×
×

Search in Mata Mata Musik

Stars And Rabbit “Rainbow Aisle”: Lorong Pelangi Pop Eksotik

Posted on: 03/13/20 at 10:30 am

Stars And Rabbit "Rainbow Aisle": Lorong Pelangi Pop Eksotik
Cover album Rainbow Aisle oleh Stars and Rabbit. (Gambar: Green Island Music).

STARS AND RABBIT
Rainbow Aisle
(2020, Green Island)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Album Rainbow Aisle memang cukup berbeda dari album Constellation (2015) karena proses kreatifnya seperti mengabadikan momen perjalanan duo grup alternative pop ini: Elda Suryani (vokal) dan Didi Saad (gitar) selama beberapa bulan. Proses produksinya sendiri memakan waktu yang terbilang singkat, hanya kurang dari tiga bulan dari penulisan lagu hingga rekaman seluruh materi lagu. Goks juga. Rekamannya sendiri tersebar di beberapa tempat antara Jakarta dan Amsterdam, di sela-sela waktu perjalanan yang mereka tempuh dan menjadikan keterbatasan ruang sebagai area kreatif, di antaranya ruang tamu, kamar, loteng apartemen, studio dan di mana pun mereka merasa nyaman untuk merekamnya. Rainbow Aisle berisi 12 lagu yang ditulis oleh mbak Elda dan mas Didit. Selain bermain gitar, Didit sekaligus bertindak sebagai produser dan mixing engineer.

Baca juga: STARS AND RABBIT – Perjalanan Pop Eksotik Melalui Rainbow Aisle

Kelebihan: Sejak trek pembuka, Little Mischievous menyapa telinga dengan ramah dan ceria, membuat suasana hati ini nyaman. Tentu saja, lagu yang dijadikan single pertama pra-rilis album ini menjadi perkenalan wajah baru Stars and Rabbit yang berbeda dari sebelumnya, yakni lebih dinamis, berwarna-warni nan cerah dan up-beat, di mana perubahan ini telah melunturkan tinta stempel “folk pop” dari nama mereka yang begitu melekat sejak awal berkarya cipta. Tanpa bermaksud menerapkan ilmu “cocoklogi”, hehe, pada penggalan liriknya: “What is this sound? It’s comforting, so does cling to the wall, it hurts my skin, it makes me frown, I need to lean down, I can’t move too fast” seperti memberitahu bahwa di era pra-album ini, mereka memang mengusung musik yang cenderung bertempo slow dan bernuansa gloomy, namun sejak album ini mereka ingin menyampaikan bahwa mereka juga bisa sedikit ugal-ugalan seperti pada bagian lirik: “Don’t get me wrong, I can be a little mischievous, you know”. Bernafaskan pop-rock lantaran distorsi gitar tipis dan beat mengentaknya, lagu ini memang didesain untuk menggetarkan lantai dansa dan sangat pas menciptakan suasana “mischievous”. Meski sebenarnya memiliki riff dan melodi gitar serta vokal yang multi-layer, lagu ini tetap terdengar ringan dan infeksius.

Trek berikutnya, ‘Illusory Utopia’, kembali menggeber pop-rock yang gurih nan renyah, meski riang sambil berdendang, pikiran kita disentil oleh pemikiran yang mempertanyakan kebebasan yang utopis seperti nukilan liriknya: “Imprisoned by reality running in society constructed by coded machines. False sense of reality, are we really free?”. Atau trek ‘Naked King’ yang nyerempet ke dream pop dengan nuansa yang agak serius namun tetap mengajak berdansa. Terinspirasi dari cerita rakyat alias folklore Eropa abad ke-19, lirik lagunya lagi-lagi “mikir”, suatu ungkapan tentang cacat nalar atau logical fallacy sebagai sesuatu yang diterima secara luas (atau mainstream) sebagai hal yang benar atau dianggap patut dipuji, karena keengganan masyarakat umum untuk mengkritiknya atau dianggap bertentangan dengan opini populer.

Trek-trek lainnya seperti ‘Any Day In The Park’, ‘St.Ann’, ‘I Don’t Wish To Carry You Anymore’, ‘Blue Boat Lovers’ memiliki ceritanya masing-masing namun dengan eksekusi musikal yang kurang lebih sama-sama menawan hati.

Kekurangan: Meski Rainbow Aisle berubah nuansa hampir 180 derajat dari album Constellation, mungkin akan sedikit aneh jika memainkan materi dari kedua album tersebut dalam satu repertoar konser. Tapi ah… semoga gue salah.

Kesimpulan: Stars and Rabbit, entah Elda bintangnya, Didit kelincinya atau sebaliknya, hehe, yang jelas tiap karya mereka sukses mengekshibisi kekuatan musikal per individu dari sinergi duo ini. Dengan suara cemprengnya yang distingtif, Elda mampu menginterpretasikan lirik-lirik yang ditulisnya dengan gaya menyanyinya yang ekspresif dan begitu menjiwai sampai ke ubun-ubun. Sedangkan Didit, sebagai produser tentu perannya sangat signifikan dalam menentukan kualitas produksi komposisi musik dan tata suaranya. Kita bisa mendengarkan betapa kayanya peran gitar bertaburan di sepanjang album ini, baik akustik maupun elektrik, dan dengan kerangka pop mampu membangun musiknya dari elemen jazz, alternative rock, dream pop hingga folk yang memiliki aneka ornamen melodius dan sound efek. Selain menjadi kesimpulan cerita perjalanan eksotiknya, Rainbow Aisle juga merupakan deskripsi singkat corak pop Stars and Rabbit yang menyerupai pelangi.

Verdict: 9

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Pale Waves

    MV Single Pale Waves 'She's My Religion' Soroti Romansa Lesbian Sang V...

    Vokalis Pale Waves, Heather Baron-Gracie, membintangi MV (Music Video) yang sangat personal untuk single baru band indie pop asal Manchester, Inggris ini,

    on Dec 30, 2020
    Humidumi

    CD Album Perdana Unit Alt-Pop Humidumi Telah Dirilis Bersama MV Single...

    Humi Dumi. (Foto: dok. Humi Dumi). ​Berbekal perjalanan di industri musik selama 6 tahun, band alternative popHumidumi akhirnya melepas album penuh perdan

    on Dec 26, 2020
    Wondergel

    Single Wondergel 'The Guiding Lights' Jadi Debut Nandut Sebagai Vokali...

    Wondergel. Generasi 1990-an pasti nggak asing dengan Wondergel, band indie pop alias alternative pop yang personilnya perempuan semua. Band yang eksis sejak

    on Dec 11, 2020
    Humi Dumi

    Sixtet Alt-Pop Humidumi Ungkap Makna Terjatuh Via Single 'Isn't It A P...

    Mengasihani diri sendiri dan tersakiti karena suatu khayalan semu nggak pernah seceria ini, seperti terangkum lewat single terbaru sixtet ​alternative po

    on Nov 29, 2020