×
×

Search in Mata Mata Musik

The Libertines Tampil Live di Parr Hall Warrington

Posted on: 09/1/18 at 6:01 pm

Oleh Dan Dixon (Louder than War)

Saat melihat daftar nama untuk sebuah konser, agak langka rasanya menemukan nama band yang jelas lebih besar tidak hanya dari tempat konsernya tetapi juga dari kota di mana mereka akan tampil. Meski begitu, dikarenakan Empress Ballroom yang tersohor di Blackpool sedang dalam proses renovasi, The Libertines terpaksa harus menunda penampilan mereka pada tur ‘Tiddely om Pom Pom’ 2017 mereka di kota-kota tepi pantai dan bergeser sedikit ke pedalaman, di atas River Mersey ke Parr Hall, bangunan kelas 2 yang memiliki reputasi sendiri, di Warrington.

Bertempat di antara kota Manchester dan Liverpool, meskipun pengumumannya baru diturunkan 7 hari sebelum acara berlangsung, pertunjukan yang digelar pada hari Jumat malam ini tetap berhasil menarik perhatian orang-orang dan 1100 tiket langsung habis terjual dalam waktu 3 menit sejak penjualan dibuka. Terlepas dari reputasi tempat kecil yang fantastis ini, sangat jarang The Parr Hall dikunjungi oleh band sebesar The Libertines. Jadi kerugian Blackpool, meski hanya sementara karena jadwalnya dipindahkan ke bulan Desember, menjadi keuntungan Warrington.

Malam acara dimulai dengan set dari Bright Young People, band asal Rhyl yang berisi 3 personil, yang diperjuangkan oleh drumer The Libertines Gary Powell dan dikontrak ke label rekamannya, 25 Hour Convenience Store. Sementara perbandingan dengan Black Rebel Motorcycle Club tidak dapat dihindari, Bright Young People jelas bisa tampil karena bakatnya, dan mampu memenangkan hati para penonton yang sebagian besar acuh tak acuh, dengan penampilan yang berani dan lagu terbarunya “Suppress Happiness” yang menjadi highlight set mereka. Dengan chorus yang bersemangat dan kekuatan dari lagu lainnya “Liberties” dan “Give Me the Look”, Bright Young People pasti tidak akan lagi menjadi pijakan/pembuka untuk band-band lain jika mereka bisa mempertahankan intensitas penampilan live mereka.

Setelah aksi sulap yang sangat biasa saja dari grup pesulap bernama Mod Magician, acara musik dilanjutkan dengan penampilan yang lebih lama dari Trampolene, band asal Wales lainnya yang berisi 3 personil yang dipimpin oleh vokalis karismatik Jack Jones. Jones bukan wajah yang asing buat kalian yang melihat tur The Libertines di 2016 setelah dia membantu mereka dan menarik hati para pengunjung arena melalui pembacaan puisinya, yang memperoleh pujian dari NME dan Dr John Cooper Clarke yang legendaris. Untungnya bagi para penonton malam ini, interlude dengan kata yang diucapkan masih menonjol dalam setting yang lebih intim ini, dengan “Poundland” dan “What it Means to be a Libertine” yang meraih sambutan yang sangat baik. Ketika bakat musik Wayne Thomas (bass) dan Rob Steele (drum) mulai dikeluarkan, sangat jelas untuk semua yang hadir kalau Trampolene adalah band pendukung yang lebih berpengalaman dan ‘dipoles’ dari yang lainnya, dan meskipun set mereka riuh dari awal hingga akhir (dengan tiang mikrofon yang disundul ke arah fotografer mereka) penampilan mereka menarik dan sangat menghibur. Trampolene membawakan sejumlah lagu dengan cepat dari album mendatang mereka Swansea to Hornsy yang dijadwalkan untuk rilis di Mi7 bulan depan, mendorong para penonton untuk melompat-lompat bersama sebagai bentuk apresiasi – band ini tentu akan melangkah jauh dalam kariernya.

Hampir seperti jentikan saklar lampu, Parr Hall kemudian membahana seiring Gary Powell, Pete Doherty, Carl Barat dan John Hassall muncul di atas panggung diiringi “I do like to be beside the seaside” di depan latar belakang bendera ikonis mereka. The Libertines kemudian tampil dengan penuh semangat selama 2 jam berikutnya, dengan Doherty dan Barat yang tampil menggairahkan, tampaknya menikmati kesempatan untuk bermain di tempat yang lebih intim. Keduanya terus menempel sepanjang acara, membuat gembira semua orang yang hadir, yang secara tidak mengejutkan telah segaduh penggemar sepak bola saat melihat pemain idolanya di jalan.

