×
×

Search in Mata Mata Musik

Sengatan SCORPIONS & WHITESNAKE Mengguncang JogjaROCKarta Festival 2020 Bag. 2

Posted on: 03/4/20 at 9:01 am

God Bless menjadi band yang paling sering tampil di JogjaROCKarta.
God Bless menjadi band yang paling sering tampil di JogjaROCKarta.

Hari-H Menjadi Jogja’RAIN’karta

Seperti Sabtu kemarin, cuaca kota Yogyakarta tidak bersahabat. Minggu, 1 Maret pun disambut oleh hujan sejak pagi harinya dan syukurlah sempat reda sehingga jam 11 siang kami bisa berangkat menuju venue legendaris Stadion Kridosono. Selain memiliki nilai historis yang tinggi karena dibangun sejak era kolonial Belanda, tempat ini menjadi langganan bagi banyak konser terutama JogjaROCKarta. Keistimewaannya tentu karena lokasinya berada di tengah kota, wilayah Kotabaru, dekat dengan Malioboro dan Benteng Vredeburg sebagai ikon utama para pendatang dan wisatawan, stasiun Lempuyangan, pusat niaga pasar Beringharjo, dan mungkin beberapa alasan lainnya.

Baca juga: Sengatan SCORPIONS & WHITESNAKE Mengguncang JogjaROCKarta Festival 2020 Bag. 3

Antrian menuju pintu masuk venue JogjaROCKarta Festival 2020.
Antrian menuju pintu masuk venue JogjaROCKarta Festival 2020.

Sekitar jam 12 siang setelah kami meregistrasi media kami, tiba-tiba turun hujan deras dan kami lantas berteduh di tenda ticket box sambil kongkow. Antrian calon penonton di depan ticket box pun spontan bubar dan ikut berteduh di dalam tenda. Setelah hujannya agak berkurang dan hanya gerimis namun konstan, tidak lama kemudian terlihat banyak orang yang mengenakan jas hujan, demikian pula dengan kami yang membeli jas hujan berbandrol di atas harga pasaran dari pedagang ‘aji mumpung’. What the hell, kami harus segera keluar tenda untuk mencari makan siang sebelum pukul 14:30 wib, jadwal penampilan band pertama yang sangat kami tunggu, Death Vomit.

Pintu masuk venue JogjaROCKarta Festival 2020.
Pintu masuk venue JogjaROCKarta Festival 2020.

Fyi, terjadi perubahan rundown yang diumumkan pada H-1 dengan urutan: Death Vomit – Kelompok Penerbang Roket – Navicula – God Bless – The Hu – Powerslaves – Whitesnake – Scorpions. Rundown sebelumnya: Powerslaves – Kelompok Penerbang Roket – Navicula – Death Vomit – The Hu – God Bless – Whitesnake – Scorpions. Pukul 14:30 wib pun sudah terlewati namun belum ada suara yang keluar dari sound system. Hujan yang tak kunjung henti menjadi alasan kuat molornya jadwal. Baru sekitar pukul 15:20 wib, terdengar suara musik bergemuruh dari luar Stadion yang kami pikir Death Vomit sudah main. Kami lantas bergegas masuk ke venue dan terkejut ternyata Kelompok Penerbang Roket yang sedang beraksi di panggung. Kebingungan tentang jadwal Death Vomit lantas hilang sejenak ketika saya menikmati penampilan trio heavy rock retrospektif asal Jakarta ini menggelontorkan deretan nomor andalannya; ‘Anjing Jalanan’, ‘Target Operasi’, ‘Berita Angkasa’, ‘Dikejar Setan’, dan tentu saja, ‘Mati Muda’. Usai Kelompok Penerbang Roket turun panggung, muncul pengumuman di layar besar di kiri dan kanan panggung bahwa Death Vomit tidak bisa tampil karena kendala cuaca yang tidak memungkinkan sehingga mengakibatkan teknis di lapangan terganggu.

Pintu masuk Festival A JogjaROCKarta Festival 2020.
Pintu masuk Festival A JogjaROCKarta Festival 2020.

Seperti kita ketahui berdasarkan rundown awal Death Vomit akan tampil urutan ke empat pada pukul 17:15 wib. Usut punya usut, ternyata perubahan dadakan ini lantaran Scorpions yang membutuhkan waktu persiapan waktu jauh lebih panjang hingga satu jam sebelum tampil, sementara penampil sebelumnya, Whitesnake tidak mungkin merubah set list, maka dengan berbagai pertimbangan terjadi perubahan rundown. Alhasil, dedengkot death metal Jogja ini tampil sebagai band pertama dengan jadwal maju 30 menit dari rencana semula, yaitu jam 14:30 wib (semula direncanakan acara dimulai pukul 15.00 wib). Menurut pernyataan resminya, mereka tidak mempermasalahkan sedikitpun perubahan jadwal tersebut dan berusaha akan tampil secara maksimal.

