<-- Google Tag Manager -->
×
×

Search in Mata Mata Musik

Tom Morello Naik Ke Atas Panggung Untuk Guncang Dunia!

Posted on: 08/9/19 at 5:00 pm

Gitaris kondang ini membahas soal festival, komitmen pertunjukan live yang sempurna, dan mengapa musik protes sama pentingnya dengan sebelumnya.

Ambil tiga perempat personil Rage Against The Machine dan Audioslave—gitaris Tom Morello, bassist Tim Commerford dan drummer Brad Wilk—plus Chuck D dan DJ Lord Public Enemy, dan B-Real dari Cypress Hill, dan apa yang kalian dapatkan? Prophets Of Rage, pastinya. Supergroup ini merilis album debut eponim mereka di 2017 silam, dan “Made With Hate” di tahun ini.

Prophets of Rage saat ini sedang sibuk tampil di berbagai festival di Eropa. Minggu lalu, Tom Morello mengunggah foto bangunan apartemen di Jerman yang ditempati ibunya 70 tahun lalu ke Instagramnya. Setelah selesai tur dengan bandnya, Morello berencana akan menjalani tur solo di Amerika Utara.

Berikut ini kami rangkumkan untuk kalian sesi wawancara Rock Sound dengan Tom Morello. Di sesi wawancara ini, Morello berbicara soal banyak hal. Mulai dari visi untuk dirinya sendiri dan tentunya hal-hal menarik lainnya yang berputar di sekitar Prophets of Rage. Langsung simak!

Mendirikan Prophets of Rage. Seberapa sulit menyeimbangkan antara elemen yang lebih seru dari pertunjukan dan menggunakannya sebagai platform untuk aktivisme dan komentar sosial?
“Itu membutuhkan banyak usaha dan tidak mudah. Pada latihan pertama, itu tidak sepenuhnya terbentuk. Kami berusaha dengan sangat keras, dari menciptakan chemistry pribadi dan musikal sampai mengatur setlist dengan benar. Ada keseriusan di dalamnya, kesungguhan untuk apa yang kami lakukan, tapi itu juga sebuah perayaan. Itu adalah perayaan musik, dan perayaan perlawanan.”

“Kaiian benar-benar merasakan hal itu di banyak konser ini. Banyak audiens yang belum lahir ketika Rage Against The Machine bubar, jadi mereka tidak terlalu familiar dengan itu. Mungkin mereka menemukannya di satu titik, atau mungkin mereka baru menemukannya sekarang. Jadi respons yang luar biasa, di setiap malam, tentu memberi kami semangat lebih.”

Jadi Anda melihat akan ada audiens baru? Karena mewujudkan itu pasti menjadi salah satu tantangan terbesar bagi para artis dengan warisan yang sudah ada.
“Pasti. Saat kami mendirikan band ini, itu adalah respons spontan terhadap situasi politik yang gila di Amerika Serikat. Tapi kemudian kami sadar, ‘Hei, kami sudah jadi band sekarang, kami menikmati ini, dan mengapa tidak mengerjakan beberapa lagu baru?’ Kami membawa banyak musik baru ke set, dan ini berjalan dengan sangat mulus. Tidak ada yang pernah berniat ini menjadi seperti, ‘Penampilan lagu-lagu favoritmu dari era Lollapalooza!’ atau semacamnya. Agar kami bisa melakukan ini, ini harus menjadi penting. Berita baiknya adalah, antara Tim, Brad dan saya, kami sudah punya chemistry musik sejak pertama kali kami berkumpul pada 1991. Chemistry itu masih sangat utuh di 2019.”

Apa yang menjadi kenangan favorit Anda saat tampil dengan Prophets of Rage – dan yang lebih spesifik – dari pertunjukan kalian baru-baru ini?
“Terkait pekerjaan solo saya, saya sangat senang bisa menjadi pembuka untuk Muse di konser stadion mereka beberapa waktu lalu, itu fantastis. Sangat luar biasa bisa terhubung dengan audiens sebesar itu, sangat menggairahkan. Prophets belum banyak mengadakan tur saat ini, tapi [penampilan di] Madrid sangat keren, dan konser kami di Polandia menarik salah satu audiens terbesar kami. Luar biasa mengetahui bahwa di belahan dunia lain, di satu lapangan yang gila, hampir satu juta orang akan menggila dengan lagu-lagu lama, lagu-lagu baru, apa pun.”

