×
×

Search in Mata Mata Musik

Sengatan SCORPIONS & WHITESNAKE Mengguncang JogjaROCKarta Festival 2020 Bag. 3

Posted on: 03/4/20 at 9:02 am

Scorpions sukses membuat penonton susah move on JogjaROCKarta 2020.
Scorpions sukses membuat penonton susah move on JogjaROCKarta 2020.

The Hu dan Powerslaves

Pasca break Magrib, acara dilanjutkan oleh The Hu yang menjadi sensasi internasional di blantika musik rock yang setahun terakhir ini telah tampil di banyak festival rock bergengsi di Eropa dan Amerika. Band asal Ulaanbaatar, Mongolia ini mengusung Folk Hard Rock dengan kombinasi instrumen band dan instrumen tradisional Mongol seperti Morin Khuur (biola kepala kuda) dan Tovshuur (gitar Mongolia) serta vokal parau ala Mongolian. Sebutannya adalah “Hunnu Rock”, sebuah gaya bermusik yang menggabungkan headbanging ala Barat dengan instrumen etnik yang memberi warna tersendiri di JogjaROCKarta Festival 2020. Penampilan mereka pun ditunjang oleh kualitas tata suara yang apik sehingga tetap menjadi tontonan yang menarik walau sebagian besar penonton tidak familiar dengan lagu-lagunya.

Baca juga: JogjaROCKarta Festival 2020 Highlights (Recap Video)

The Hu memberikan warna tersendiri bagi JogjaROCKarta 2020.
The Hu memberikan warna tersendiri bagi JogjaROCKarta 2020.

Lanjut, Powerslaves, band hard rock lawas asal Semarang yang besar namanya di era tahun ‘90an ini tentu saja menyuguhkan sederet hits yang bernuansa nostalgia. Penampilan Heydi Ibrahim (vokal), Anwar Fatahillah (bass), dan Wiwiex Soedarno (kibor) pun membuat suasana semakin bergairah. Seperti biasa, mereka dibantu oleh additional musicians; Ambang Christ (gitar), Roby Rahman (gitar), dan Anton (dram). Mereka membuka penampilannya dengan lagu ‘Insiden Mie’ dan disusul ‘Metal Kecil’, yang juga merupakan judul album debut rilisan 1994. Usai berjingkrakan dengan lagu tersebut, penonton kemudian diajak menurunkan emosi dengan lagu ‘Impian’ dan terus dilanjutkan dengan dua nomor slow rock ‘Jika Kau Mengerti’ dan ‘Malam Ini’ yang sepertinya malam itu mereka mainkan dengan penuh improvisasi.

Heydi dan Wiwiex dari Powerslaves.
Heydi dan Wiwiex dari Powerslaves.

Tiba di penghujung konser, mereka kembali mengajak penonton berjingkrakan. Lagu ‘100% Rock n Roll’, yang juga merupakan theme song sinetron ‘Anak Langit’ di SCTV digeber maksimum sehingga meninggalkan kenangan manis kepada para Slavers (sebutan penggemar Powerslaves).

Ular Putih Yang Berbisa

Whitesnake, tua-tua keladi.
Whitesnake, tua-tua keladi.

Para penonton segera merangsek ke depan setelah logo Whitesnake terpampang di layar backdrop digital panggung sehingga area festival A menjadi lebih padat dan festival B yang areanya lebih luas pun terlihat hampir separuhnya dipadati penonton. Diperkirakan sekitar 17.000 penonton yang hadir malam itu dan merupakan jumlah terbanyak jika dibandingkan dengan gelaran JogjaROCKarta tahun-tahun sebelumnya. Persiapan penampilan Whitesnake cukup memakan waktu yang lama walau tidak sampai satu jam. Meski sudah tidak sabar, para penggemar Whitesnake tetap setia menunggu idolanya.

Whitesnake konsisten cadas di album barunya, Flesh & Blood.
Whitesnake konsisten cadas di album barunya, Flesh & Blood.