Pemandangan warna-warni JogjaROCKarta Festival 2020.
Pemandangan warna-warni JogjaROCKarta Festival 2020.

Namun saat jadwal waktu tiba, ternyata kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk menyalakan sistem kelistrikan dan audio karena hujan lebat yang berisiko tinggi. Hingga waktu berjalan jadwal pementasan sudah tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, karena jika memaksakan tetap tampil akan mengganggu keseluruhan rundown acara, sehingga Death Vomit terpaksa tidak dapat tampil. Secara profesional pihak Rajawali Indonesia selaku penyelenggara acara sudah memberi keleluasaan kepada mereka untuk tetap tampil pada waktu yang tersisa, namun karena pertimbangan risiko dan optimalisasi penampilan maka disepakati untuk tidak memaksakan untuk tampil. Sungguh berjiwa besar pahlawan death metal panutanku ini.

Pengumuman batal tampilnya Death Vomit di layar kiri dan kanan panggung.
Pengumuman batal tampilnya Death Vomit di layar kiri dan kanan panggung.

Selain membuat becek lapangan Stadion Kridosono, hujan juga membuat pemandangan festival rock dan metal ini agak berbeda dari biasanya yang didominasi pakaian serba hitam. Kali ini mayoritas penonton berpakaian warna-warni mentereng, ada yang biru, hijau, oranye, kuning, yang tidak lain adalah jas hujan mereka, hahaha. Dan yang disayangkan juga, area VIP yang menyediakan kursi-kursi menjadi basah karena tanpa atap penutup yang dapat melindungi dari terik panas ataupun hujan. Alhasil, tidak sedikit penonton pemegang tiket VIP belum mau duduk di area tersebut sebelum hujan reda. Itulah kenapa saat siang area VIP tidak terisi penuh walau tiket VIP sudah sold out.

Navicula on stage.
Navicula on stage.

Selanjutnya panggung digetarkan oleh penampilan garang sekaligus menawan dari Navicula. Kuartet pengusung alternative rock asal Bali ini mampu memotivasi penonton di festival A untuk merangsek ke depan panggung dengan lagu-lagu pembuka bernuansa ‘psychedelic grunge’-nya, yakni ‘Di Depan Layar’ dan ‘Biarlah Malaikat’. Sambil terus ditimpa rintik-rintik gerimis, terlindungi jas hujan penonton terlihat cuek dan mulai ber-sing along ketika ‘Busur Hujan’ berkumandang dan dilanjutkan ‘Mafia Hukum’ yang mendapat respons lebih heboh. Frontman Robi (vokal/gitar) kemudian mengajak penonton untuk menurunkan tensi sejenak dengan ‘Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti’ sebelum akhirnya menaikkan tensi kembali dengan ‘Metropolutan’ sebagai lagu penutup.

Navicula on stage.
Navicula on stage.

Momentum God Bless

Sekitar jam 5 sore, hujan akhirnya berangsur reda dan banyak penonton yang mulai melepas jas hujannya. Suasana kondusif ini merupakan berkah dan siap menyambut God Bless, band hard rock legendaris Tanah Air yang paling sering tampil di JogjaROCKarta Festival. Dengan ini terhitung sudah tiga kali God Bless tampil dari empat kali penyelenggaraan JogjaROCKarta. Meski demikian, band yang telah menjalani karier selama lebih dari 40 tahun ini tetap ditunggu para penggemar loyalnya. Dan kehadiran God Bless kali ini sengaja dijadikan momentum spesial. Pada konferensi pers kemarin, Anas Syahrul Alimi, founder JogjaROCKarta ini mengatakan bahwa khusus tahun ini, ia ingin mempertemukan God Bless dengan David Coverdale (Whitesnake) setelah 45 tahun yang lalu. Pada 1975, David Coverdale pertama kali datang ke Indonesia untuk konser bersama Deep Purple di Stadion Senayan, Jakarta. Dan God Bless didaulat menjadi band pembukanya.

Ahmad Albar, usia tidak menyurutkan semangat nge-rocknya.
Ahmad Albar, usia tidak menyurutkan semangat nge-rocknya.

“Ini peristiwa musik yang luar biasa, David Coverdale yang pernah menjadi vokalis Deep Purple, dan mereka pernah tampil di Jakarta (1975) dengan God Bless sebagai band pembuka. Setelah 45 tahun, David ketemu lagi dengan God Bless. Whitesnake juga akan membawakan beberapa lagu Deep Purple. Kami ingin mempertemukan God Bless kali kedua dengan David,” kata Anas.

