×
×

Search in Mata Mata Musik

Slipknot “We Are Not Your Kind”: Kemarahan Masa Lalu Yang Kreatif

Posted on: 12/9/19 at 12:30 pm

Slipknot - we are not your kind.
Cover album ‘We Are Not Your Kind’ oleh Slipknot. (Foto: Roadrunner Records).

SLIPKNOT
We Are Not Your Kind
(2019, Roadrunner)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Dalam suatu karier yang panjang dengan segala bentuk seninya, memiliki pertumbuhan adalah suatu keharusan. Kembali pada tahun 2004, Slipknot merilis Vol. 3: (The Subliminal Verses), titik balik dalam karier mereka yang menjauhi sound abrasif dari rekaman mereka sebelumnya, Iowa. Sejak Vol. 3, pasukan bertopeng ini telah menginkorporasi peleburan ekstrim agresi metal bersama dengan “clean singing” dan beberapa potongan musik minimalis yang atmosferik. Dualitas nada dan energi ini tentu saja telah membuat para pendengar Slipknot terpecah belah; wajar lah, namun, usaha yang dilakukan Slipknot dalam mengembangkan karyanya patut diacungi kelingking…eh…jempol.

Dan itulah apa yang dipersembahkan Slipknot pada album terbarunya, We Are Not Your Kind, benar-benar luar binasa!

Baca juga: Video Konser Intim Slipknot Di Studio Maida Vale BBC Telah Dirilis

Kelebihan: Jika orang mengatakan We Are Not Your Kind adalah “bentuk baru Slipknot”, itu akan kehilangan poin yang besar, karena album ini mencakup semua yang telah dicapai Slipknot. Dari riff gitar yang mencakar-cakar, perpaduan nyanyian merdu dan scream-growl, hingga campuran atmosfer yang hectic dan suram, gerombolan metal kelahiran Des Moines, Iowa ini menyentuh elemen-elemen yang ditemukan di seluruh diskografi mereka.

Single utamanya ‘Unsainted’ menjadi lagu pembuka yang solid, menyuguhkan perjalanan yang menyenangkan dan cadas bagi pendengar untuk hanyut bersama lagu banger yang memorable dari awal hingga akhir. Sedangkan single keduanya, ‘Solway Firth’, meski ditaruh urutan paling terakhir di album, merupakan lagu pembunuh yang menyentuh agresi klasik Slipknot, sekaligus menghadirkan suasana yang sama sekali tidak ceria. Permainan gitarnya memancarkan kegelapan dengan tiap bunyi notnya, gempuran dram dan bass yang masing-masing menerkammu hidup-hidup. Merobek melalui instrumentasi dan lirik yang menggigit dengan kalimat seperti, “Anda ingin senyum yang sebenarnya? Atau yang saya gunakan untuk berlatih tidak merasakan seperti suatu kegagalan?” yang mengandung makna ketabahan secara getir.

Dekade terakhir dalam band ini memang dilalui dengan beberapa kisah yang tidak menyenangkan, mulai dari kematian tragis bassis Paul Gray, hengkangnya dramer Joey Jordison, hingga pengundurdirian perkusionis Chris Fehn. Hal-hal tersebut turut mempengaruhi proses penggarapan We Are Not Your Kind sehingga bisa menjadi sama kuat dan emosionalnya seperti album-album sebelumnya. Meskipun setiap lagu menampilkan identitas uniknya sendiri, ada sensasi yang luar biasa dari band ini yang menggabungkan sound dan gaya yang mengingatkan kembali pada materi lama mereka.

Lagu ‘Red Flag’ mengacu pada energi mentah yang mirip dengan era album Iowa, hantaman dram dan perkusi yang saling membenturkan bareng, bunyi riuh elektronik dari DJ Sid Wilson dan Craig Jones secara berkala yang mengaduk-aduk dan menggelegar. Solo dan riff gitar pada ‘Orphan’ juga mengingatkan materi lawas band, sementara lagu seperti ‘My Pain’ yang bertempo super slow memberikan atmosfer kelam, mirip dengan lagu-lagu yang mungkin ditemukan di album All Hope Is Gone. Secara khusus, lagu ini adalah salah satu potongan album yang lebih unik, karena memancarkan kegelapan yang tidak nyaman ini melalui instrumentasi minimalis. Di samping nada-nada yang suram, Corey Taylor menyanyikan kalimat seperti, “Aku rantaimu, dan aku kunci kamu, tidak ada jalan keluar,” menambah suasana yang menakutkan.

Di sektor vokal, nggak usah ditanya soal kemampuan seorang Corey Taylor. Lagi-lagi di sini doi melepaskan jangkauan vokalnya yang maksimal. Baik itu vokal barking yang ganas di lagu seperti ‘Critical Darling’ atau pergeseran cepat antara screaming dan menyanyi merdu di ‘Not Long For This World’, Corey seperti selalu menjaga telinga pendengarnya tetap terlibat. Suaranya selalu menjadi salah satu senjata band yang terkuat dalam membangun emosi, dan doi telah menjalani perannya secara go-kill di sepanjang We Are Not Your Kind.

