×
×

Search in Mata Mata Musik

TASHOORA – Pengembus Angin Perubahan (MMM Artist Of The Month)

Posted on: 04/27/20 at 12:00 pm

Ada yang terjadi di sudut mata kita. Sesuatu yang menimbulkan tanya tapi kita enggan mengutarakannya. Entah karena tabu atau yang terjadi di depan mata lebih mudah diterima. Sementara, Tashoora memilih untuk tidak mengesampingkan tanya-tanya tersebut.

Tashoora, ki-ka: Ikhwan Hastanto, Dita Permatas, Gusti Arirang, Danang Joedodarmo. (Foto: dok. Tashoora).

Band yang banyak berbicara tentang ke-Tuhan-an, agama, isu-isu sosial hingga kebijakan pemerintah ini terbentuk di tahun 2016. Setelah tujuh kali mengalami pergantian formasi, Tashoora hingga kini secara solid dihuni oleh Danang Joedodarmo (Gitar, vokal), Dita Permatas (vokal, akordion/kibord), Gusti Arirang (vokal, bass) dan Ikhwan Hastanto (gitar, vokal).

Baca juga: TASHOORA – Q & A (MMM Artist Of The Month)

Kiprah band ini berawal saat mereka ambil bagian dalam album Tribute to ERK (ERK = Efek Rumah Kaca, band indie pop legendaris) yang diinisiasi oleh Creative Commons Indonesia dan Ripstore Asia. Bersama formasi pertamanya, yakni Danang Joedodarmo (gitar akustik/perkusi/bass, vokal), Dita Permatas (akordeon/kibor, vokal), Danu Wardhana (violin), Andru Abdullah (trombone) dan Sasi Kirono (gitar elektrik), mereka masih belum memiliki nama untuk bandnya. Menjelang pendaftaran lagu cover ‘Desember’ milik ERK ke album kompilasi inilah, ide “Tashoora” tercetus dan dipilih karena nama tempat mereka biasa latihan dan berkumpul adalah Tasura Studio yang berlokasi di Jalan Tasura, Yogyakarta.

Setelah terbentuk, Tashoora menghabiskan satu tahun pertama lebih banyak berkutat di studio. Mereka meramu materi dengan gabungan isi kepala enam personil yang berbeda latar belakang musik. Tidak ada pakem khusus atau bahkan genre yang dibuat. Tashoora meraciknya secara mengalir seiring berkembangnya ide para personil.

“Kami bikin lagu mengalir aja, bahkan banyak berubah hingga sekarang aransemennya,” ujar Dita.

“Kami selalu tes di panggung, kalau dirasa kurang asik, kami ubah lagi musiknya,” ujar Danang menambahkan.

Setelah itu Andru Absullah digantikan oleh Gusti Arirang (vokal, bass). Gusti Arirang adalah putri sulung dari almarhum Djaduk Ferianto, aktor, sutradara, seniman musik legendaris kelahiran Yogyakarta. Gusti menjadi satu-satunya dari lima bersaudara yang mengikuti jejak musik sang ayah.

Bersama Gusti, plus penambahan Mahesa Santoso (dram), Tashoora akhirnya berhasil menciptakan 5 lagu dengan nuansa musik yang lebih variatif dan megah, yakni ‘Tatap’, ‘Terang’, ‘Ruang’, ‘Sabda’, dan ‘Nista’.

Pada Oktober 2018 lalu, Tashoora berani menggelar private showcase pertamanya. Acara ini diberi nama ‘Ruang Pertama Tatap Muka’ dan bertempat di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta. Aksi mereka di showcase inilah yang akhirnya diwujudkan menjadi mini album pertama Tashoora bertajuk Ruang sebelum akhirnya dirilis pada 14 Desember 2018.

“Sengaja merekam album ini live karena di balik itu semua ada keresahan yang sama, soal banyak anak band yang rekaman di studio bagus dan dipoles, pas live kurang bagus. Makanya kami kepikiran kenapa enggak bikin live aja,” ungkap Danang.

Kemudian, di awal tahun 2019, Tashoora meluncurkan single berjudul ‘Hitam’ yang menceritakan proses eksekusi hukuman mati di Indonesia.

Seperti EP Ruang, dalam single ‘Hitam’, Tashoora kembali bekerja sama dengan Degup Detak Records (Yogyakarta) dan Juni Records (Jakarta). Bersamaan dengan dengan peluncuran single tersebut, Tashoora terpilih sebagai Spotify Early Noise 2019 Featured Artist.

“Kami sangat senang dapat menampilkan Tahoora sebagai artis Early Noise pada 2019. Meskipun terbilang baru, mereka telah memiliki identitas musik yang berbeda. Kami percaya Spotify dapat membantu Tashoora menceritakan kisah mereka dan menghubungkan musik mereka ke seluruh penikmat musik dari seluruh dunia melalui inisiatif Early Noise,” kata Chee Meng Tan, Head of Artist & Label Marketing, Asia, Spotify.

