×
×

Search in Mata Mata Musik

Tak Ada Kata Keterlaluan dalam Pertikaian Antar Rapper

Posted on: 06/2/18 at 6:01 pm

Pusha-T dan Drake bukan rapper pertama yang saling ribut parah.

Oleh: Gary Suarez (Consequence of Sound)

Banyak hal yang terjadi dalam seminggu terakhir. Kalau kamu tidak familier dengan kejadian belakangan ini antara Drake dan Pusha-T, kamu mungkin bukan penggemar berat musik rap. Mereka yang selama ini aktif mengikuti drama ini melakukannya seolah sambil makan popcorn, dan dengan semangat membedah dan mengantisipasi setiap ‘diss track’ (lagu yang berisi hinaan/ejekan) dalam percekcokan terbesar dunia hip-hop tahun ini. Drama berikutnya, sebagaimana digambarkan Drake sendiri, melibatkan atau setidaknya menyenggol ‘siapa milik siapa’ dari industri musik rap di abad ke-21 ini, semua orang dari Birdman dan Lil Wayne sampai Kanye West dan Rick Ross.

Meski kehebohan yang melingkupi konflik terasa segar, dalam praktiknya hal ini ibarat pengulangan sejarah. Sementara persaingan antar geng asal New York City beserta aksi damai yang terkesan terburu-buru yang memanaskan industri hip-hop jelas memenuhi syarat, belum lagi pertengkaran lewat lirik yang mengawalinya, Bridge Wars (persaingan artis hip-hop pada pertengahan hingga akhir ’80-an dan awal ’90-an) bisa dibilang sebagai pencetus budaya pertikaian, yang secara viral ditunjukkan dalam ajang adu balas antar pembawa acara terbaik di zaman mereka. Sebagai anak yang besar di Queens pada tahun ’80-an, saya tentu memasukkan ke hati bait-bait di lagu “South Bronx” dan “The Bridge Is Over” dari KRS-One. Betapa lancang dan beraninya juru bicara Boogie Down Productions menyerang jebolan kota saya seperti Marley Marl dan MC Shan dengan kata-kata pedas yang sok hebat itu! Mendengarkan respons Shan melalui “Kill That Noise” bertahun-tahun kemudian masih memberikan saya rasa bangga apalagi saat ia dengan semangat membela kredibilitas Juice Crew.

Bagi kaum modern yang lebih muda, perang rumpun virtual ini mungkin terasa sedikit aneh, terutama dengan gaya rap yang sekarang sudah ketinggalan zaman dari para pelakunya. Namun, elemen dasar kedekatan yang mendefinisikan pertarungan hebat artis hip-hop — Biggie dan Tupac, Jay-Z dan Nas, Murder Inc. dan G-Unit/Shady/Aftermath, Gucci Mane dan Jeezy, Nicki Minaj dan Remy Ma, dan seterusnya — semuanya ada di sini. Seperti kebanyakan pertikaian sejak saat itu, Bridge Wars dipicu oleh kesalahpahaman: pernyataan Shan tentang kebangkitan kelompok Queensbridge di single-nya “The Bridge” diambil oleh KRS sebagai upaya untuk membuat klaim palsu kalau genre ini berasal dari tempat lain selain The Bronx. Pada saat isu ini diperjelas di lagu “Kill That Noise”, dampaknya sudah terlanjur meluas, dan semua pihak sudah terlalu keras kepala untuk menyudahinya.

