×
×

Search in Mata Mata Musik

Sufism “Republik Rakyat Jelata”: Sorotan Death Metal Pada Alam & Kearifan Lokal

Posted on: 12/19/20 at 10:00 am

Sufism "Republik Rakyat Jelata": Sorotan Death Metal Pada Alam & Kearifan Lokal
Sufism. (Foto: dok. Sufism).

Nama band ini memang sama sekali nggak merefleksikan tema atau karakteristik musik death metal. Sufism, sufisme atau dalam ajaran agama Islam dikenal dengan tasawuf, yaitu ilmu “soul-purification to gain immortal bliss”. Meski demikian, pengibar panji death metal yang terbentuk pada April 2014 di Cangkuang, Bandung ini bukan band religi, nama tersebut hanya bagian dari konsep hidup mereka termasuk dalam menjalani karier bermusik.

Baca juga: Album Kaligula “Doctrination of Atisamdha” Melebur Death Metal & Karawitan Bali

Sufism yang kini formasinya terdiri dari Nanang (vokal), Sandy (gitar), Iman (bass) dan Ary (dram) mulai dikenal di scene musik cadas bawah tanah sejak merilis mini album alias EP Reptilia Buas pada 2015 di bawah bendera label rekaman pionir IDDM (Indonesian Death Metal) Rottrevore Records. Dan dilanjutkan dengan single ‘Kekasih Jiwa’ (2016) serta tampil di album kompilasi Wacken Metal Battle Indonesia 2017 dan Wacken Metal Battle Indonesia 2018.

Masih panas keluar dari oven dapur label rekamannya, Brutal Mind, album debut full length Sufism yang bertajuk Republik Rakyat Jelata dimuntahkan pada 13 Desember 2020. Proses rekamannya dikerjakan di Yeahmusik Studio yang memakan waktu cukup lama, hampir dua tahun. “Dimulai awal tahun 2018, kami cicil mencari waktu senggang atau libur para personil yang Alhamdulillah semua personil sudah mempunyai pekerjaan masing-masing. Karena komitmen kami nge-band nol sekian dan hanya sebatas hobi atau sebagai wadah bersenang-senang semata,” ungkap Nanang.

Tracklist Republik Rakyat Jelata:
1. Republik Rakyat Jelata
2. Sayatan Nadi Takdir Kebencian
3. Duruwiksa
4. Munajat Bejad
5. Palastra
6. Rogahala
7. Kalawasana
8. Syaithan
9. Darkness Is Your Candle
10. Mufakat Jahat

Tema sentral lirik 10 lagu bergaya brutal death metal penuh hantaman slam nan groovy dalam Republik Rakyat Jelata menceritakan kecintaan Sufism terhadap Indonesia, semangat nasionalisme, namun juga mengungkapkan kekecewaan dan pemberontakan mereka terhadap ketidakadilan, penindasan, ketimpangan sosial, masih adanya sekat lebar antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyatnya. “Untuk keseluruhan tema lirik di album ini saya masih menulis apa yang saya rasakan saya lihat, saya baca di kehidupan sehari hari. Kebencian, Kematian, Kegelapan, Kekuasaan, dan Ketidakadilan,” cetus Nanang.

Dan seperti yang kita lihat, artwork sampul album Republik Rakyat Jelata memang “sangat tidak metal”, jauh dari kesan sangar atau seram seperti citra death metal pada umumnya. Sang vokalis, Nanang menjelaskan alasan di balik ide artistik yang terbilang cukup ‘out of the box’ itu:

Refresh pengin ada suasana berbeda di tengah pandemi yang tidak berkesudahan ini. Mengapa tidak Death Metal mengangkat tema alam sekitar dan kearifan lokalnya? Artwork ini dibuat sesuai dengan imajinasi saya dan diaplikasikan oleh Aghy sebagai ilustrator bahwa kelak atau suatu saat saya harus tinggal di sini, hidup damai tentram sentosa, bercocok tanam, menikmati hari tua jauh dari kebisingan duniawi”.

“Artwork ini menggambarkan nuansa pedesaan yang sejuk, hijaunya pematang sawah, aktivitas petani dan pasar tradisional tempat interaksinya para pedagang dan pembeli di mana roda perekonomian rakyat tidak akan tergerus oleh perekonomian global yang selalu didengung-dengungkan saat ini. Intisari dari tema artwork ini adalah pencarian kehidupan duniawi ini hakikatnya kembali ke alam dan Sang Maha Pencipta”.

Nanang lanjut menambahkan, “Untuk album debut ini, semua personil Sufism puasa mendengarkan musik death metal. Jadi apa yang disuguhkan di album ini murni apa yang ada di pikiran setiap personil walau tidak menutup kemungkinan ada riff atau lick yang mungkin ada kemiripan dengan band lain itu manusiawi, hehe”.

Baca juga: Jasad “5”: Death Metal Album Of The Year

Dapatkan CD dan merchandise Republik Rakyat Jelata melalui situs web Brutal Mind atau versi digitalnya via Bandcamp.

 Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Kaligula

    Album Kaligula "Doctrination of Atisamdha" Melebur Death Metal & Karaw...

    Kaligula. (Foto: dok. Kaligula). Terbentuk pada 2007, Kaligula awalnya mengusung musik alternative rock ala "Seattle Sound" alias grunge yang formasinya ter

    on Dec 16, 2020
    Skeptis

    MV 'To The Black Propaganda' Jadi Letusan Perdana Skeptis Di Scene Dea...

    Skeptis. (Foto: dok. Skeptis). Setelah komposisi dari rangkaian materi Skeptis sudah terkumpul dan sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, band death metal

    on Dec 12, 2020
    Deathorchestra live

    Kolaborasi Epik "Tribute To DEATH" Persilangan Death Metal dan Simfoni...

    Deathorchestra. (Foto: via YouTube). Kolaborasi antara raungan cadas heavy metal dan harmoni elegan simfoni orkestra telah terbukti sebagai suguhan yang spe

    on Dec 7, 2020
    Vox Mortis

    Vox Mortis Serukan 'Forever No To Dog Meat!' Untuk Stop Peredaran Dagi...

    Vox Mortis. (Foto: Bastart). Bagaimana rasanya diculik, disekap, kemudian disiksa dan dijadikan kudapan karena dianggap berkhasiat atau sekadar untuk memenu

    on Dec 6, 2020