×
×

Search in Mata Mata Musik

Ulasan Album: Sekilas Info – Jason Ranti

Posted on: 09/3/19 at 2:00 pm

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube.

Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berkarya Lewat Proyek Bahaya Laten

Oleh: Rio Tantomo.

Kau tertawa maka kau ada . . .’

Itu jawaban versi Iwan Simatupang untuk tanda tanya pada reffrain lagu “Sekilas Info”. Saya juga punya yang versi Habibie atau Ustadz Abdul Somad tapi belum punya niat cerewet sehingga menuliskannya di sini tidak akan mampu membuat malam yang miskin jadi lebih berbintang. Dan ketika kalimat barusan diberi titik saya telah menolak dua ajakan bioskop menonton film Koboy Kampus, debut layar lebar Jason Ranti (Jeje) memerankan Pidi Baiq, Presiden Republik Gila yang dalam satu dan lain hal memiliki beberapa kesamaan personal dengannya. Argumentum in absurdum, kata Baiq. Seorang Ayah Rela Disodomi Waria Demi Membeli Susu Anak, sahut Jeje, memberikan kita sebuah kisah tentang tragedi seorang pria; seberapa absurd hidup yang sialan ini sampai seorang lelaki rela dijebol anusnya supaya anaknya bisa minum susu?

Tidak tahu dengan kalian, buat saya tidak ada yang bisa dianggap cukup absurd. Tidak juga semua amarah milik seorang tukang petik gitar yang dalam satu dan lain hal bisa saya kenali sebagai senafas sepemberontakan. Maksudnya; jika kau cepat mual berselancar di Instagram – jika kau mangkir dari TPS, ataupun hadir tapi malah menggambar pelir alih-alih memilih – jika kau ingin dekriminalisasi cimeng – jika kau lelah berbasa-basi – punya masalah dengan polisi, serta masa depan yang tak kunjung jelas… jika kau ikut mengantri dalam antrian pencuri yang timbul sebab nasinya dicuri, kau akan menyukai album kedua Jason Ranti ini.

Absurdisme adalah sebuah ekspresi serius. Bukan cuma bualan seniman yang berusaha melawak. Bahwa usaha kita mencari arti hidup akan selalu berakhir dengan kegagalan, dan kecenderungan kita untuk terus berusaha menemukannya sebagai suatu hal yang absurd (baca: sia-sia/tidak masuk akal), yang semakin digali malah semakin sukar dipahami hingga akhirnya semua kebenaran yang dicari harus ditafsir secara pribadi.

Orang-orang absurd adalah orang yang berani menentang dunia. Berkontra menggunakan jalan pikiran mereka sendiri. Orang-orang absurd adalah orang-orang yang paling bebas. Orang-orang yang menerima kenyataan dengan menjalani hidup sebagai makhluk mandiri sebagai bagian dari cita-cita cerdik umat manusia yang menolak derajatnya disederhanakan cuma dalam status ‘hamba’ atau nasihat enteng ‘banyak-banyakin bersyukur’. Tapi cukup kompleks dan meradang untuk bisa mempertanyakan seberapa besar kadar Ketuhanan dalam diri kita.

Kemudian terbayang adegan waria dengan si ayah yang malang tadi. Saya mencoba menerka-nerka apa alasan yang bakal dibuatnya nanti ketika mendapati istrinya bertanya, “Dapat pinjaman darimana, Yah?” Mungkin dijawabnya dengan selera humor jujur yang menyelamatkan seorang pria dari hilang kehormatan. “Tadi ketemu teman di Manggarai, makan lontong di pinggir rel,” kata si ayah. “Alhamdulillah, Yah, semoga berkah buat anak kita…” balas teduh sang istri. Bangsat, maki si ayah dalam hati, senyumnya keluar sedikit meringis, cenat-cenut memar bokong yang perih.

Jadi seberapa absurd, absurd itu?

Seberapa absurd cap komunis di jidat Tan Malaka? Seberapa absurd rintihan pura-pura seekor lonte? Seberapa absurd Undang-Undang ITE kita? Seberapa absurd langgengnya mafia bola kita? Seberapa absurd ide transmigrasi ke planet Mars? Seberapa absurd siksa terali besi Fidelis? Seberapa absurd hidup anjing homo yang berkaki tiga? Seberapa absurd sebuah kesedihan yang dicari-cari? Dan seberapa absurd mestinya karya seni yang absurd?

Absurd atau semrawut?

