×
×

Search in Mata Mata Musik

The Suicide Machines Kembali Dengan Album Terbaru Mereka, ‘Revolution Spring’

Posted on: 03/24/20 at 9:15 am

Suicide Machines (Foto: Instagram.com/@suicidemachinesdetroit).

Vokalis utama Jason Navarro sebelumnya tidak yakin bahwa The Suicide Machines akan pernah membuat album lain – dan dia tidak masalah dengan itu. Jadi, kembalinya band punk rock asal Detroit ini pada tanggal 27 Maret dengan album barunya, Revolution Spring, secara keseluruhan datang sebagai sesuatu yang mengejutkan.

“Ketika inspirasinya muncul, kami memiliki lagu-lagunya,” ujar Jason Navarro kepada Billboard. Proses itu terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ia menambahkan, ketika bandnya – yang terbentuk pada tahun 1991 dan merilis enam album studio untuk label Hollywood Records milik Walt Disney – muncul dengan sejumlah materi yang baru. “Tiga dari mereka benar-benar bagus,” kenang sang pentolan The Suicide Machines. “Kemudian beberapa bulan kemudian kami berkata, ‘Mari kita coba menulis beberapa lagu lagi’…dan kami melanjutkan proses penulisan dan mendapat 28, 29, 30 lagu di dalamnya dan berkata, ‘Wow, ada lebih dari cukup materi untuk satu album yang sangat bagus di sini'”.

The Suicide Machines mengirim demo dan menandatangani kontrak dengan label Fat Wreck Chords, denagn merekam album Revolution Spring bersama Roger Lima dari band Less Than Jake di studio Rancho Recordo di Michigan, Amerika Serikat (AS).

“Kami merobohkannya – saya pikir itu berjalan 12 hari, mungkin lebih lama dari yang saya inginkan, tetapi kami mengambil waktu secukupnya,” kata Jason Navarro. “Kami tidak begadang dan merekam lagu sampai jam empat pagi. Jika kami merasa lelah untuk hari itu, kami akan beristirahat. Prosesnya berjalan cukup santai”.

Revolution Spring membawa gaya bermusik The Suicide Machines ke arah kreatif yang agak berbeda. Nuansa punk-nya masih ganas, dan ada beberapa lagu berpikiran politik seperti ‘Detroit is the New Miami’ tentang pemanasan global, ‘Bully in Blue’ tentang aksi kekerasan polisi dan ‘Flint Hostage Crisis’ tentang masalah yang berkelanjutan di kampung halaman band.

Tetapi sebagai rilisan pertama band ini tanpa ditemani sang gitaris/penulis lagu sekaligus salah satu pembentuk The Suicide Machines, Dan Lukacinsky, sebagian besar dari 16 lagu dalam album itu terasa “cukup otobiografi,” menurut Jason Navarro, yang mencatat perjalanan hidupnya sendiri dari masa pemberontak (tentunya dengan alasan) hingga menjadi orang dewasa dan orang tua dengan sudut pandang yang berkembang mengenai dunia.

“Kisah saya tidak lebih menarik daripada kisah orang lain, tetapi saya merasa hal itu mungkin menjadi inti dari album ini,” jelas Jason Navarro, yang bekerja sehari-hari di gudang distribusi Gordon Food Service dan merupakan aktivis sosial, terutama dengan organisasi Food Not Class. “Saya pikir orang-orang akan mendengarkan (lagu-lagu) ini dan mereka cukup terbuka sehingga bisa merasa seperti mereka telah melalui sesuatu yang sama. Saya tidak benar-benar memperhatikan hal itu terjadi pada tiga lagu pertama, tetapi ketika kami sampai pada babak berikutnya, saya menemukan arah kohesif ini untuk mendorong segi liriknya”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter