×
×

Search in Mata Mata Musik

The Voidz Tak Peduli Apa Kata Orang!

Posted on: 04/2/18 at 1:30 pm

Julian Casablancas dkk. yang tergabung dalam The Voidz menjelaskan bagaimana album terbaru mereka yang super aneh ini berhasil diciptakan, mulai dari berbagai ide gila hingga kesamaan pandangan politik.

Oleh: Steven Edelstone. (Consequence of Sound)

Di tengah-tengah wawancara saya dengan The Voidz, tiba-tiba hidung saya berdarah. Awalnya saya mencoba menyembunyikannya, tetapi setelah beberapa menit, dengan darah mengalir di wajah saya, saya harus menghentikan sejenak obrolan kami dan berlari ke kamar mandi, membiarkan FaceTime dan rekaman saya tetap berjalan.

Tak lama setelah mengutarakan kata-kata bijaknya – “Kamu seharusnya mengambil swafoto ala Andrew WK! Pakai kaos putih dan kami punya kostum Halloween-mu selanjutnya!” – Julian Casablancas mulai membacakan kutipan dari buku biksu Buddha Vietnam, Thich Nhat Hanh, Creating True Peace: Ending Violence in Yourself, Your Family, Your Community, and the World.

“Ketika kita mempercayai sesuatu sebagai kebenaran absolut, kita telah terperangkap dalam pandangan kita sendiri,” bacanya, kemudian menambahkan: “Kita mungkin mempraktekkan semacam kekerasan dengan mendiskriminasikan dan mengecualikan mereka yang mengikuti jalan spiritual lainnya… Terperangkap dalam pandangan kita sendiri bisa sangat berbahaya dan menghalangi kesempatan bagi kita untuk mendapatkan kebijaksanaan yang lebih dalam.”

Baca Juga: Arctic Monkeys ‘Tersandung’ di Album Tranquility Base Hotel & Casino

Nampaknya, seluruh keberadaan The Voidz di tahun 2018 adalah upaya untuk membuktikan kutipan ini. Mereka bersikeras melampaui batas, mengeluarkan musik yang mereka sendiri ingin dengarkan, tidak semata-mata untuk orang lain. Alih-alih tetap berada di satu jalur, album terbaru mereka, Virtue, memperlihatkan mereka keluar-masuk lima atau enam jalur sekaligus, membawa kita semua bak di atas roller coaster, dengan tempo yang cepat berganti dan genre yang juga cepat beralih di setiap lagunya secara beruntun.

Virtue memperlihatkan band ini, yang terdiri dari para veteran industri musik dari berbagai spektrum indie rock, agak meredam keanehan era Tyranny mereka untuk sesuatu yang sedikit lebih mudah didengar. Namun dalam eksekusinya, pentolan The Strokes dkk. menolak mendengarkan kritik yang sebagian besar mencela album debut mereka di tahun 2014, memungkinkan mereka untuk menjelajah berbagai pengaruh dan gaya yang berbeda di 15 lagu dalam Virtue.

Tapi jangan sebut ini sebagai risiko, ucap band ini kepada saya – mereka hanya sedang mengikuti minat musik mereka.

“Semua orang di band ini sangat terbuka dalam hal musik, sehingga menciptakan lingkungan yang baik untuk berkarya,” tutur gitaris Amir Yaghmai dari kediamannya di Los Angeles, berbagi sofa dengan anggota band lainnya. “Saya tidak khawatir tentang sesuatu menjadi terlalu pop atau terlalu eksperimental ketika saya duduk di ruangan dengan orang-orang ini. Ini pertama kalinya saya merasa seperti saya bisa memainkan apa saja yang saya benar-benar sukai dan tidak memikirkan tentang konteks yang ada di dalamnya atau para pendengar yang akan dijangkau. Rasanya seperti sebuah kebebasan yang menyenangkan saat kami nge-jam.”

Baca Juga: Review Album Lykke Li so sad so sexy

“Sepertinya kami semua menemukan apa yang kami semua lakukan [dengan baik],” kata gitaris Jeramy “Beardo” Gritter. “Semua orang memiliki kemampuan ini, dan saya merasa album ini seperti Voltron, di satu sisi, karena kami semua berkumpul dalam satu mesin besar. Kami tidak merencanakan apa pun; semuanya terjadi begitu saja. Saya pikir untuk album ini, hal tersebut membuat segalanya lebih cepat dan lebih lancar.”