Melihat ke depan, apa rencana Prophets of Rage berikutnya?
“Selain lagu baru yang baru saja kami keluarkan, ‘Made With Hate’, kami sedang mengerjakan materi baru yang kami harap bisa dikeluarkan sekitar minggu depan, sebagai tanggapan terhadap keadaan khusus yang terjadi di negara kami sekarang. Kami berharap bisa merilis lebih banyak lagi setelah itu, dan terus mengerjakan musik. Di zaman sekarang ini, saya tidak yakin apakah album memiliki arti seperti dulu, tapi kami akan terus mengerjakan materi untuk menjelajah suara kami, siapa kami di 2019 dan seterusnya.”

Dalam hal tujuan keseluruhan proyek ini, seberapa banyak dari tujuan itu yang ingin mencoba menginspirasi gelombang baru musik protes? Ada banyak yang dikatakan soal kelangkaan musik bergaya protes sepert itu, tapi tergantung di mana Anda melihatnya…
Tentu saja, pasti ada kelangkaan ‘protest music’ di puncak tangga lagu, tapi itu bukan berarti musik bergaya seperti itu tidak ada,” jelasnya. “Musik seperti itu bertujuan membuat orang yang merasakan hal yang sama merasa tidak begitu sendirian, mendorong gerakan mendasar—orang-orang yang tidak diwawancara di majalah tetapi bekerja setiap hari untuk berusaha dan membuat planet ini lebih adil dan layak. Saya melihat mereka setiap hari, di setiap pertunjukan. Saya melihat mereka di toko swalayan.

Musik itu benar-benar menghubungkan dan penting. Itu membantu menguatkan keberanian orang-orang yang berjuang untuk planet yang lebih baik. Itu tetap benar baik itu ada di puncak tangga lagu, di ruangan berisi 2.000 orang atau di depan 220.000 orang. Pekerjaan utama kami adalah musisi dan keahlian untuk menghibur kalian adalah sesuatu yang kami anggap sangat serius! Ini bukan tempat untuk diam. Saya akan tampil di luar sana untuk mengguncang kalian sebaik mungkin, kami akan berusaha ‘menghabisi’ kalian. Saya kasihan dengan siapa pun yang tampil setelah kami. Begitulah saya melihatnya!”

Jangan lupa buat menyaksikan penampilan Prophets of Rage di Hodgepodge Superfest 2019 pada 31 Agustus & 1 September 2019. Kalian sudah mengamankan tiket kan?

Artikel asli ditulis oleh Rob Sayce untuk Rock Sound dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Tom Morello. (Foto via Google Images)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

J. Cole

Album Baru J. Cole Mungkin Rilis Awal 2020, Intip Detailnya Sejauh Ini

J. Cole tidak membodohi siapa pun. Bahkan, buktinya sudah cukup lama ada di depan mata kita. Saat pria bernama asli Jermaine Cole ini merilis KOD di 2018, da

on Nov 13, 2019
Ringo Starr

Album Baru Ringo Starr Bakal Jadi yang Terakhir?

Ringo Starr menjadi terkenal sebagai bagian dari The Beatles, namun di luar itu, dia adalah musisi legendaris. Belum lama ini, Ringo merilis What’s My Name

on Nov 13, 2019
A Boogie Wit Da Hoodie

A Boogie Wit Da Hoodie Ingin Vakum Usai Rilis Artist 2.0

A Boogie Wit Da Hoodie masuk dalam deretan bintang muda yang menyatakan ingin mundur sejenak dari panggung hiburan. Hari Sabtu kemarin, dia mengumumkan le

on Nov 12, 2019
The Beatles

3 Lagu Paling Menyeramkan dari The Beatles

Di masanya, The Beatles menciptakan perpaduan yang ikonik dari lagu-lagu pop yang ceria dan eksperimen bernuansa psikedelik. Baca juga: Artis Musik Terlar

on Nov 12, 2019