Ketika jarum jam ke arah angka 9, personil Whitesnake muncul satu per satu yang spontan disambut sorak sorai penonton dan sang frontman David Coverdale langsung memberi komando kawan-kawannya untuk menggeber lagu pembuka ‘Bad Boys’, sebuah nomor heavy metal dari album ‘Whitesnake’ rilisan 1987 yang menendang bokong sampai merah. Secara visual, kami dibuat terkesima dengan penampilan para musisi ‘tua-tua keladi’ ini yang masih sangat enerjik, dan ditunjang oleh variasi panorama gambar digital backdrop berupa layar LED berukuran sangat besar dan tata cahaya yang memukau di sepanjang konser. Secara audio, tata suaranya pun terdengar menampar dan balance instrumen satu dengan lainnya. Terutama vokal David Coverdale yang tetap prima. Usia hanyalah sebuah angka belaka bagi rocker gaek berusia 68 tahun ini. Gayanya yang masih flamboyan serta begitu lincah berjalan dan berlari ke sana ke sini tak ubahnya melihat performa panggungnya di era ‘80an.

David Coverdale, the mastermind.
David Coverdale, the mastermind.

Lagu berikutnya Whitesnake menurunkan tempo dengan ‘Slide It In’ yang sarat groove ciamik dan dilanjutkan ‘Love Ain’t No Stranger’ yang sama-sama diambil dari album Slide It In (1984). Selain lagu-lagu lawas, Whitesnake juga menggeber lagu-lagu dari album baru rilisan 2019-nya, salah satunya ‘Hey You (You Make Me Rock)’. Meski tidak bertempo cepat, lagu ini tetap cadas dengan garukan riff dan sound yang berat. Kelebihan Whitesnake yang patut diapresiasi lebih adalah musik mereka yang konsisten di jalur hard rock yang bernafaskan heavy metal sejak band ini terbentuk 40 tahun yang lalu.

Kemudian Whitesnake mencoba menurunkan tensi musiknya dengan menggeber ‘Slow an’ Easy’ yang kental corak rock and roll-nya sebelum akhirnya menurunkan emosi penonton dengan melantunkan cover song milik Bobby “Blue” Bland yang slow dan bernuansa blues ‘Ain’t No Love in the Heart of the City’ dan mengajak penonton nyanyi bareng di bagian refrainnya yang berhasil tercipta kur massal yang kompak. Usai lagu tersebut, Whitesnake kembali menaikkan tegangan musiknya dengan ‘Trouble Is Your Middle Name’ dari album baru yang memotivasi penonton untuk berjingkrak-jingkrak.

Joel Hoekstra dan Reb Beach saat duel gitar.
Joel Hoekstra dan Reb Beach saat duel gitar.

Sebelum Whitesnake memainkan ‘Shut Up & Kiss Me’ yang merupakan singel dari album barunya, terdapat aksi ‘Guitar Wars’, duel solo gitar antara Joel Hoekstra dan Reb Beach yang saling pamer skill terbaiknya. Masing-masing menampilkan teknik shredding yang gila dan membuat penonton histeris kagum. Bahkan usai lagu baru tersebut dimainkan, giliran aksi dram solo Tommy Aldridge yang membuat kita geleng-geleng kepala. Lagi-lagi, age is just a number, pria berusia 69 tahun ini menggebuk perangkat dramnya masih sangat powerful dengan isian yang padat dan yang lebih gilanya, di sesi terakhir ia menghajar seluruh bagian dramnya hanya menggunakan tangannya setelah membuang stik dramnya. Telapak tangannya mungkin sudah terlindungi sarung tangan khusus, jika tidak pasti bakal nyut-nyutan setelah manggung, hehe.

Tommy Aldridge.
Tommy Aldridge. Sang penyiksa dram.

Salah satu dari deretan lagu hits Whitesnake yang ditunggu-tunggu akhirnya dilantunkan secara elegan, apalagi kalau bukan ‘Is This Love’. Sebuah nomor slow rock ballad yang nyaris menutup vokal David Coverdale di bagian refrainnya oleh suara kur massal sebagian besar penonton yang ber-sing a long di sepanjang lagu. Tak terkecuali Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang terlihat sangat menikmati lagu tersebut dari awal sampai habis. Seperti Presiden Jokowi, Pak Ganjar juga seorang penggemar musik rock.