God Bless yang formasi terakhirnya dihuni oleh vokalis Ahmad Albar, gitaris Ian Antono, bassis Donny Fattah, kibordis Abadi Soesman, dramer Fajar Satritama membuka performa aksinya dengan ‘Bla Bla Bla’ dan disusul ‘Kehidupan’, ‘Sesat’ dan ‘Musisi’ yang langsung membuat para penonton nampak semakin banyak memadati area festival A dan B sejak hujan reda.

Ian Antono, gitaris dan komposer musik God Bless.
Ian Antono, gitaris dan komposer musik God Bless.

Satu hal yang patut diapresiasi dari God Bless adalah semangat mereka. Seperti kita tahu, para personil God Bless bisa dikategorikan ‘aki-aki’ namun mereka masih mampu memberikan energi yang besar.

Ahmad Albar yang saat ini berusia 73 tahun bahkan tetap menyanyikan lagu-lagunya secara all out, meski ia sering menyodorkan mikrofonnya ke penonton pada lagu-lagu hit-nya; ‘Rumah Kita’ dan ‘Panggung Sandiwara’. Tetapi Om “Iyek” (panggilan akrab Ahmad Albar) tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Mampu menjangkau nada-nada tinggi walau tidak sebagus zaman ia muda.

Om "Iyek" a.k.a Ahmad Albar yang masih memiliki vokal rock yang lantang.
Om “Iyek” a.k.a Ahmad Albar yang masih memiliki vokal rock yang lantang.

Setelah menggeber lagu slow rock super lawas ‘Cermin’, God Bless memberi kejutan dengan ‘Maret 1989’. Lagu yang menurut para penggemar beratnya juga dikenal dengan ‘The Satanic Verses’ ini sangat jarang dibawakan di pentas-pentas lain. Sejak dimulai riff ikonik awal lagu itu, banyak penonton yang terlihat ‘blingsatan’ saking excited-nya sambil ber-sing along. “Ayat setan yang kau terbitkan membakar perasaan manusia!” lantun Ahmad Albar lantang. Ribuan ‘devil horns’ (salam dua jari) mengacung di udara usai lagu itu dan dilanjutkan dengan lagu pamungkas, ‘Semut Hitam’, sebuah nomor anthemic yang selalu ada pada tiap set list God Bless. Sayang sekali, setelah itu seharusnya God Bless memainkan nomor kencang, ‘Trauma’ sebagai lagu penutup namun batal karena pergeseran waktu.

Baca juga: Sengatan SCORPIONS & WHITESNAKE Mengguncang JogjaROCKarta Festival 2020 Bag. 1

Donny Fattah, founder God Bless.
Donny Fattah, founder God Bless.

Usai God Bless pamit, giliran “ISOMA” tampil alias Istirahat Sholat Magrib, hehehe. Tersedia mushola di dalam venue bagi penonton Muslim. Fasilitas di dalam venue terlihat cukup memadai, hampir semuanya mobile, dari toilet, makanan-minuman hingga mesin ATM serta ada beberapa booth seperti official merchandise dan lain-lain.

Bersambung…

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi
Foto-foto: Adi Wirantoko

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Che Cupumanik dan Robi Navicula

Che Cupumanik & Robi Navicula Rilis 'Jiwa Yang Berani' Untuk Rock Memb...

Robi (Navicula) dan Che (Cupumanik). Pada saat menjelang proses perilisan buku Rock Memberontak, sekitar tahun 2015. Vokalis Cupumanik, Che mengusulkan ide

on Oct 27, 2020
Kelompok Penerbang Roket Vs Ash-Shur

Turnamen Babak 3 – Side A: Kelompok Penerbang Roket Vs Ash-Shur. Vot...

Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau Twitter lo atau bikin akun sebentar di Disqus.

on Aug 25, 2020
Turnamen Lagu Rock Indonesia

Turnamen Lagu Rock Indonesia Terbaik 2020 Babak 3 – Vote 4 Battle!

Diagram Turnamen Lagu Rock Indonesia Babak 3. Hasil Voting dan Pemenang Turnamen Lagu Rock Indonesia Terbaik 2020 Babak 1 yang menghasilkan 4 battle di bawa

on Aug 25, 2020
KPR vs Sukamaju

Turnamen Babak 2 – Side A: Kelompok Penerbang Roket Vs Sukamaju. Vot...

Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau Twitter kamu atau bikin akun sebentar di Disqus.

on Aug 13, 2020