Untuk konteks lagu-lagu gitar kopong yang liar, Jeje termasuk dua-duanya. Sekilas dia mengoceh mirip seorang penjaja obat yang frustrasi. Bisa terdengar begitu simpatik dan melankolik – menawarkan cinta dan harapan – tapi di satu sisi juga tertekan menyadari arah angin sedang melaju berlawanan. Tanggal 2 bulan 12 tahun Neraka. Penjaja Obat menyaksikan lelucon di layar genggam, sebatalion malaikat menjaga iring-iringan ribuan penghuni surga yang tercium punya masalah mendasar tentang kacamata kuda, berselip tahta dan kebencian yang lama kelamaan membuat hati geli. Penjaja Obat tertawa, bukan karena lucu melainkan khawatir, pikirannya tersangka kafir. Kehadirannya diramal tertolak di pintu surga meskipun dia juga mengimani keeksisan Tuhan. Tapi Tuhan yang mana? Sial. Minoritas. Dan entah harus bagaimana lagi bertahan kalau Tuhan saja sampai ikutan dipersaingkan di pasar dagang, diperjualbelikan seperti obat-obatan.

Pada saat itulah pusing melibat kepala. Agama akhir-akhir ini kurang diperkenalkan sebagai berita gembira, namun sebagai genderang perang otoriter. Penjaja Obat menghibur dirinya dengan cara yang eksentrik dan mulai melumati sendiri barang-barang dagangannya – mengoyak kulitnya lalu mengunyahnya satu per satu persis kacang rebus.

Di beberapa lagu di album ini Jeje terdengar seperti itu. Tidak bermaksud memberikan dia bingkai, tapi mungkin memang begitulah lirihnya. Tidak bermaksud menyarankannya juga kepada kalian, tapi saya kenal cara itu benar bisa diandalkan, bekerja dengan baik sebagai salah satu obat muak paling ampuh melahirkan sajak-sajak kehancuran. Tertawa dari sudut-sudut pikiran yang tergelap. Merentet dan memekik seperti Willibrodus, Si Burung Merak dari Tegal Rotan.        

‘Hey, halo! Apa kabar Kobra? Matahari salto, belum mabok pil koplo, kriminil diramahkan, sufi dikafirkan. Penjahat jadi pejabat, wakil rakyat sibuk bikin puisi: ‘ini Budi . . . itu Sobri, ini tongkol . . . itu k*nt*l’, heiiiii, dilarang ngomong jorok! Boleh korup asal sopan, boleh jahat asal elegan. Heeei, maafkan selera humorku yang begitu k*nt*l, aku hanya menulis berdasarkan pesanan sesuai dengan keadaan yang dirancang untuk melancarkan niat buruk kekuasaan, heiii, tapi apa guna berkuasa, jika ternyata di balik alang-alang, di ujung gang, seorang ayah rela disodomi warian demi membeli susu anak|Ahhh . . maka segera susun pasukan, lagi-lagi rapatkan barisan, himpunan-golongan-umat, dan para tawanan. Ganti segera Undang-Undang dengan Hukum Nasi Bungkus! Turunkan Tim Khusus! Fluxcup dan Uus! Bangkitkan dedemit (3x) . . Bangkitkan dedemit . . . Bangkitkan dedemit! Ahhhhhh . . .’  

Baca Juga: Tiba-Tiba Suddenly Rekaman, Konsep Acara Terbaru dari Efek Rumah Kaca

Sekarang saya sedang memikirkan hal ini terjadi: tiba-tiba penggalan di atas menyalak pada pukul 04.21 pagi, seorang marbot telah melakukan sabotase dengan mengganti kaset adzan. Marbot telah mengunci pintu ruang muadzin sebelumnya dari dalam, mengganjal tuasnya dengan linggis sehingga tidak seorangpun bisa membungkam versi penuh ‘sajak toa’ itu dari berkumandang. Seisi kampung dipaksa mendengar Jeje berteriak-teriak – mereka bisa merasakan urat leher yang menggebu, meracau, mendamprat, menyindir, mengumpat, melolong, menuntut, memberi ironi di antara kemampuan impromptu seorang penyanyi folk dan seorang imam piket yang kecolongan. Sementara cakel seorang marbot merekah di kejauhan seketika Jeje menghardik di langit surau, ‘Semua akan bangsat pada waktunya!’

Sajak itu direkam langsung dengan setelan sekali tancap, Jeje membiarkan kesalahan-kesalahannya tercetak. Lidah keseleo atau otak blank penyebab redundan. Dia melakukannya lagi di Serpihan Lendir Kobra, Blues Lendir. Sebuah sajak porno tentang jablay kampus bernama Maria, yang ceritanya digunting-tempel tak beraturan semacam dadaisme. Jeje menjejalkan koleksi kosakatanya seperti kolase abstrak Hannah Hoch. Dia mengacak konsonan seenak jidat, menyambar kesana kemari, menikmati hidup, tertawa, memainkan gitar blues seperti Boris Flowers.