Lagu live utama “Vertigo” dan “Horror Show” dengan sempurna dipadukan dengan “Gunga Din” dan “I’ll Be Your Waterloo”, dengan setiap lagu dari album mereka di 2015 Anthem for Doomed Youth yang benar-benar diserap oleh penonton. Carl bergabung dengan barisan penonton di depan untuk bagiannya di lagu klasik “What Katie Did” dan dengan cepat digantikan di atas panggung oleh seorang fans yang menghampiri Pete dan memberinya ciuman, yang dengan sempurna menangkap cinta dan apresiasi yang mengudara sepanjang 2 jam aksi mereka. Diperjelas dengan nyanyian yang menggema untuk mendukung Jeremy Corbyn, pembawaan yang sangat bagus untuk lagu “Music When the Lights Go Out” tentunya meyakinkan setiap pengamat netral bahwa The Libertines masih bisa berjaya setelah apa yang mereka lalui dan layak mendapatkan kredit besar untuk bertahan sebagai sebuah band dan tetap menjadi relevan 20 tahun setelah mereka terbentuk. Sementara “Up the Bracket” dan “Time For Heroes” hampir memulai kerusuhan, “Can’t Stand Me Now” dan “Don’t Look Back Into the Sun” menjadi klimaks dari set mereka dan saat tiang mikrofon yang sama dilemparkan ke udara untuk kedua kalinya dan dilempar ke kerumunan, para penggemar yang bernostalgia dibuat bertanya-tanya apa mungkin malam ini bisa menjadi lebih baik lagi.

Mereka seharusnya tidak bertanya-tanya, karena saat Pete, Carl dan Gary kembali ke panggung untuk sebuah encore mereka memanjakan para fans dengan membawakan “I Wanna Be Adored” dari The Stone Roses, dengan Pete di bagian bass, Carl di drum dan Gary yang telanjang dada mencoba menjadi Ian Brown. Dengan Brown yang terlahir di kota ini dan The Stone Roses menandai kejayaan kembali mereka di 2012 di gedung ini juga setelah rehat selama 16 tahun, pentingnya pemilihan lagu ini tidak hilang untuk para fans Warrington. Sementara kehadiran The Libertines di kota ini terlihat sangat tidak cocok, encore-nya menunjukkan bahwa mereka sangat menikmati malam yang spesial di tempat yang ‘reyot’ ini, dan konser mendadak ini mungkin besar artinya bagi mereka seperti bagi kami, beberapa orang beruntung yang berhasil mendapatkan tiket.

 

Posted on September 23, 2017

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Tool Perdana Bawakan 2 Lagu Baru Secara Live

Tool Selipkan 2 Lagu Baru di Setlist Konser Terbarunya

Band ini perkenalkan “Descending” dan “Invincible” dalam konser mereka di Jacksonville. Baca Juga: Dua Alat Musik Milik Lamb of God Raib Dicuri!

on May 7, 2019
Coachella 2019 Ungkap Jadwal Siaran Langsung & Video

Jadwal Siaran Langsung Coachella 2019!

Tahun ini, Coachella juga akan menyiarkan langsung sejumlah penampilan dari akhir pekan pertama di saluran Youtube-nya. Sekitar 69 artis yang sudah dikon

on Apr 11, 2019
Tonton Rekaman Live Deftones Perdana Bawakan “Be Quiet and Drive”

Tonton Rekaman Live Deftones Perdana Bawakan “Be Quiet and Drive”

Klip ini direkam sebulan sebelum Deftones merilis Around the Fur di 1997 YouTube sudah ada selama 14 tahun, jadi penggemar musik punya banyak waktu untuk m

on Apr 10, 2019
Pete Doherty & The Puta Madres Rilis Video Musik Terbaru-1

Pete Doherty & The Puta Madres Rilis Video Musik Terbaru

Pete Doherty & The Puta Madres akan berangkat tur pada bulan Mei Oleh Andrew Trendell (NME) Pete Doherty dan band barunya Pete Doherty & The Puta

on Feb 26, 2019