Budaya yang secara klasik diperdebatkan ini masih terus berlanjut, mendengarkan tidak hanya lagu-lagu seperti “Infrafred”, “Duppy Freestyle”, dan “The Story of Adidon”, tetapi juga lagu pendahulunya yang kurang populer dari perseteruan panjang Drake and Pusha seperti “Two Birds, One Stone” dan “Exodus 23:1”. Lagu-lagu seperti yang terbaru ini berbeda dari hinaan dan ejekan terselubung biasanya yang dikerahkan pada figur tak bernama dalam lagu rap. Ada keintiman di semua detail yang kejam, informasi dari orang dalam dan intel anonim yang digunakan secara bebas dalam bait lagu untuk menyerang para rival mereka, lengkap dengan ancaman kekerasan walaupun dalam bentuk kiasan. Dampak kolateral meningkat, dengan tokoh industri, teman pribadi, dan anggota keluarga secara rutin terlibat dalam baku tembak secara verbal ini. Pertikaian antar rapper (rap beef) yang sesungguhnya berasal dari masalah yang menjadi besar, dan tak lama kemudian, tidak ada lagi topik yang tabu demi menghancurkan lawan yang dituju.

Sebagai buntut dari “Adonin”, mereka yang tidak familier dengan sejarah hip-hop, dibutakan oleh fandom, atau terperangkap dalam perasaannya sendiri setelah mendengar tiga menit kesadisan tersebut terlihat cepat menghujat Pusha. Beberapa orang mencela kritiknya pada orang tua Drake sedangkan yang lainnya merasa tidak nyaman dengan ucapannya yang menyeringai yang merujuk pada penyakit sklerosis yang diderita produser OVO Sound, Noah “40” Shebib. Di era di mana para selebritas, politisi, dan bahkan orang awam sibuk mencari pengampunan maaf dalam gejolak, cercaan, dan kejahatan yang tiada hentinya, Pusha tampaknya sudah sangat keterlaluan.

Upaya untuk mengawasi isi suatu diss track bisa dibilang sangat naif dan bahkan didorong oleh motif tersembunyi. Lirik lagu rap biasanya memamerkan ilegalitas dan imortalitas, yang tetap menjadi bagian dari daya tarik yang kekal dengan orang luar dan keterkaitan dengan orang dalam. Dengan norma yang demikian utuh, gagasan untuk menetapkan aturan dasar atau menerapkan standar komunitas bagi pertikaian antar rapper sangatlah menggelikan.

Menyadari relatif nihilnya aturan dalam rap beef bukan hal yang sama dengan menerima konten-kontennya yang problematik secara otomatis. Para rapper yang terlibat dalam permasalahan yang Drake dan Pusha bangun bermaksud untuk menyinggung, menghancurkan, dan mendominasi. Para pendengar dimaksudkan untuk terkesiap, menunjuk, dan berseru pada diss track yang sempurna dan sangat brutal untuk alasan tersebut. Beberapa lagu yang paling terkenal di industri menggunakan homofobia dan seksisme sebagai senjata, termasuk lagu Ice Cube “No Vaseline”, Ja Rule “Loose Change”, dan Jay Z “Supa Ugly”. Memang, di balik “Adonin”, dengan fitnahan Pusha yang inheren terkait karier di industri hiburan dewasa yang dijalani wanita yang diduga sebagai ibu dari anak Drake, beberapa orang dengan pedas menyatakan bahwa wanita terlalu sering menerima serangan terberat — dan mereka benar.

Bagaimana pun juga, rap beef bertentangan dengan moralitas, dan pada saat tergelap dan terburuknya, lebih banyak mendatangkan bahaya daripada menyakiti perasaan. Drake dan Pusha sudah bertahun-tahun membangun permasalahan ini, dan bahkan dengan pembicaraan Pusha tentang para pendengar di lagu “Adonin”, tak ada banyak alasan untuk mengantisipasi hal-hal yang akan mengarah ke arah yang fatal ini. Sebaliknya, ini bak suatu hidangan besar bagi para pecinta rap dari segala umur. Meskipun jika percekcokan ini berakhir damai, seperti dalam kasus Jay Z dan Nas atau MC Shan dan KRS-One, hal ini tetap akan masuk ke dalam sejarah hip-hop, termasuk semua hal buruknya.

Sumber: consequenceofsound.net

Posted on June 1, 2018, 4:30 am

Tags:

Mata Mata Musik's Newsletter