Joel Hoekstra, gitaris yang paling atraktif.
Joel Hoekstra, gitaris yang paling atraktif.

Sebelum memberikan lagu hit besar lainnya, Whitesnake menggeber dua lagu yang murni hard rock, yakni ‘Fool For Your Loving’ dan ‘Give Me All Your Love’ yang sangat mengentak. Apakah lagu hit lainnya itu? Apa yang kamu harapkan? Tentu saja, ‘Here I Go Again’ yang kembali berhasil menciptakan bahana sing a long penonton. Sebuah lagu yang memorable bagi setiap penggemar Whitesnake. Selepas lagu ini, lagu anthem berdaya heavy metal tradisional nan eksplosif berjudul ‘Still of the Night’ yang memprovokasi ribuan penonton untuk headbanging mengikuti riffing dan hentakan ganas musiknya. Sebuah nomor pamungkas berdurasi panjang dan epik. Pada saat riffing ikonik di bagian tengah lagu sebelum masuk solo gitar telah memancing ribuan tinju-tinju di udara sambil berteriak “Hey!” berulang kali yang dipandu oleh David Coverdale.

David Coverdale, rocker sepanjang zaman.
David Coverdale, rocker sepanjang zaman.

Namun sayang sekali, usai lagu tersebut mereka langsung pamit ke penonton dan tidak ada lagu encore yang sudah direncanakan, yaitu lagu Deep Purple era David Coverdale berjudul ‘Burn’ yang dijamin bakal ‘pecah’ jika dibawakan. Lagu ini sekaligus untuk mengenang konser Deep Purple pada 1975 silam di Jakarta bagi David Coverdale maupun God Bless dan para penggemar lawas dari era tersebut yang mana telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia. Satu hal yang pasti, “Ular Putih” ini memang legenda hidup yang masih “berbisa”.

Sengatan Kalajengking Yang Berbahaya

Klaus Meine, tampil dengan semangat membara.
Klaus Meine, tampil dengan semangat membara.

Setelah Ular Putih kembali ke sangkarnya, giliran Kalajengking yang bakal unjuk keganasannya. Persiapan penampilan Scorpions memakan waktu yang lebih lama daripada Whitesnake. Kurang lebih satu jam para kru Scorpions berjibaku di atas dan bawah panggung. Semua penonton tidak ada yang beranjak dari posisinya sejak kelar penampilan Whitesnake kecuali kebelet ingin ke toilet dan hal-hal emergency lainnya.

Sekitar pukul 22:30 wib, satu per satu personil Scorpions muncul ke panggung yang tentu saja disambut meriah gila-gilaan oleh seluruh penonton. Performa aksi Scorpions dibuka oleh lagu yang cukup menggebrak, ‘Going Out With a Bang’ dari album terakhirnya, Return to Forever (2015) dan terlihatlah betapa tidak sia-sia persiapan waktu yang lebih lama tersebut, dengan hasil akhir yang memang lebih ‘Wow!’. Digital backdrop berupa layar LED-nya kali ini berukuran lebih besar dengan menambah bagian bawah level panggung sehingga terasa tidak ada celah, full animation sehingga membuat sedap dipandang ribuan pasang mata di sepanjang konser. Tata cahaya dan suaranya? Lebih go-kill! Singkat kata, mewah! Jerman tiada lawan!

Scorpion tampil megah menandakan kebesaran nama band ini.
Scorpion tampil megah menandakan kebesaran nama band ini.

Lidah panggung berukuran 9 meter benar-benar dimanfaatkan vokalis Klaus Meine, duo gitaris Rudolf SchenkerMatthias Jabs, dan bassis Pawel Maciwoda melakukan aksi blocking panggung yang benar-benar atrakif. Sepertinya memang sudah menjadi bagian dari konsep live performance Scorpions. Meski stage act Klaus Meine tidak selincah David Coverdale, frontman berusia 71 tahun ini masih terlihat enerjik dan begitu bersemangat di sepanjang konser.