Disusul pada bulan Juli 2019, Tashoora merilis single berikutnya yang berjudul ‘Surya’. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi mereka bersama Rifki Bachtiar, vokalis dari band death metal dari Jakarta, Revenge.

Setelah itu, Tashoora merilis album full length debut mereka pada akhir tahun 2019 dengan judul Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya. Album ini kembali dirilis oleh kolaborasi Degup Detak Records (Yogyakarta), Juni Records (Jakarta) dan Nadarama Recording (Jakarta).

Baca juga: Tashoora Rilis ‘Sintas’ Kolaborasi Dengan Narasi Untuk OST “The Invisible Heroes”

Karya pertama Tashoora di tahun 2020 adalah single ‘Sintas’ yang merupakan hasil kerjasama Tashoora dan Narasi TV. Lagu ini diciptakan untuk dipergunakan sebagai OST (Original Soundtrack) resmi “The Invisible Heroes”, sebuah serial dokumenter oleh Narasi dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Paramadina. Serial ini sudah bisa ditonton daring sejak 11 Maret 2020.

Cerita Bertanda Tanya Besar Di Balik Lirik Lagu-Lagu Tashoora

Pengaruh terbesar dalam penulisan lagu-lagu Tashoora adalah peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi di sekitar mereka. Oleh sebab itu, Tashoora sendiri menilai bahwa lagu mereka bisa disebut sebagai pelaporan kembali suatu peristiwa atau reportase dengan menyelipkan tanda tanya di tengahnya.

Terang

‘Terang’ terinspirasi dari peristiwa persekusi Ahok (Basuki Tjahja Purnama) di tahun 2017. Peristiwa di mana manusia tergila-gila terhadap agama seolah kita berhenti pada sila pertama dalam Pancasila dan lupa dengan keempat sila lainnya. Agama yang dibela dengan cara-cara brutal membuat Tashoora menggarisbawahi peristiwa tersebut dengan penggalan lirik “surgamu yang mana?”.

Nista

Masih dari rentetan peristiwa serupa, pada bulan Maret 2017 di Jakarta, jenazah Ibu Hindun dan Ibu Rohbaniah ditolak untuk disolatkan di masjid setempat. Alasan di baliknya adalah pilihan politik yang membuat keduanya disebut sebagai pendukung kafir atau pembela penista agama. Peristiwa tersebut yang menjadi cerita di balik lagu “Nista”. Konflik SARA ini berpusat di Jakarta namun efeknya menyebar hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Sabda

“Sabda”, lagu ini merupakan potret peristiwa yang terjadi di kota kelahiran Tashoora, Yogyakarta. Pemerintah Daerah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih memberlakukan kebijakan yang menyebutkan bahwa non-pribumi tidak boleh memiliki tanah di Yogyakarta. Kebijakan yang sudah ada sejak 1975 ini dibuat “untuk melindungi ekonomi masyarakat lokal”. Meskipun Komnas HAM sudah menegur pemerintah Yogyakarta karena kebijakan ini dinilai diskriminatif, teguran tersebut tidak ditindaklanjuti dengan positif. Dua peristiwa yang menjadi pijakan lagu “Sabda” adalah tuntutan Siput Lokasari – seorang warga keturunan Tionghoa – terhadap Sultan karena merasa ada diskriminasi dalam kebijakan kepemilikan tanah tersebut dan tuntutan Eka Aryawan kepada lima pedangang kaki lima sebesar Rp 1,2 miliar karena menggunakan sebagian tanah tempat usahanya. Adanya diskriminasi, masalah dari masa lalu yang masih dianggap relevan, sampai inkonsistensi pemeritah dalam menerapkan kebijakan memunculkan banyak tanda tanya yang akhirnya ditumpahkan lewat lagu “Sabda”. Ditulis dari berbagai macam peristiwa diskriminasi terhadap LGBTQ, Ruang dapat dikatakan sebagai lagu introspeksi.

Ruang

Ruang dapat dikatakan sebagai lagu introspeksi. Melalui lagu ini, Tashoora menyampaikan untuk selalu berani memberikan ruang terhadap diri sendiri – bahwa yang esensial adalah jujur terhadap diri sendiri. Tatap merupakan lagu pertama yang dikerjakan oleh Tashoora. Lagu yang berbicara tentang ke-Tuhan-an ini terinpirasi dari konflik-konflik Agama yang pernah terjadi, mulai dari proses penyebaran agama di Indonesia, Perang Salib, Konflik Sunni-Syiah, Diskriminasi terhadap golongan Ahmadiyah[28] hingga peristiwa-peristiwa yang didasari oleh pembelaan terhadap agama.