Namun meskipun masing-masing personil berasal dari latar belakang musik yang berbeda – Beardo memiliki band punk, keyboardist Jeff Kite adalah penyanyi utama band indie pop Beat Club, drummer Alex Carapetis adalah member tur Wolfmother – minat besar di dunia politik lah yang menghubungkan mereka semua. Walau band ini terlihat ingin fokus pada album itu sendiri daripada politik pada umumnya – kunjungi kembali profil liar Casablancas di Vulture untuk itu – iklim politik saat ini mustahil diabaikan, terutama karena berfungsi sebagai pengaruh besar bagi lirik di album ini.

“Saya pikir semua konflik, baik dalam keluarga atau perang di negara-negara, didasarkan pada gagasan bahwa kamu melihat pandanganmu sebagai kebenaran dan kamu melihat orang lain dengan pandangan yang berbeda sebagai yang salah, dan saya pikir itulah di mana banyak isu dan konflik terjadi,” kata Casablancas, menjelaskan seringnya penggunaan kata “kebenaran” dan “kebohongan” pada Virtue. “Saya pikir album ini dan lirik-liriknya – saya berusaha membuatnya tetap relevan dan universal, jadi saya rasa ini adalah suatu kebetulan bahwa konsep universal terjadi.”

Casablancas menyanyikan cukup banyak tentang dasar konflik dan apa yang nyata dan apa yang palsu pada koleksi lagu terbaru ini. “Pembunuhan atas nama keamanan nasional” menitikberatkan gaya Gorillaz lagu “ALieNNatioN” sementara heavy punk di lagu “Black Hole” mencakup baris “What’s that say?/ NSA, NRA at the gates of psycho city (Apa yang dikatakannya?/ NSA, NRA di gerbang kota psycho),” dua kali.

Baca Juga: DAY6 Tampil Bertenaga di “Shoot Me”

Casablancas juga tampaknya tidak yakin di mana dia berpihak di sepanjang album, seperti dalam lirik: “I don’t really know where I’m going/ Not sure that I want to be knowing (Saya tidak benar-benar tahu ke mana saya pergi/ Tidak yakin saya ingin tahu).” Baris pertama di lagu “All Wordz Are Made Up” memperlihatkannya membisikkan baris, “No one will care about this in 10 years (Tak ada yang akan memperdulikan hal ini dalam 10 tahun ke depan),” tampaknya mengulang kritik yang dilontarkan pada The Strokes sekitar tahun 2001.

Meskipun liriknya mungkin terlihat seolah-olah dia merasa tersesat di dunia yang semakin gelap, Casablancas, beserta kelima personil The Voidz lainnya, merasa sangat nyaman dengan satu sama lain, menciptakan musik yang begitu aneh – dan terkadang indah – untuk mereka sendiri dan bukan orang lain, mendorong satu sama lain untuk menghasilkan sebuah album yang mereka ingin dengarkan ketimbang untuk para kritikus. Virtue adalah album yang tidak melulu mengalir sebagai koleksi yang kohesif, namun memang tidak pernah dimaksudkan begitu.

The Voidz dimulai sebagai saluran kreatif bagi Casablancas dan kolaborator barunya untuk bereksperimen dan bertingkah aneh dengan cara yang tidak dapat – dan terkadang tidak akan – diperbolehkan secara individu. Setelah mendengarkan album ini, kamu merasa bahwa di setiap perubahan yang aneh, untuk setiap pekik gitar atau suara yang di-Auto-Tuned, Casablancas di suatu tempat menyeringai dirinya sendiri, senang karena dia memiliki album di mana dia akhirnya bisa menjadi diri sendiri.

Keterangan foto utama: The Voidz bersama Julian Casablancas. (Foto: Consequence of Sound)

Sumber: consequenceofsound.net

Posted on April 2, 2018, 11:00 am

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

The Strokes

Album Baru The Strokes Sudah Rampung?

Penantian panjang penggemar The Strokes tampaknya akan segera berakhir. Gitaris The Strokes, Nick Valensi, mengisyaratkan album baru band yang sudah lama ditu

on Sep 9, 2019
The Voidz

The Voidz Daratkan Single Baru, “The Eternal Tao”

Single yang diproduseri oleh Mac Demarco dan Kirin J Callinan, sekaligus hadirkan video musik yang menampilkan sample dari video kencan yang familiar. Baca

on May 30, 2019
The Strokes

The Strokes Bawakan Single Baru!

“The Adults Are Talking” menjadi musik baru pertama mereka sejak 2016 dan dibawakan pertama kali pada saat tampil di sebuah acara amal di Los Angeles.

on May 15, 2019
Claire Elise Boucher Akan ‘Bunuh’ Grimes!

Claire Elise Boucher Akan 'Bunuh' Grimes!

Dalam wawancara dengan WSJ Magazine, artis asal Kanada ini juga membahas tentang Elon Musk dan rencananya mengeksekusi persona Grimes di hadapan publik. Ole

on Mar 25, 2019