×
×

Search in Mata Mata Musik

Stereotip Rasis Di Komunitas Metal Yang Kembali Mencuat Sejak Pandemi Covid-19

Posted on: 07/2/20 at 10:30 am

Andrew Lee, pentolan Ripped To Shreds.
Andrew Lee, pentolan Ripped To Shreds.

Andrew Lee, seorang warga negara Amerika Serikat (AS) keturunan Taiwan, adalah seorang musisi multi-instrumentalis dan pentolan band death metal Ripped To Shreds, Skullsmasher dan banyak band underground metal ekstrim lainnya. Melalui Decibel Magazine, dia mencurahkan kekecewaan dan kegelisahannya terhadap stereotip rasis di komunitas metal. Simak tulisan Andrew Lee di bawah ini.

Jika kamu dilahirkan dengan kulit kuning dan mata sipit di AS, kamu bukan orang Amerika. Kamu adalah orang asing yang terus-menerus mengundang tatapan terbuka, ejekan yang bisik-bisik dan salam “ni-hao” yang selalu populer dan tidak disukai, tanpa memandang bahasa pertama atau negara asal orang tua kamu. Kamu adalah anak yang jago main biola, pakar matematika, kutu buku yang kuper alias kurang pergaulan, pelacur yang menggoda dengan vagina menyamping dan penipu yang tidak kreatif yang hanya bisa menyontek. Yang terburuk, kamu itu diam. Kamu anti politik, kamu bekerja keras, belajar dengan tekun, tapi tutup mulut tentang politik.

Selama pandemi ini, stereotip rasis yang sudah berlangsung lama terhadap orang Cina dan masakan “eksotis” Cina telah dibawa ke garda depan. Orang Cina adalah pemakan anjing, pemakan hama, orang barbar yang mengonsumsi hewan apa saja dengan empat kaki. Mereka adalah pemakan kelelawar yang melepaskan wabah global dengan hidangan menjijikkan mereka. Ada seruan dari negara-negara di seluruh dunia untuk menutup “pasar basah” di seluruh Cina, pasar yang tidak berbeda dari sebagian besar pasar petani di kota AS mana pun. Penyebaran Covid-19 memicu peningkatan rasisme dan kekerasan anti-Asia, tetapi kamu bahkan secara visual tidak dapat membedakan antara orang Cina, Vietnam atau Korea, karena kami semua terlihat sama.

Melihat postingan Facebook Brujeria tentang single baru mereka (berjudul ‘Covid 666’) benar-benar bikin kecewa. Brujeria menulis: “Virus Corona adalah wabah iblis yang dikirim untuk membersihkan semua jenis manusia! Datang dari Cina di mana makan kelelawar sama normalnya dengan membeli taco tengah malam dari truk yang di parkir di pom bensin terdekat kamu”.

Para komentator (postingan tersebut) mendukung band (death metal/grindcore) itu karena mengatakan semuanya dengan jujur, mengatakan kebenaran yang tidak populer bahwa orang-orang Cina dan praktik diet mereka adalah penyebab pandemi ini. Namun tidak ada yang memberikan nama nasional untuk penyakit bawaan makanan lainnya di dunia ini. Penyakit sapi gila bukanlah “virus Inggris” dan tidak ada yang menyalahkan orang kulit putih karena memaksa sapi untuk secara kanibal memakan orang mati. Dan meskipun benar bahwa kelelawar terkadang dikonsumsi di daerah pedesaan, begitu pula rakun dan possum serta kerang Rocky Mountain di Amerika, namun tidak ada yang menyebut orang Amerika sebagai “pemakan testis”.

Yang paling bikin frustrasi bukanlah Brujeria, tetapi bagian lain dari berbagai situs blog (komunitas) metal, yang telah menghabiskan empat minggu terakhir dengan mengecam rasisme, kebrutalan polisi dan ketidakadilan, namun sekarang tetap diam. Metalsucks baru-baru ini memposting single terbaru Brujeria, menuliskan deskripsi pendek dari band itu, meskipun telah mengklaim bahwa mereka ikut serta membela keadilan sosial. Label rekaman Nuclear Blast cabang Amerika dan Blabbermouth sama-sama mengedit komentar rasis mereka ketika membagikan videonya, menunjukkan bahwa mereka jelas tahu itu sesuatu yang tidak dapat diterima, tetapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Atau mungkin Brujeria menambahkannya sendiri, mengirimkan versi yang “bersih” ke Nuclear Blast, dan dengan sengaja menambahkan versi yang rasis di halaman Facebook mereka sendiri. Kita kurang yakin mengenai skenario manakah yang lebih buruk.

