequence of Sound)

Herakleitos dari Efesus, atau juga dikenal sebagai “The Obscure (Si Gelap)” atau “The Weeping Philosopher (Filsuf yang Menangis),” memiliki pepatah: “Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama.” Herakleitos percaya bahwa alam semesta terus mengalir dan satu-satunya sifat nyata dari realitas adalah bahwa hal itu terus berubah. Akibatnya, manusia bergumul dengan kurangnya pemahaman. Album keempat Protomartyr, Relatives in Descent, dibuka dengan irama rendah bergemuruh, lalu dengan dengung yang tidak menyenangkan. “Call me Heraclitus the Obscure, (Sebut saya Herakleitos si Gelap)” ucap vokalis Joe Casey, disertai dengan alunan gitar yang mengelilinginya. “Constantly weeping because the river doesn’t move/ It doesn’t flow. (Terus menangis karena sungainya tidak bergerak/ Tidak mengalir)” Suaranya mantap — garang, bahkan — namun ada nada ketakutan yang jelas di bawah permukaan. Sama seperti kita semua, dia tidak yakin apa yang akan terjadi berikutnya, dan dia takut. Ada suatu keputusasaan dan permohonan di momen terakhir lagu ini, di mana Casey mengulang, dan dengan lembut mengerang: “She’s just trying to reach you. (Ia hanya mencoba menggapaimu)” Mungkin ada harapan di cakrawala, tapi untuk sekarang, setidaknya, harapan itu jauh dari genggamannya.

Rilisan terbaik dari veteran rock asal Detroit, Relatives in Descent adalah khotbah tentang kebenaran, kecemasan, dan kurangnya pemahaman kita akan dunia di sekitar kita. Seperti biasa, Casey adalah narator terpercaya kita, yang menuntun kita melalui kegelapan dengan gaya khasnya yang berlandaskan kecerdasan, kebijaksanaan, dan kepahitan; seperti kombinasi yang pas dari Drunk Uncle dan Mark E. Smith, dia menyampaikan pesannya dengan wibawa dan rasa kasihan yang berimbang. Sebagian terinspirasi dari perjalanannya ke Irlandia, Relatives in Descent dipenuhi dengan kiasan ke masa lalu tetapi tetap mengakar kuat di masyarakat modern. “A Private Understanding” adalah di mana Casey pertama kali memberikan penjelasan: “In this age of blasting trumpets, a paradise for fools. (Di masa trompet bertiup, surga bagi orang bodoh)” Di lagu berikutnya, “Here Is the Thing” yang groovy, dia sekali lagi menyebut tahun 2017 sebagai “masa trompet bertiup.” Tak ada perbedaan apakah “trompet” tersebut merupakan rujukan langsung kepada Donald Trump; kita hidup di zaman di mana orang-orang yang paling banyak membuat keributan sering menjadi pusat perhatian, untuk hal baik ataupun buruk (kebanyakan untuk hal buruk). Konsekuensi dari tren ideologis tersebut adalah apa yang dijelajahi Casey di Relatives in Descent, tetapi dia tidak pernah berkhotbah — dia hanya sama cemas dan terkejutnya sepertimu.

“My Children”, single kedua yang menonjol dari LP ini, menampilkan gaya klasik Protomartyr: permainan gitar Greg Ahee yang cepat dengan latar belakang drum dan bass berirama kencang dari drummer Alex Leonard dan bassist Scott Davidson. Sepanjang empat lagu penuh, band ini telah memberikan pandangan suram mereka terhadap ranah post-punk yang masih suci; mungkin tampak indah awalnya, namun ada kegelapan yang mengikuti. “My children, they are the future, (Anak-anakku, mereka adalah masa depan)” seru Casey, mengangkat perspektif orang tua. Tapi seperti apa masa depan itu? “Don’t lean on me, man, cause I ain’t got nothin to give, (Jangan bersandar padaku, karena aku tidak punya apa-apa untuk diberikan”) dia akhirnya mengakui, mengangguk pada generasi manusia yang saat ini tinggal di antara kejatuhan generasi sebelumnya.

Terlepas dari semua gambaran indahnya, Relatives in Descent sangat suram; sewajarnya, di kegelapanlah ketakutan kita cenderung terwujud. Tanpa terkecuali Casey, merenungkan keputusasaan di atas irama metodis lagu “Night-Blooming Cereus”. Album ini menyinggung besarnya peradaban modern dan isu-isu yang mengganggu kita — kemiskinan, politik, reproduksi — tetapi momen-momen yang lebih intimnya lah yang menjadikan album ini paling bermakna. “Only in darkness does the flower take hold/ It blooms at night, (Hanya dalam kegelapan bunga itu bertahan/ Ia mekar di malam hari)” nyanyi Casey, menjelaskan kecemasan dan ketidakpastiannya sendiri. “Masa trompet bertiup” ini mungkin susah dilacak dalam skala besar, namun ketika semua cahaya lenyap, kita benar-benar sendirian.

Relatives in Descent menyajikan versi berbayang dari kenyataan yang, sayangnya, sangat mirip dengan kenyataan yang kita hadapi. Di sepanjang 12 lagu tersebut, Protomartyr mencari kebenaran dan pemahaman, namun kesimpulan yang memuaskan tidak pernah ditemukan. “Truth is the half-sister that will not forgive, (Kebenaran adalah saudara tiri yang tidak pernah memaafkan)” ucap Casey di akhir album, sebelum mengulang sekali lagi, “She’s just trying to reach you. (Ia hanya mencoba menggapaimu)” Di titik ini, suaranya terdengar melemah seperti orang yang kalah. Seiring terus berputarnya Relatives in Descent, harapan tidak akan mati, tetapi juga tidak lebih dekat dari saat kita memulai.

Lagu Utama: “My Children”, “Night-Blooming Cereus”, dan “Here Is the Thing”

Sumber: https://consequenceofsound.net/2017/09/album-review-protomartyr-relatives-in-descent/

Posted on September 27, 2017, 11:30 am

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019