<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Mixtape Lil Yachty, Summer Songs 2

Posted on: 09/1/18 at 6:53 pm

Di mixtape terbarunya, rapper fenomenal asal Atlanta ini jauh terdengar lebih baik saat mencoba gaya yang lebih segar, lebih aneh dan lebih ‘mengambang’ daripada mencoba mengikuti tradisi hip-hop yang terkenal

Oleh Matthew Ramirez (Pitchfork)

“Seven years later and I got the same friends,” pamer Lil Yachty di “All In,” lagu yang cukup menyenangkan di akhir-akhir Summer Songs 2. Tujuh tahun lalu saya berumur 20 tahun, dua tahun lebih tua daripada Yachty sekarang, dan saya masih berteman dengan hanya sekitar 25 persen dari lingkup pertemanan saya saat itu—ke mana waktu berlalu? Sementara Yachty me-rap tentang menjadi terkenal dan masih punya teman yang lengkap, baris tersebut mengundang interpretasi lain yang lebih pribadi: Apa yang kamu lakukan tujuh tahun lalu? Seperti apa hidupmu di usia 18 tahun?

Usia memainkan peran besar dalam menikmati (atau tidak menikmati) musik Yachty. Dia meneriakkan “We are the youth!” di lagu pertama mixtape ini; dia menyebut dirinya “king of the teens” di lagu lainnya yang terdengar seperti musik tema pahlawan super. Rapper asal Atlanta ini pernah membawakan beberapa penampilan yang kurang nyaman di acara radio New York seperti “The Breakfast Club” dan “Ebro in the Morning,” di mana dia didesak dan diperlakukan dengan sikap yang merendahkan—anak aneh di kelas dengan rambut gimbal berwarna merah yang menjadi wujud gerakan baru yang membuat takut orang yang lebih tua. Itu semua tampak seperti beban yang tidak adil yang ditempatkan ke seorang remaja yang tidak benar-benar pantas mendapat introspeksi dan skeptisisme yang sudah turun-temurun. Meskipun Summer Songs 2 masih lebih baik dari Lil Boat, mixtape debutnya yang dirilis beberapa bulan lalu, musiknya masih terlalu lemah untuk meredam kecemasan orang tua akan generasi ini.

Terlepas dari itu, di antara teman-teman sebayanya yang sedang naik daun—seperti Lil Uzi Vert, Playboi Carti, 21 Savage, dan Kodak Black—Yachty tampak seperti yang paling siap untuk sukses. Penampilannya yang dominan di lagu D.R.A.M. “Broccoli” duduk manis di peringkat #34 di Billboard Hot 100, dan personanya yang riang sering menonjol di lagu-lagu yang santai yang tidak banyak rap-nya. Yang sebenarnya tidak masalah. Meski begitu, dia justru bermasalah saat dia mencoba meraih kehormatan di lingkaran hip-hop tradisional.

“For Hot 97” sebagian besar terdengar datar, karena Yachty tidak mampu mengikuti iramanya. Dia tidak membawakan verse yang sama kuatnya dengan verse sebagian besar tamu di mixtape ini, seperti G Herbo, yang meluruskan “Up Next 3,” dan Offset, yang memberikan verse yang mantap di lagu banger “DipSet.” Sebaliknya, Yachty sering terdengar off-tempo—yang bisa jadi tidak menyenangkan untuk didengar. Suaranya yang bernada tinggi membantunya di lagu-lagu yang lebih lambat, namun tidak bercampur dengan baik saat dia berteriak dan ketinggalan di lagu tersebut. Agak sedikit membingungkan rasanya ketika kamu ingin mendukung anak ini, tapi kamu tidak tahan mendengarnya begitu sering melemahkan kekuatannya.

Summer Songs 2 mulai terarah di lagu-lagu ‘mengambang’ dan lebih aneh seperti “IDK,” di mana Yachty bergulat dengan ketenaran yang datang tiba-tiba, dan lagu patah hati “Yeah Yeah,” yang berisi baris yang agak catchy: “Dick so good turn that ho to George/That mean she get curious.” Yachty berlagak seperti murid Soulja Boy dan Lil B (lihat filosofi #based di “Life Goes On”) tapi dia juga punya selera humor Tyler, the Creator, dari videonya yang kurang sopan sampai membuka albumnya dengan meniru “pamannya,” Darnell Boat, yang terdengar seperti karakter di “Loiter Squad”. Dan saat lagunya melambat dan iramanya menjadi layu, saya menjadi teringat akan versi West Coast yang sangat indah dari chillwave, dengan pantai dan udaranya yang cerah. Di sini Yachty menampilkan sebuah aesthetic yang menjadi daya tarik bagi beberapa orang (yang sebagian besar berusia 25 tahun ke bawah) dan membuat yang lainnya menjauh.

Di lagu penutup “So Many People,” setelah memainkan serangkaian testimoni penuh semangat untuk musiknya, Yachty merendahkan suaranya hingga hampir seperti bisikan dengan diiringi suara drum yang sederhana dan keras. Hal itu menjadi momen yang mengejutkan di mana dia menunjukkan sisi lemahnya, bahkan saat dia menyombong, “I just put both of my feet in the door/I did it two times faster than these other n—–.” Itulah penderitaan yang kamu dapat dari orang yang beranjak dewasa—rasa percaya dirinya sudah ada, tapi kegelisahan dan ketidakpastian dari masa remaja masih membayangi. Kalau Summer Songs 2 kesulitan mendapatkan ‘lampu hijau’ Apple Music dan popularitas yang besar, coba bayangkan kembali ke usia 18 tahun, saat kamu hanya ingin mendengarkan dirimu sendiri.

 

Posted on July 27, 2016

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019