×
×

Search in Mata Mata Musik

Tame Impala “The Slow Rush”: Kolase Indah Fusi Elemen Jadul

Posted on: 02/21/20 at 11:00 am

Cover ‘The Slow Rush’ oleh Tame Impala. (Gambar: Interscope).

TAME IMPALA
The Slow Rush
(2020, Modular/Interscope)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Mastermind Tame Impala, Kevin Parker ternyata doyan hip-hop. Kamu tidak akan mengetahuinya dari referensi dua album awalnya yang bercorak psychedelic rock, InnerSpeaker (2010) dan Lonerism (2012). Pengaruhnya juga tidak menyolok di album Currents (2015) yang lagu-lagunya nge-hit. Namun, kecintaan Kevin Parker terhadap hip-hop, khususnya sampling, ketahuan dari susunan blok konten musiknya, ketika doi mengatakan kepada The New York Times dalam interview: “Kamu dapat memiliki sebuah musik dari semua jenis yang berbeda, dan jika kamu dapat menuliskan sesuatu yang bermakna di atas musik itu, dan datang dari sumber yang berbeda, itu akan tergabung bersama. Dan orang-orang bahkan tidak akan pernah menyadari bahwa itu adalah era musik yang berbeda yang muncul bersama-sama”.    

Baca juga: Tame Impala Luncurkan Inisiatif Pengurangan Jejak Karbon Agar Ramah Lingkungan

Itulah filosofi yang diimplementasikan melalui album baru Kevin Parker yang telah lama diantisipasi, The Slow Rush. Kevin Parker tidak secara fisik mengambil sampel sound-nya dari vinyl-vinyl tua yang sudah berdebu. Kevin justru menggali lebih dalam, mengulik sound-sound-nya sendiri yang doi jadikan bahan bangunan musiknya. Ibarat mainan LEGO, Kevin membuat, mengumpulkan dan menyusun balok-balokan berupa potongan sound menjadi sebuah komposisi musik yang terstruktur.

Kelebihan: Ketika Lonerism adalah perluasan sound rock dari InnerSpeaker, The Slow Rush pun meluas dari Currents yang psychedelic pop. Secara garis besar, di album ini Kevin Parker memberikan atmosfer yang melayang-layang sebelum akhirnya menghanyutkan pendengar di bawah pengaruh synthetizer dan loop-de-loop (yang memberi sound repetitif). Ritme kibord begitu nge-drive lagu-lagu seperti ‘Borderline’ dengan alur disko yang sedikit lambat tapi goyang banget dan memiliki hook yang bertubi-tubi. Sama halnya pada ‘One More Hour’, ritem kibord dan efek gitar fuzz atau flanger memberi nuansa space-pop-rock yang mengingatkan kepada gaya ELO (Electronic Light Orchestra) era 1970an. Sedangkan ‘It Might Be Time’ bagaikan geberan slow rock Reo Speedwagon yang dibungkus pop riang Hall & Oates. Kevin Parker dengan mulus menggabungkan pengaruh-pengaruh tersebut dengan sumber materi yang beragam seperti instrumentasi dalam lagu ‘Ironside’-nya Quincy Jones (1971), musik techno/house era 1990an, rock 1980an, dan lain lain bagaikan kolase “old school” yang indah dan unik keluar dari otak Kevin Parker yang cemerlang.

Ketelitian Kevin Parker membuat musiknya mampu membius pendengarnya. Di sini Kevin Parker seperti mengeksplorasi masa lalunya, memikirkan masa depannya, dan menggunakan masa kini dengan menyatukan ketiga fase waktu tersebut.

Kevin Parker melihat suatu repetisi dalam kehidupan secara berbeda, tidak hanya memori indah, tapi juga memori menyakitkan. Baca di Wikipedia, Ayah Kevin meninggal di tengah rekaman mini album debut Tame Impala, dan belum pernah mendengar proyek putranya selesai atau melihat kesuksesannya menjadi musisi top. Kevin mengungkapkan kehancuran atas kematian ayahnya di masa lalu, terutama karena ayahnya selalu mengingatkannya tentang tidak dapat diandalkannya karier bermain musik.

Itulah inspirasi lirik lagu ‘Posthumous Forgiveness’, Kevin mengunjungi kembali hubungan dengan mendiang ayahnya, bagaimana dia mempercayai ayahnya sebagai seorang anak yang patuh, tumbuh skeptis di masa dewasa, dan memendam frustrasi ketika dia memberi tahu ayahnya, “Kamu memutuskan untuk membawa semua permintaan maafmu ke liang kubur”. Lagu yang intronya mirip ‘Hallowed Be Thy Name’-nya Iron Maiden ini terbagi dua babak. Babak pertama bernuansa trippy, babak kedua lebih tenang dan liriknya lebih kontemplatif, Kevin meninggalkan kemarahan dan bukannya berduka atas apa yang seharusnya terjadi. “Mau memberitahumu tentang waktu / Ingin memberitahumu tentang kehidupanku / Mau memainkan semua lagu-laguku / Dan dengarkan suaramu menyanyi bersama,” lantun Kevin dengan vokal falsetto yang polos. Musik Tame Impala tidak selalu menonjol pada liriknya, tetapi di lagu ini, kesedihan Kevin benar-benar nyata, musik dan liriknya saja bisa mengundang kita untuk berduka bersamanya.