Saya ingin menyebutnya sastra-blues tapi kemudian menganggap itu agak norak dan membayangkan reaksi Jeje sekarang ketika telah membaca sampai di bagian sini, mendorong saya untuk segera mengakhiri resensi dengan lebih cepat.

Jeje berasal dari pekerja kerah biru, sebelum merilis dua album yang mengubah jalan hidupnya, dia sempat bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran Jepang sambil merawat mimpi sebagai gitaris di band blues Stairway To Zinna. Jadi LGPGW dan Bapak Bos (Yang Lotnok) boleh dibilang merupakan suasana hati yang dibangkitkan dari tahun-tahun tersebut, tahun budak yang diperas, yang tidak tahu harus berbuat apa lagi sampai memutuskan untuk mengajak saja atasannya giting bareng, daripada, misalnya menumbuk rahangnya.  

Saya selalu suka sifat blak-blakan Jeje. Dia tidak takut menyatakan pikiran. Rimanya bernyali Harry Roesli dalam urusan mengejek dan lagu plesetan yang menikam di hati, baik tertuju kepada orang-orang yang mengesalkannya seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah, maupun dirinya sendiri yang kerap menuai gelisah. Kita bisa merasakannya bersama keremangan kamar kost ketika gitar kayunya dipetik, Jeje tengah berusaha ‘mencuri terang di lipatan malam,’ begitu katanya. Tak Selamanya Blues Itu Blues pun terasa sunyi bila cuma berteman kretek dan sekawanan Aedes Aegypti yang menari kekenyangan.   

Jeje mengerjakan album ini di tengah dua kondisi genting: tidak sehatnya pertarungan politik dalam negeri dan istrinya yang hamil anak pertama. Meskipun debut Akibat Pergaulan Blues berhasil mendongkrak pemasukan panggungnya, tapi tetap saja tidak menjamin. Tentu saja. Saya jadi ingat salah satu doa Jeje di album debut itu: ‘selalu jaga dan lindungilah aku, Tuhan. Dari honor yang kendor, lancangnya lembaga sensor, dan sekuriti penuh teror.’

Baca Juga: Flying Solo – Pamungkas

Menjadi seniman di Jakarta ibarat buruk muka cermin dibelah, antara munafik dan kompromi hanya terpisah benang tipis ngedumel sebagai satu-satunya hal berseni yang paling bisa dilakukan. Di Jakarta, di tanah geram penuh muslihat tempat orang-orang berkuasa seperti Luhut Panjaitan atau Aguan atau Munamarman mencari makan, kritik seniman disumpal dengan pembagian job. Seniman pun terpaksa menurut karena penghasilan mereka yang tak menentu. Jadi, siapa mau kaya, ayo ikut penguasa!

Tapi di luar itu semua, ternyata Tuhan mengabulkan doa Jeje. Lihat saja dia sekarang, tanpa harus berada di barisan seniman pro penguasa, ada lebih 3000 pantat duduk bersila mendengarkannya berpuisi tentang lipstik perempuan. Anak lelakinya juga sudah lahir dan Iwan Fals meenyanyikan lagu ciptaannya di atas panggung. Saya jadi terbayang Galang Rambu Anarki, yang juga lahir dalam kecemasan ayahnya, seorang seniman yang tidak mampu membeli susu untuk anaknya.

Pada konser Fals tempo hari kita bisa lihat bagaimana Jeje tersenyum, dia tertawa menikmati apa yang telah Jakarta berikan malam itu: Iwan Fals mengincar kontak mata dengannya tapi dia malah asyik tenggelam, matanya terpejam, kausnya kebesaran, menyenandung doa bagi Pak Sapardi – Djoko Damono, veteran roman yang dipersembahkannya tembang malu-malu pop robokop (rombongan bo’at kopi). Lagunya Begini, Nadanya Begitu. Ngocehnya ke sana, yang nulis ngablu . . . sial . . . tapi ngomong-ngomong tentang Pak Sapardi, saya tahu satu kutipan beliau yang saya kira punya temperamen senada dengan album ini.

‘Bukankah langit kosong tetapi isi?
Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?’
(Trilogi Soekram, 2015)

Verdict: 6,7/10.
Warning: Lagu-lagu bagus yang cuma dijuduli sekenanya berpotensi memperlihatkan isi dengkul seseorang yang kopong.  

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019
Iwan Fals

Lagu Ibu Pertiwi Ala Iwan Fals, Once, dan Fiersa Besari

Menjadi salah satu soundtrack film “Bumi Manusia” karya Hanung Bramantyo. Baca Juga: Mondo Gascaro Garap Ulang Single Apatis dari Benny Soebardja S

on Aug 12, 2019