Hitam

Dari sekian banyak isu sosial yang jarang diangkat grup musik Tanah Air, Tashoora mencoba angkat persoalan kebijakan hukuman yang dinilai primitif, yaitu hukuman mati, yang masih berlaku di Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang masih memberlakukan hukuman mati, dengan kasus terbanyak yang mendapat hukuman tersebut adalah narkoba, terorisme dan pembunuhan berencana,” ungkap Danang.

Danang pun menambahkan sebagian masyarakat masih percaya bahwa kebijakan itu dapat memberi efek jera kepada para pelaku kejahatan dan berperan mengurangi angka kejahatan.

Bukan hanya bercerita kebijakan primitif, melalui ‘Hitam’, Tashoora juga menggambarkan proses yang harus dijalani dalam kebijakan tersebut. Mulai dari tata cara pelaksanaannya menurut undang-undang, jumlah personil regunya, hingga aba-aba yang tidak dilakukan secara verbal.

Hal unik terlihat pada artwork cover yang menyertai rilisan ‘Hitam’. Bekerja sama dengan fotografer Antonius Dian dan mengambil lokasi di Yogyakarta, para personil Tashoora dipotret dalam pose berbalut kain merah, lengkap dengan aksesoris penutup mata merah dan setangkai mawar di mulut.

Menurut sang fotografer, visual itu merupakan interpretasinya atas lagu ‘Hitam’, yang coba disampaikan melalui karya seni foto, tentang cinta kasih dan tragedi.

Tidak hanya di artwork cover, video musik resminya pun mendapat sentuhan seni yang memuaskan. Seorang sutradara muda bernama Wregas Bhanuteja diajak bekerja sama untuk memberikan interpretasinya atas lagu ‘Hitam’ dan isu yang diangkat dalam lagu itu.

“Menggambarkan pergulatan batin seseorang yang akan menjalani eksekusi,” ujar Wregas mengenai video musik yang dibuatnya.

Sintas

‘Sintas’, lagu yang menangkap kisah bangkitnya para penyintas konflik yang juga berkontribusi langsung kepada kemanusiaan di sekitarnya. Peristiwa konflik apapun bentuknya pasti meninggalkan luka. Beberapa tenggelam dalam gelap, beberapa berhasil keluar dari kegelapan dan menuju cahaya menjadi sinar untuk sekitarnya.

‘Sintas’ menjadi OST “The Invisible Heroes”, serial dokumenter yang memaparkan secara visual-audio berbagai rekam jejak perjuangan para penyintas konflik dalam menjalani hidup sehari-hari sembari berusaha melupakan bayangan kepahitan masa lalu. Penyintas yang diangkat serial ini tidak terbatas hanya pada konflik perang saja, namun juga diskriminasi rasial, konflik berbasis gender dan kelas, bencana alam, body-shaming, hingga perundungan.

Tashoora melihat musik sebagai pembuka dialog yang kuat dan mereka tidak takut untuk menggunakan musik dan lirik untuk mengekspresikan pandangan mereka terhadap ketimpangan sosial yang ada. Menghibur dengan musik yang sangat memukau dan di saat yang bersamaan memberikan awareness bahwa kehidupan di sekitar tidak baik-baik saja dan memerlukan gerakan untuk perubahan.

Berdasarkan sederet fakta menarik tentang Tashoora, sudah selayaknya MataMata Musik menjadikan kuartet yang enggan untuk diklasifikasikan genre musiknya ini sebagai Artist Of The Month untuk bulan April 2020.

Yuk kita tonton video Q & A MataMata Musik dengan Tashoora di bawah ini.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi
Sumber: Siaran Pers, Beberapa Literatur
Narasi & Direktur Video Q & A: Dharma Samyayogi
Videografer Q & A: Yusak Anugerah

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Stars and Rabbit Vs Tashoora

    Turnamen Babak 1 - Side A: Stars and Rabbit Vs Tashoora. Vote Sekarang...

    Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau Twitter kamu atau bikin akun sebentar di Disqus.

    on Jul 2, 2020
    Tashoora

    TASHOORA - Q & A (MMM Artist Of The Month)

    https://youtu.be/YmAPsDbCg_g Tashoora adalah band yang banyak berbicara tentang ke-Tuhan-an, agama, isu-isu sosial hingga kebijakan pemerintah. Pada 11 Ma

    on Apr 27, 2020
    Tashoora

    Tashoora Rilis 'Sintas' Kolaborasi Dengan Narasi Untuk OST "The Invisi...

    Peristiwa konflik apapun bentuknya pasti meninggalkan luka. Beberapa tenggelam dalam gelap, beberapa berhasil keluar dari kegelapan dan menuju cahaya menja

    on Mar 17, 2020
    STARS AND RABBIT

    STARS AND RABBIT - Perjalanan Pop Eksotik Rainbow Aisle (MMM Artist Of...

    https://youtu.be/tlpQGE1JFmY Di tengah jadwal perilisan album Rainbow Aisle, Stars and Rabbit melakukan tur ke beberapa kota di Asia yang dimulai 19 Febru

    on Mar 12, 2020