Pawel, Rudolf, Matthias, Klaus.
Pawel, Rudolf, Matthias, Klaus.

Namun selanjutnya, Scorpions menggeber nomor-nomor lawas dari album Animal Magnetism (1980), yakni ‘Make It Real’, ‘The Zoo’, dan ‘Coast to Coast’ dari album Lovedrive (1979). Meski Scorpions tampil enerjik dengan kemegahan audio-visual, sebagian besar penonton terlihat tidak familiar dengan lagu-lagu tersebut. Demikian halnya saat menggeber komposisi panjang medley ‘Top of the Bill / Steamrock Fever / Speedy’s Coming / Catch Your Train’. Bahkan setelah itu Scorpions kembali menggeber lagu ‘We Built This House’ dari album terakhirnya dan disusul oleh nomor instrumental ciamik, ‘Delicate Dance’ yang menonjolkan solo gitar Matthias Jabs. Hanya penggemar fanatik Scorpions yang betul-betul menikmatinya karena sebagian besar penonton di sini adalah penggemar Scorpions yang hanya menikmati lagu-lagu mainstream hits-nya saja. Bukan penggemar yang memiliki koleksi diskografi album fisiknya. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Karena berkat hits itulah band ini menjadi sangat besar dan lebih mendunia. Tetapi mungkin alangkah baiknya jika Scorpions menyesuaikan set list-nya dengan porsi yang pas alias seimbang. “Ya itu derita lo,” kalau kata seorang die-hard fan Scorpions yang identitasnya tidak bisa disebutkan.

Duo shredder, Rudolf Schenker dan Matthias Jabs.
Duo shredder, Rudolf Schenker dan Matthias Jabs.

Dan tibalah saatnya Scorpions berhasil menyihir ribuan penonton dengan salah satu hits dari album Crazy World (1990), ‘Send Me an Angel’. Sebuah nomor slow rock yang elegan dan langsung disambung oleh super mega hit yang menceritakan runtuhnya tembok Berlin yang memisahkan antara blok Timur dan Barat yang merupakan “Angin Perubahan” bagi rakyat Jerman, inilah lagu yang paling ditunggu-tunggu akhirnya berkumandang, ‘Wind of Change’. Tak karuan lagi deh reaksi penonton sejak pertama kali mendengar suara siulan ikonik Klaus Meine. Selain menciptakan kur massal yang paling kencang, terdengar riuh histeria massal yang turut memekakkan telinga, membuat suasana malam itu mengharu biru namun tertib dan damai. Usai lagu rock sepanjang masa tersebut, lagu dari album yang sama digeber dan mengajak penonton berjingkrakan, ‘Tease Me Please Me’.

Schenker-Jabs.
Schenker-Jabs.

Setelah Whitesnake, kurang afdol jika Scorpions tidak menyuguhkan aksi solo dram. Mikkey Dee yang mulai bergabung dengan Scorpions sejak 2016 telah dikenal terlebih dahulu ketika ia bermain bersama Motorhead. Bahkan sebelumnya ia pernah memperkuat formasi King Diamond dan Don Dokken. Pria berusia 56 tahun ini memamerkan drumming skill-nya yang tidak kalah gila dengan Tommy Aldridge. Perbedaannya Mikkey lebih banyak memainkan dobel pedal kick-nya sehingga terasa lebih metal dengan bass dram yang menderu-deru. Kerennya, begitu Mikkey selesai menyiksa perangkat dramnya, digital backgrop panggung langsung menayangkan 18 cover album studio Scorpions yang menandakan bahwa durasi dram solonya telah di-preset. Canggih.

Rudolf Schenker.
Rudolf Schenker.