Salah satu lagu yang paling menarik di album ini adalah ‘Spiders’, yang memberikan nuansa yang “spooky”, mengalir dengan gaya yang terasa mengingatkan kita pada tema lagu perayaan Halloween. Meskipun lagu ini berbeda sendiri tempo dan sedikit sekali distorsi gitarnya ketimbang lagu lainnya yang standar metal kencang ala Slipknot, lagu ini sarat dengan bagian hook yang akan terngiang-ngiang di telingamu.

We Are Not Your Kind tidak hanya menampilkan musikalitas barbar band, tetapi juga menunjukkan bahwa Slipknot seperti memasukkan banyak “vibe” dari materi lama mereka, sambil terus mengembangkan musik baru mereka. Mungkin sebagian berpendapat bahwa We Are Not Your Kind tidak se-menarik atau se-ikonik album-album sebelumnya, namun We Are Not Your Kind menawarkan suatu kaleidoskop wilayah musikal yang pernah mereka jelajahi. Ada semacam keseimbangan hebat antara agresi dan emosi dalam setiap lagunya.

Baca juga: Slipknot Rilis Film Dokumenter Baru Pada ‘Friday The 13th’

Kekurangan: Sejujurnya, mengingat semua gaya, produksi, dan kreativitas yang terpapar jelas, sulit untuk menemukan cacat dalam album ini. Ini bukan soal selera atau preferensi pribadi saya. Membaca sebuah artikel review album yang berdasarkan “personal taste point of view” si penulis mah buang-buang waktu saja. Dan para Maggots (die-hard fan Slipknot) yang menyukai sound awal band ini mungkin tidak langsung terhubung dengan We Are Not Your Kind. Tapi coba dengarkanlah lebih dari sekali, setel mode shuffle saja, lebih asoy sambil baca liriknya, kemungkinan besar kamu akan mencapai di titik di mana saya berada dan berani menyimpulkan demikian.

Kesimpulan: Perjalanan Slipknot selama 20 tahun terakhir ini memang sangat menarik. Pustaka materi mereka menawarkan koleksi lagu-lagu yang mengesankan, baik yang menggetarkan anggota tubuh maupun yang menggerakkan hati. Dengan mengingat hal itu, We Are Not Your Kind tidak hanya memberikan tambahan yang kuat untuk diskografi band, tetapi juga mewakili seberapa jauh mereka telah melangkah.

Pada titik ini dalam karier mereka, mereka mungkin tidak ingin berusaha untuk membuat album yang sehebat atau bahkan melampaui self-titled alias Slipknot (1999) atau Iowa (2001), namun hanya sebuah karya yang lebih representatif dari siapa dan bagaimana mereka sekarang. Slipknot adalah salah satu raksasa metal terbesar di dunia. Sekali lagi inti dari We Are Not Your Kind memancarkan dualitas; kemarahan masa lalu band yang masih melekat pada setiap riff, dari tiap simbal dan dram yang dipukul, dan dalam setiap teriakan dan jeritan sekaligus terdapat pendewasaan di antara lagu-lagunya. Slipknot belum “tersesat” kok atau ingin memutuskan untuk tiba-tiba berubah, justru mereka telah berkembang pesat.

Dengan album studio terbaru mereka, Slipknot telah merilis salah satu album terkuat dalam karier mereka. Arti judul We Are Not Your Kind pun merupakan penegasan sikap mereka terhadap semua hal yang terjadi selama kariernya.

Verdict: 9/10

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jaggernaut

Stoner Rocker Juggernaut Mengajak Kembali Ke EP "Masa Pertengahan"

Jaggernaut. Setelah sebelas tahun, mini album Juggernaut dibangkitkan kembali oleh Rekam Jaya sebagai bagian dari program reissue dan dokumentasi arsip musi

on Oct 26, 2020
Mike Shinoda

Mike Shinoda (Linkin Park): Sebelum Ada Nu-Metal, Metal Terlalu "Kulit...

Mike Shinoda. (Foto: Greg Doherty, Getty Images). Nu-metal adalah mikro-genre dari heavy metal yang merupakan hasil dari hibrida berbagai elemen musik dari

on Oct 22, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Eddie Van Halen

10 Momentum Riff Terbaik Eddie Van Halen Di Sepanjang Karier Sang Guit...

Flying n' shredding bersama Eddie Van Halen. (Foto: Ebet Roberts, Redferns). Tanggal 6 Oktober 2020 menjadi hari yang suram bagi seluruh umat rock di planet

on Oct 8, 2020