The Slow Rush adalah tentang bergerak maju seperti meratapi masa lalu. “Apakah membantu untuk tersesat di kemarin?” Kevin Parker bertanya dalam chorus lagu ‘Lost in Yesterday’. Dia menjawab pertanyaannya sendiri dengan “infectious grooves” yang digerakkan oleh dominasi dentuman bass, catchy walau seperti mengambil sampel dari ‘The Way You Make Me Feel’-nya Michael Jackson, memotivasi kita untuk terus menari, perlahan tapi pasti untuk mengobati luka masa lalu. Untuk seseorang yang begitu tenggelam dalam nostalgia, Kevin Parker cukup piawai bagaimana menghidupkan kembali masa lalu dengan visi berwarna merah yang bisa melambangkan rasa hormat, kekaguman dan pengabdian seperti warna dominan cover album The Slow Rush.

Kekurangan: Memang sangat langka menemukan originalitas dalam musik zaman sekarang. Dari awal Kevin Parker pun telah mengakui bahwa, secara tidak langsung dia mengatakan bahwa musiknya merupakan hasil kolase aneka ragam sound dari masa lalu. Meski tetap saya anggap sebagai ide yang cemerlang, album ini bukan termasuk yang spektakuler. Ini adalah kesempatan yang terlewatkan untuk menjadikan The Slow Rush menjadi sesuatu yang benar-benar transendental, bukan hanya penerus yang solid dari Currents.

Baca juga: Tame Impala Harus ‘Insecure’ Dalam Proses Kreatif Album Barunya, ‘The Slow Rush’

Kesimpulan: Meski berjarak lima tahun dengan Currents, seolah-olah waktu berlalu lebih cepat dengan The Slow Rush. Mungkin kehidupan tur dan popularitas yang menyibukkan dia mengaburkan lima tahun menjadi hanya berjam-jam. Namun, The Slow Rush memberi Kevin Parker hiburan dari siklus tanpa akhir tersebut (nulis lagu-rekaman album-tur), kesempatan untuk bernapas dan merefleksikan dirinya sendiri. Dengan beberapa layer musik yang terdiri dari dream pop dan synth rock, dia mengundang kita untuk melakukan hal yang sama, untuk berdiri di atas atap rumah dan melihat dunia secara berbeda, untuk bermeditasi dengan konstruksi waktu. Kevin tidak pernah menawarkan jawaban mendalam untuk pertanyaannya tentang kehidupan. Dia hanya terus mencari tahu sama seperti kita semua. Dalam chorus lagu ‘On Track’, Kevin memberi tahu kami, “Masalah terus jatuh di pangkuanku, yeah / Tapi secara tegas, aku masih di jalur (on track)”. Dalam kehidupan yang bagaikan rollercoaster, Kevin mengingatkan kita untuk memperlambat waktu, mengatasi masalah itu satu per satu, dan tetap di jalur yang berliku.

Verdict: 8,5/10

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    King Gizzard & The Lizard Wizard

    King Gizzard & The Lizard Wizard Siap Rilis Album Ke-18, "Butterfly 30...

    King Gizzard & The Lizard Wizard (Foto: Jason Galea). King Gizzard & The Lizard Wizard. Yoi Australia punya nih. Setelah Tame Impala, gaya rock retr

    on May 12, 2021
    Rani Pani

    Ranu Pani 'Maha Sutradara', Single Spiritual Keren Bagi Semua Keyakina...

    Ranu Pani, mengingatkan nama obyek wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Dan Ranu Pani yang dibahas di sini merupakan band pengusung p

    on Apr 27, 2021
    Tim Bogert

    Bassis Rock Legendaris Tim Bogert (Vanilla Fudge, Cactus) Meninggal Du...

    Tim Bogert. Tim Bogert, bassis dan vokalis dari band pionir psychedelic rock Vanilla Fudge, meninggal dunia di usia 76 tahun setelah berjuang melawan kanker

    on Jan 14, 2021
    The Artchemists

    Eksplorasi Bebas The Artchemists Digeber Di Single 'Pararell' Yang Psy...

    The Artchemists. (Foto: dok. band). The Artchemists termasuk band rock pendatang baru asal Jakarta yang dibentuk pada awal tahun 2020. Nama The Artchemists

    on Jan 2, 2021