Kemudian Klaus, Rudolf, Matthias, dan Pawel kembali muncul ke panggung dan mereka langsung membawakan nomor lawas ‘Blackout’. Dan disusul ‘Big City Nights’ yang menggetarkan tanah lapangan Kridosono. Usai lagu ini, seluruh personil Scorpions maju ke lidah panggung untuk berterima kasih ke penonton seperti mau pamit. Penonton lantas teriak “We Want More!” berkali-kali memohon untuk sesi encore. Melihat itu semua membuat Klaus tersenyum lebar. Tentu saja, ini sudah menjadi bagi dari set mereka. Kemudian Klaus dan Rudolf tetap di ujung lidah panggung sebelum akhirnya terdengar petikan manis gitar Rudolf memainkan intro lagu ‘Still Loving You’. Sudah terbayanglah apa yang terjadi pada saat masuk bagian refrain lagu ini. Meski ini lagu slow rock, lagu ini memiliki daya magis yang kuat, mampu menghipnotis ribuan penonton larut dalam relung jiwa lagu ini yang emosional. Terlihat penonton wanita yang bergelinang air mata sambil mengikuti lirik yang dinyanyikan Klaus dengan nada lirih dari awal sampai akhir: “If we’d go again, All the way from the start, I would try to change, Things that killed our love, Your pride has built a wall, so strong, That I can’t get through, Is there really no chance, To start once again, I’m still loving you!”. Meski ini lagu yang menceritakan perasaan cinta ke seorang mantan kekasih, sial, tetap saja saya Goosebump! Hahaha. “I love you, Klaus!” teriak para penonton kaum Hawa maupun Adam. Tidak berhenti sampai di situ, usai lagu itu Klaus langsung lanjut membawakan lagu ballad lawas ‘Holiday’ yang kembali menciptakan kur massal.

Klaus Meine.

Meski ada sederet hits Scorpions yang tidak dibawakan seperti ‘No One Like You’, ‘You And I’, dan ‘Always Somewhere’, yang menurut sebagian besar penonton seharusnya beberapa lagu di awal set list diganti dengan lagu-lagu hits tersebut, konser Scorpions tetap berakhir klimaks dengan lagu penutup yang sangat anthemic, tentu saja, ‘Rock You Like a Huricane’.

Baca juga: Sengatan SCORPIONS & WHITESNAKE Mengguncang JogjaROCKarta Festival 2020 Bag. 2

Sengatan Scorpions di usia kariernya yang lebih dari 50 tahun ini memang tetap ganas. Scorpions meninggalkan impresi kepada ribuan penonton yang tidak bisa move on dari JogjaROCKarta 2020 ini. Sampai ketemu di tahun berikutnya. Rock never die!

– Tamat –

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi
Foto-foto: Adi Wirantoko

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Homer Simpson di cover album Slayer dan Alice in Chains.

Artwork Album Rock dan Metal Dibikin Versi Karakter Kartun ‘The Simp...

Homer Simpson di cover album Slayer dan Alice in Chains. (album rock The Simpsons) Poster parodi karakter Bart Simpson dari album Nirvana, Nevermind, telah

on May 17, 2020
Scorpions

Scorpions Sanggah Rumor Lagu ‘Wind Of Change’ Ditulis Oleh CIA

Klaus Meine (Scorpions). (Foto: Wagner Meier/Getty Images). Seorang jurnalis dari New Yorker bernama Patrick Radden Keefe baru-baru ini meluncurkan podcast

on May 14, 2020
Scorpions.

Scorpions Ungkap Harapannya Kepada Dunia Melalui Single Baru ‘Sign O...

Klaus Meine saat Scorpions tampil di JogjaROCKarta Festival 2020. (Foto: Adi Wirantoko). Legenda hard rock Jerman Scorpions telah merilis single baru yang m

on Apr 30, 2020
Scorpions

Scorpions Terpaksa Rekaman Album Baru Secara Social Distancing

Klaus Meine, vokalis Scorpions. (Foto: Adi Wirantoko). Pentolan Scorpions, Klaus Meine, berbicara kepada situs penggemar Scorpions News tentang album studio

on Apr 28, 2020