<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Mixtape Lil Yachty, Lil Boat

Posted on: 09/1/18 at 6:38 pm

Rapper asal Atlanta ini tinggal di dunia rap pasca-regionalis, ruang yang dibatasi oleh platform digital dan bukan geografi

Oleh Sheldon Pearce (Pitchfork)

Lil Yachty adalah murni ciptaan internet. Lagu hitnya “1 Night” berhasil menjangkau sebagian besar para penontonnya melalui video komedi sketsa yang menjadi viral, dan sebelum itu, dia pernah ‘diiklankan’ di Twitter oleh Ian Connor, seorang penata gaya dan kurator web yang banyak dikenal karena koneksinya dengan A$AP Rocky. Dia berhutang budi ke Lil B juga, dengan verse bebas yang meniru Based Freestyles dan energi yang santai yang mengingatkan kita dengan era Based God di Myspace. Singkatnya, Yachty berkembang di dunia rap pasca-regionalis, ruang yang dibatasi oleh platform digital dan bukan geografi. Salah satu produsernya dikenal dengan nama Digital Nas. Dia adalah bukti nyata bahwa rap modern tidak punya pengendali, dan dunia rap Soundcloud hanyalah berisi karya-karya jiplakan yang tidak ada usahanya.

Tidak ada satu hal pun yang Lil Yachty lakukan yang orang lain tidak bisa lakukan dengan lebih baik, dan dengan detail yang lebih mendalam. Di Lil Boat, mixtape debutnya, dia membuat kekacauan dari berbagai pengaruh ini. Inspirasi kreatif yang paling jelas adalah iLoveMakonnen, yang terutama menjadi sangat jelas di lagu “Good Day,” dengan falsetto yang berderit dan melodi yang bergetar. Tapi Makonnen membawa kehangatan dan rasa nyaman ke lagu-lagunya, sementara Yachty terus-terusan tegang, seolah dia dengan susah payah mengeluarkan lirik lagu dari mulutnya. Rap-nya tidak beraturan dan suaranya begitu datar sampai Auto-Tune pun tampak tertekan.

Daya tarik utama Yachty adalah “fun.” Semua ini seharusnya terlihat mudah dan masa bodoh, dan itu benar terlihat di lagu-lagu ceria seperti “Wanna Be Us” dan “Run/Running.” Namun semuanya masih terasa belum matang—segelintir lagu cuma berisi satu verse dan hook, dan tidak ada hubungan yang jelas antara keduanya. Jadi lagu seperti “Not My Bro” dibuka dengan mantap dan kemudian tenggelam, menjadi serangkaian rengekan yang melengking. Mixtape ini meneriakkan banyak hal—menyebalkan, membosankan—tapi “fun” bukan salah satunya.

Kesederhanaan Yachty menguntungkan baginya ketika berhubungan dengan hook yang catchy. Di lagu-lagu yang mendingan di sini, dia bernyanyi/nge-rap dengan diiringi suara retro yang riang yang terdengar seperti musik Nintendo 64 (yang kebanyakan diproduksi oleh Burberry Perry) yang memperlihatkan keheranan dan kesenangan seperti anak-anak. Tetapi hook-nya tidak cukup untuk mengimbangi jeritan Yachty yang menyakitkan, dan banyak dari idenya yang tidak hanya basic alias biasa saja, namun juga dieksekusi dengan buruk. Berusaha membangun kapal yang bisa mengapung dari kapar adalah usaha yang sia-sia. Tapi apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang tahanan gelombang yang terus berubah?

 

Posted on March 17, 2016

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019