×
×

Search in Mata Mata Musik

Stephen Carpenter (Deftones) Akui Dirinya Penganut Bumi Datar & Kebohongan Covid

Posted on: 11/13/20 at 11:30 am

Stephen Carpenter (Deftones) Akui Dirinya Penganut Bumi Datar & Kebohongan Covid
Stephen Carpenter. (Foto: Debi Del Grande).

Gitaris Deftones, Stephen Carpenter dikenal sebagai seorang advokat legalisasi mariyuana yang paling menonjol di band alternative metal ini. Tapi nggak hanya itu, cowok brewokan ini memiliki lebih banyak “sesuatu” saat baru-baru ini doi terlibat di suatu percakapan yang mendalam, topik yang cukup serius, di mana doi memiliki beberapa pemikiran tentang berbagai hal. Dalam wawancaranya dengan podcast Tin Foil Hat With Sam Tripoli, doi mengakui bahwa doi adalah seorang penganut Bumi datar, dan menurutnya nggak ada vaksin yang pernah berhasil dan doi meragukan seberapa serius pandemi virus Corona ini. Nah, gue demen neh.

Baca juga: Chino Moreno (Deftones): Nggak Usah Malu Kalau Lo Suka Nu-Metal Walau Itu Bodoh!

Dilansir dari ThePRP yang telah mentranskripsikan sebagian wawancaranya dengan podcast Tin Foil Hat With Sam Tripoli, Stephen Carpenter, yang telah mempelajari teori konspirasi sejak awal 1990-an, ditanyai apakah doi seorang penganut Bumi datar. Doi menjawab, “Tentu saja … Jika lo pikir lo hidup di sebuah bola luar angkasa yang berputar dan terbang, (berarti) lo berada dalam sekte”. Doi kemudian menjelaskan, “Istilah paling sederhana untuk perspektif gue dengan Bumi datar adalah, gue tahu kita nggak berada di bola luar angkasa yang berputar dan terbang. Sekarang, apa itu sebenarnya dan semua itu dan, sampai sejauh mana itu masuk nalar, itu semua masih harus ditemukan dan orang-orang sedang bekerja keras menemukan hal-hal itu”.

Doi menolak gagasan bahwa ada manusia yang pernah berada di luar angkasa, dengan mengatakan “satu-satunya hal yang pernah diluncurkan ke luar angkasa adalah imajinasi manusia”.

Stephen Carpenter mencatat bahwa ketika orang mencoba mendebatnya tentang masalah Bumi datar, mereka harus menemukan kesamaan terlebih dahulu. “Ketika lo memberi tahu orang-orang bahwa Bumi itu datar, gue ingin bertanya dan menjawab semua pertanyaan yang ingin lo tanyakan dan jawab juga. Tapi gue ingin lo terlebih dahulu mengakui bahwa lo nggak hidup dalam bola luar angkasa yang berputar. Karena begitu lo tahu, lo bisa mengakuinya, maka lo akan sampai ke tempat di mana, seperti ‘oke, sekarang kami secara sah mengajukan pertanyaan yang sama’. Orang-orang masih menemukan banyak hal tentang hal itu”.

Stephen Carpenter menunjuk ke video berjudul Flat Earth: The Ultimate Litmus Test yang meyakinkannya tentang teori yang sangat dipertanyakan itu. “Saat pertama kali melihat ini, respons awal gue adalah ketawa, karena itulah yang selalu gue lakukan. Terus, gue seperti, lo tuh tahu apa? Dia benar-benar menunjukkan sesuatu kepada gue sekarang dan gue masih menertawakan sesuatu yang nggak gue nggak tahu apa-apa tentang hal itu. Seenggaknya gue berhutang untuk menonton ini, lo tahu, lihat apa yang dia bicarakan karena dia masih memberitahu gue setahun kemudian bahwa Bumi itu datar, dan gue masih yang seperti, ‘Lo ngomong apa sih?'”

Stephen Carpenter mencatat bahwa doi akhirnya menonton video itu dua kali dan kemudian diyakinkan oleh pesan tersebut. “Ketika lo pertama kali belajar tentang Bumi datar, seenggaknya ketika gue melakukannya, gue belajar tentang semua yang nggak ada kotoran dinosaurus, nggak ada bahan nuklir dan segalanya. Maksud gue secara harfiah lo baru saja mulai menyusuri jalan setapak. Ya Tuhan, ada begitu banyak hal yang palsu, sial. Dan itu terus terjadi, tahu nggak?” Doi melanjutkan, “(Suatu kali) gue menyadari bahwa nggak ada tempat seperti ruang angkasa dan kita berada di sini, lo tahu, lingkungan yang diciptakan, jika lo mau. Itu mengubah segalanya. Gue segera kehilangan semua ketakutan (terhadap) ruang angkasa. Seperti gue nggak memiliki rasa takut kalau kita ditabrak asteroid, meteor, komet, planet pengembara, nggak ada jilatan api matahari, nggak ada satu pun setan dari ruang angkasa ini yang akan menghancurkan lo”.

Doi kemudian ditanya apakah kenyataan yang kita tahu adalah bagian dari simulasi. Berikut tanggapannya:

“Kalau mau disebut simulasi. Nggak apa-apa, simulasi masih menyiratkan bahwa lo nggak sedang terbang, memutar bola luar angkasa, ini omong kosong lainnya, bukan? Dan gue hanya mengatakan. Gue hanya mengatakan bahwa lo tahu di sini, di The Matrix, di mana kita berada, di sana ada realitas, dan di situ ada The Matrix, bukan?

