×
×

Search in Mata Mata Musik

Sindir Budaya Konsumsi Musik Digital, Fakecivil Merilis Album Fisik Seharga Rp 2.000

Posted on: 02/1/20 at 9:00 am

Fakecivil.
Fakecivil (ki-ka): Lody, Ilham, Dennis, Arto (Foto: dok. Fakecivil).

Fakecivil merilis album perdananya yang berjudul Resistensi Musik Bejat, yang memuat delapan lagu simbol perlawanan atas pengekangan kebebasan. Direkam di tengah suhu panas politik. Saat intoleransi menguat, kriminalitas marak, aktivis dikriminalisasi polisi, dan tentara pukuli petani.

Resistensi Musik Bejat merekam sejarah perjalanan satu abad negeri ini di dalam situasi politiknya yang represif. Direkam di dua studio, yakni EC3 Studio milik dramer Edane dan Godbless, Fajar Satritama dan Venom Studio milik Pipinx gitaris Straightout.

Fakecivil diperkuat oleh Lody Andrian (vokal, gitar), Paulus Tandiarto (gitar), Dennis Destryawan (bass), dan Elham Arrazag (dram). Kolektif thrash metal ini dipertemukan dari kesamaan mereka yang gemar protes di ruang-ruang kelas SMA. Keempatnya sepakat untuk bermusik dengan subyek protes yang lebih luas, yakni kondisi sosial di sekitar yang semakin semrawut.

“Konsep kami berbeda dengan Seringai, yang dalam liriknya menulis, ‘Tidak lagi punya keluhan dan hidupnya seolah liburan’. Justru sebaliknya, kami memupuk kekesalan dan keluhan dalam Resistensi Musik Bejat,” ujar Dennis.

Di awal tahun, Fakecivil lebih dulu merilis single Deranged Gunmen dan video Mental Negara Jajahan, sebagai peluru menuju peletupan album Resistensi Musik Bejat pada 1 Februari 2020. Asal-usul musik Fakecivil melekat dengan konteksnya.

“Fakecivil lahir di Bekasi, kota industri dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Kota kelas pekerja yang memiliki lebih dari 4.000 pabrik. Tapi 180 ribu orang menganggur. Sementara 7 ribu orang mengais rezeki dari sampah di Bantar Gebang,” ujar Lody.

Menurut Lody, Bekasi adalah mimpi buruk ketimpangan sosial. Orang kaya baru berdatangan. Ambisi pembangunan membuat orang miskin menjadi kelompok yang terpinggirkan dan kehilangan jati diri. Menciptakan beragam motif kejahatan. Berandalan berseliweran. Membawa senjata tajam saat malam. Siap menikam demi lima ribu rupiah. Lima tahun (2013-2017) angka kriminal di Bekasi mencapai 17.898. Tertinggi se-Jawa Barat.

“Bahkan teroris dan ekstrimis lahir dari sini. Nuansa dan suasana ini adalah kehidupan kami sehari-hari. Jelas ini terrefleksikan di detik pertama kami memegang alat musik. Nada yang kami keluarkan tidak ‘enak’, seperti pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Ini yang kemudian membuat musik Fakecivil jadi kasar, canggung, dan agresif,“ ujar Lody.

Proses kreatif album Resistensi Musik Bejat dibuat di sela-sela pemilihan kepala daerah Jakarta dan pemilihan presiden 2019. Ketika demokrasi dijadikan bola mainan, saat algoritma mendikte birokrat untuk menggoreng isu agama, korporat dibela mati-matian, sementara petani ditikam habis-habisan.

“Keresahan-keresahan itu kami tuangkan dalam lagu ‘Mental Negara Jajahan’, di situ kami mencoba jadi amplifier buat berita buruk yang tidak pernah didengar dan terabaikan,” celetuk Dennis.

Musik, bagi Fakecivil bisa berperan sebagai pelantar yang mampu mendisrupsi kesadaran masyarakat di tengah politik yang semakin represif. Di dalam lagu yang berjudul ‘Polishit’, Fakecivil menceritakan bagaimana aparatur negara masih rajin mengeruk warga lewat pungutan liar, sementara masyarakat kecil terus ditindas.

“Masih dipukuli aparat, masih ditembak tanpa hukuman setimpal. Kami perlu menyuarakan ini, demi Budi Pego, Munirwan, Sriwogo, dan para petani lain yang dikriminalisasi. Meski di panggung kecil skala 50 orang, teriakan itu akan kami gaungkan sampai penjuru negeri. Maka dari itu ada kata ‘Resistensi’ di dalam Resistensi Musik Bejat,” ujar Lody.

Kembali aktif pada tahun 2016, Fakecivil mengemban aliran thrash metal yang banyak dipengaruhi oleh Sepultura, Pantera dan Black Sabbath. Namun dalam aransemen musiknya banyak ditemukan artefak dari berbagai genre musik, mulai dari ketukan nakal ala band progressive rock Renaissance, hingga musik simplistik dan straight-forward punk ala The Clash.

Fakecivil berkolaborasi dengan sederetan musisi di dalam Resistensi Musik Bejat, mereka adalah: Biman dari Rajasinga di lagu ‘Terimplasi Oksigen’, Rudi Dian eks-Jeruji di ‘Deranged Gunmen’, Pipinx dari Straightout di ‘Revolution War’, dan Atenx dari Panic Disorder di lagu ‘Jack Out of the Hell’.

Rilis pada 1 Februari 2020, Fakecivil hanya mencetak album fisik Resistensi Musik Bejat dalam format cakram padat (CD) sebanyak 200 keping dan dijual dengan harga Rp 2.000 di bawah bendera Molotov Records. “Kami sengaja jual dengan harga yang kelewat murah. Ini adalah bentuk sindiran kami terhadap minimnya apresiasi album fisik,” tutup Lody.

Fakecivil memang tidak berubah sejak pertama kali mengenal mereka, GO-KILL!

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Alex Skolnick

WTF! Alex Skolnick (Testament) Ternyata Bisa Nge-Rap Dan Sudah Merilis...

Alex Skolnick (Testament). (Foto: Kid Logic Media). Gitaris virtuoso Testament, Alex Skolnick sejak lama dianggap sebagai salah satu gitaris thrash metal te

on Oct 14, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Riley Gale

Nama Riley Gale (Power Trip) Dipakai Oleh Perpustakaan dan Restoran Bu...

Riley Gale saat Power Trip tampil di festival akbar di Jerman, Rock am Ring, 2019. (Foto: Andreas Lawen/Wikimedia Commons). Meninggalnya pentolan dan vokali

on Oct 3, 2020
Cliff Burton

Legenda Cliff Burton Akan Terus Hidup Di Hati Fans Metallica Selamanya

Foto yang menjadi cover depan buku otobiografi "To Live Is to Die: The Life and Death of Metallica's Cliff Burton" oleh penulis Joel McIver dan dipublikasikan

on Sep 28, 2020