Mengesampingkan para misantrofis black metal yang sangat edgy, komunitas metal mengklaim sebagai kekuatan yang positif, menyatukan metalhead di seluruh dunia dalam bentuk cinta kolektif terhadap musik. Konsumen metal menuntut yang eksotis dan oriental, menjejalkan band-band Asia ke dalam berbagai kategori-kategori kecil yang rapih. Band grindcore dan hardcore Jepang melakukan segala hal dengan lebih baik karena orang Jepang itu gila dan intens; ada sesuatu yang unik tentang mereka. Band-band Cina hanya memainkan suara tajam dari instrumen guqin atau instrumen tradisional erhu. Band-band Indonesia itu brutal slam death metal. Thailand, Singapura atau Korea bahkan mungkin tidak ada anggapannya sama sekali.

Yang mendasari perpecahan ini adalah persepsi bahwa band-band eksotis ini terasa menarik dan unik karena dari mana mereka berasal, dan persepsi itu mewarnai bagaimana orang-orang Asia yang tinggal di negara-negara Barat dilihat oleh masyarakat setempat. Herman Li (Dragonforce) adalah seorang gitaris shredder yang edan karena selalu ada orang Asia yang bisa melakukannya dengan lebih baik. Cole Kakimoto dari Gulch memainkan Japenese-core yang dipengaruhi oleh grindcore karena kamu bisa melihat “C. Kakimoto” pada liner notes di CD-nya. Jika kamu tidak cocok dengan pengkotakan kategori itu, orang akan bingung. Jika seorang pengulas tahu bahwa aku memimpin band Ripped To Shreds, mereka akan bertanya mengapa tidak ada sound instrumen folk atau oriental yang nyaman untuk memberi tahu mereka bahwa musik itu dibuat oleh orang Cina. Seringkali, mereka akan mengatakan sesuatu seperti, “Aku pikir band ini dari Jepang,” karena orang Asia-Amerika tidak bermain musik metal.

Metal harus bersatu, karena ada kekuatan dan pengalaman kolektif dalam komunitas ini. Sejujurnya, metal dibagi sepanjang berbagai garis nasional. Tidak ada yang salah dengan mengkategorikan metal ke dalam berbagai scene, karena Swedish death metal adalah miliknya sendiri, dibandingkan dengan Norwegian death metal atau Floridian death metal, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi orang kulit putih memiliki keuntungan untuk menyaru secara visual: Seorang Swedia-Amerika tidak akan diharapkan untuk bermain riff Entombed dan seorang Amerika-Norwegia tidak akan diharapkan untuk menjadi kloning Darkthrone. Ada yang tahukah dari mana kakek nenek Mike Scalzi (The Lord Weird Slough Feg, Hammers of Misfortune), berasal? Adakah yang peduli? Orang kulit putih bebas menjadi orang Amerika yang memainkan jenis metal apa pun yang mereka suka. Komentar rasial Brujeria bukanlah ‘hanya’ Juan Brujo (vokalis Brujeria) yang sedang bertindak bodoh dan jahat. Ini adalah gejala persepsi endemik tentang orang Asia sebagai orang asing, sebagai kambing hitam, sebagai orang asing abadi. Jika kita orang Asia menanggapi stereotip rasis ini, kita disuruh santai saja, itu hanya lelucon, itu hanya sindiran. Itu bukanlah cara sesama warga Amerika harus diperlakukan, dan bukan itu perlakuan yang harus dialami ras-ras lainnya di Amerika.

Penulis: Andrew Lee untuk Decibel Magazine
Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jaggernaut

Stoner Rocker Juggernaut Mengajak Kembali Ke EP "Masa Pertengahan"

Jaggernaut. Setelah sebelas tahun, mini album Juggernaut dibangkitkan kembali oleh Rekam Jaya sebagai bagian dari program reissue dan dokumentasi arsip musi

on Oct 26, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Arsebreed

Rilis Album Baru, Arsebreed Memilih Label Indonesia Ketimbang Label To...

Arsebreed. (Foto: Brutal Mind). Bendera IDDM (Indonesian Death Metal) telah berkibar di Belanda, negara yang memiliki ikatan kuat secara historis dengan Ind

on Oct 13, 2020
Vox Mortis

Vox Mortis Paparkan Kekejaman Manusia Terhadap Hewan Via MV ‘Primata...

Vox Mortis. (Foto: Bastart Photography). Manusia sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran, nggak lantas membuatnya lebih tinggi derajatnya dibanding makhl

on Oct 11, 2020