Bumi datar berada di luar The Matrix, saat lo berada di The Matrix, lo memiliki semua jenis versi dari apa yang lo pikirkan, tetapi sebenarnya nggak. Itu adalah bidang eksistensi datar yang nggak bergerak. Dan gue nggak tahu, lo bisa memperdebatkannya selamanya, tetapi itu nggak akan pernah mengubah fakta bahwa memang seperti itu. Lo tahu apa maksud gue? Dan itulah mengapa gue mengatakan hal itu…

Awalnya gue katakan, lo tahu, ini sangat sulit, umm, setelah lo mengetahuinya, karena lo berada di luar The Matrix. Di The Matrix, lo tahu, mayoritas masih ada di The Matrix, jadi sulit untuk benar-benar berbicara dengan orang yang ingin melakukan percakapan serius tentang subjek yang mereka pikir mereka ketahui tetapi sebenarnya nggak mereka ketahui, karena mereka nggak berada dalam kenyataan yang sebenarnya”.

Topik percakapan kemudian beralih ke virus Corona dan ide tentang vaksin, yang dijawab oleh Stephen Carpenter, “(Nggak ada) satu pun vaksin yang pernah berhasil. Semua racun, lo nggak akan pernah bisa mengeluarkannya dari tubuh lo, tubuh lo nggak memiliki sarana untuk mengeluarkannya, itu terjebak di dalam lo selamanya dan lo hanya menderita dengan apa pun jadinya”.

Vaksin polio yang berhasil diajukan, dan Stephen Carpenter menolak, “Kami nggak pernah memberantasnya (Polio). Itu… kami nggak pernah benar-benar belajar… Gue bersyukur untuk Covid, karena mengajari gue teori kuman yang sebenarnya, dan bahwa virus adalah sesuatu yang diciptakan oleh tubuh. Lo nggak dapat tertular virus dari seseorang. Lo mengembangkan virus karena lo memiliki beberapa jenis racun atau toksin di dalam diri lo. Dan itu adalah sel beracun dan toksin lo yang mengeluarkan virus untuk membersihkannya dari tubuh”.

Stephen Carpenter juga menganggap masker wajah berfungsi karena kata-kata hukum di kotak masker yang nggak mereka lindungi dari virus. Mengenai virus itu sendiri, doi menyatakan keraguan tentang seberapa luas penyebarannya, “Bukankah hanya populasi tunawisma yang perlu lo ketahui tentang virus? Maksud gue, jika ada virus yang sangat mematikan ini menyebar sepanjang tahun ini, kita pasti sudah kehilangan semua orang di jalan sekarang. Gue yakin itu. Namun nyatanya kami nggak kehilangan mereka, jumlah mereka semakin bertambah”.

Gitaris Deftones ini juga nggak meremehkan setiap orang yang kebetulan kehilangan orang yang dicintainya selama pandemi Covid. “Dan itu bukan penghinaan bagi mereka yang jatuh sakit dan bahkan mereka yang meninggal dari apa pun yang menyebabkan mereka meninggal. Jelas nggak ada yang diabaikan, tapi gue nggak menghubungkan itu dengan apa yang dibahas ini, lo tahu? Apakah ini, ini hanyalah tipuan mental”.

Pada satu titik dalam wawancara, Stephen mengatakan, “Jauh lebih mudah membodohi orang daripada membiarkan mereka tahu bahwa mereka telah dibodohi. Nggak ada yang mau menjadi orang bodoh”.

Baca juga: Dengan Judul ‘Ohms’, Deftones Rilis Single Utama Dari Album Mendatangnya

Sayang, video wawancara Stephen Carpenter sudah hilang, mungkin sudah di-take down atau di-banned. Wah konspirasi Google nih! Hehe.

Ngomong-ngomong soal Deftones, mereka merilis album baru mereka yang sangat dinantikan para fans die-hard mereka yang berjudul Ohms, pada bulan September. Mereka juga bersiap untuk merilis edisi deluxe ulang tahun ke-20 dari album bersejarah tahun 2000 mereka, White Pony, dengan bonus disc berisi materi remix baru yang diberi judul ‘Black Stallion’. Rilisan White Pony x Black Stallion tersedia untuk pre-order di situs Amazon.

Penerjemah & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

12 Kolaborasi Lagu Cover Rock & Metal Terbaik

12 Kolaborasi Lagu Cover Rock & Metal Secara Social Distancing Terbaik

Tahun 2020 memang penuh tragedi dan menyebalkan tentunya, terutama sejak dimulainya pandemi Covid-19 alias Kopad-Kopid Kagak Jelas ini, di mana seluruh sek

on Nov 23, 2020
System Of A Down

Dua Lagu Baru System Of A Down Raup Rp 8,5 Miliar Untuk Bantu Artsakh ...

System Of A Down (ki-ka): Daron, Shavo, John, Serj. System Of A Down (SOAD) bikin geger blantika musik rock dan metal dengan dua lagu baru pertama mereka da

on Nov 13, 2020
JKT48

JKT48 Rugi Besar dan Terancam Bubar Di Tengah Pandemi, Simak Penjelasa...

Konser di JKT48 Theater. (Foto: Dentsu X Entertainment).  JKT48 turut merasakan imbasnya pandemi Covid-19, sehingga membuat grup idol tersebut mengalami

on Nov 11, 2020
OMNI

Kuartet Alt-Metal OMNI Beri Semangat Optimisme Via Single Terbaru, 'SU...

OMNI. Dalam suasana wabah global Covid-19, OMNI kembali merilis lagu terbaru yang berjudul ‘SURRENDER’ melalui kanal YouTube. Lagu ini merupakan single

on Nov 10, 2020