×
×

Search in Mata Mata Musik

Wawancara CARNIVORED Tentang Kisah Di Balik “Labirin” dan Perubahan Musiknya

Posted on: 01/29/21 at 10:30 am

Carnivored. (Foto: dok. band).

Tahun 2021 dibuka oleh gelegar cadas extreme metal album terbaru dari Carnivored, Labirin, yang dirilis oleh Lawless Jakarta Records pada 28 Januari. Salah satu album yang paling diantisipasi di scene metal Tanah Air ini telah tersedia dalam format CD. Untuk digitalnya sejauh ini hanya ada 2 single, yakni ‘Rintih Mengemis’ dan ‘Industrial Casualties’.

Baca juga: Single ‘Rintih Mengemis’ Beri Gambaran Musik Album Baru Carnivored, “Labirin”

Gaya musik Carnivored di album Labirin secara garis besar adalah kombinasi ciamik antara death metal, dan beberapa elemen subgenre heavy metal lainnya yang lebih menonjolkan groove dan melodi. Memang sangat berbeda dengan saat Carnivored terbentuk pada akhir 2006 silam, band berbasis Pamulang, Tangerang Selatan ini menggeber gaya technical death metal bertempo super cepat penuh serangan blast beat dram dengan riff-riff thrashy di dalam aransemen groovy yang agresif. Bisa disimak pada dua album sebelumnya, yakni Revival (2012) dan No Truth Found (2014) yang naik kelas secara signifikan musikalitasnya. Revisit saja video musik ‘Heresy of the Priest’ dari album kedua mereka berikut ini.

Album Labirin sekaligus menjadi debut rekaman bagi gitaris baru, Rayhan Syarif, yang juga bermain di ILP, band progressive metal yang dikomandani oleh musisi jazz legendaris Indra Lesmana. Ray mengganti posisi Ario Nugroho yang meninggalkan Carnivored di tengah proses penggarapan materi Labirin. Bersama Ray, Ronald Alexander (vokal), Welby Cahyadi (bass) dan Oces Rahmat (dram) berhasil merampungkan album ketiga mereka tersebut.

Artwork sampul album Labirin yang digambar oleh Bahrull Marta.

Sejak merilis single ‘Rintih Mengemis’ di berbagai layanan streaming pada Desember 2020 lalu, respons dan reaksi metalhead cukup beragam. Sebagian besar adalah para penggemar Carnivored yang terkejut terhadap perubahan gaya musiknya.

Baca juga: Carnivored “Labirin”: Amalgamasi Extreme Metal Soundtrack Penyintas Skizoprenia

Sang vokalis, Ronald telah menyempatkan diri singgah dan duduk bareng MataMata Musik untuk sesi wawancara seputar Labirin. Simak hasil sayatan bersimbah kisahnya di bawah ini…

Publik metalhead pasti kaget dengan pergeseran direksi musik Carnivored di Labirin. Dari technical death metal yang bertempo ngebut penuh blast beat dram menjadi seperti sekarang yang seperti kita tahu. Bisa dijelaskan, sebenarnya apa hal yang memotivasi atau menginspirasi kalian di balik keputusan perubahan itu?

Kalau diniatin emang pengen berubah sih enggak sebenarnya, tapi lebih ke kayak, waktu itu gue, Ario bersama anak-anak mulai dengerin band-band death metal atau band metal yang enggak ngebut, enggak blast beat, enggak selalu dengan dobel pedalnya yang running, rapat gitu, tapi musiknya tetap heavy banget. Jadi lebih ke referensi musik kami yang lebih bergeser aja pada waktu itu. Kami dengerin, kok keren banget ya. Terus, tiba-tiba Ario udah nyodorin beberapa riff yang udah berubah kayak gitu aja.

Dan mungkin faktor, atau yang bener-bener disengaja pengen diubah banget yaitu dram. Mungkin kalau isian dramnya masih diisi dengan blast beat atau grinding, dikit-dikit blast beat, dikit-dikit grinding dan running gitu bisa aja, musiknya bisa jadi terdengar sama aja dengan No Truth Found, tapi mungkin dengan versi yang agak lebih simple. Hanya saat itu, kami berusaha, kalau bisa dramnya enggak pakai blast beat atau grinding.

Cuman akhirnya, ada beberapa lagu, dan di part lagu-lagu itu kami udah coba enggak pakai blast beat atau grinding ternyata hasilnya enggak enak, jadi yaudah lah akhirnya tetep ada grinding dan blast beat-nya. Tapi dari satu album ini, kayaknya cuma ada 5-10% doang sih untuk porsi ngebutnya, selebihnya style berubah mungkin karena proses pendewasaan kali ya? Gue ngerasanya gitu sih. Gue merasa untuk menggambarkan sesuatu yang brutal, heavy, dark, ya enggak mesti ngebut dengan blasting. Di album ini gue menemukan hal-hal lain, dari riff, nuansa, feel, soul juga bisa menggambarkan sesuatu yang brutal, heavy, dark itu.

Sejak merilis single ‘Rintih Mengemis’, banyak orang bilang, Carnivored musiknya berubah sejak Ario keluar.

Yoi, orang bilang “wah gue berasa kehilangan soul-nya Ario di lagu baru”, padahal materi album ini Ario yang bikin semua. Dari total 12 lagu, 8 lagu itu Ario yang bikin. Kami rilis No Truth Found pada 2014, dan 8 lagu itu, Ario udah bikin di 2015 dalam bentuk riff. Terus kami godok materinya, mulai diisi dram yang agak pelan, ternyata ‘lebih kena’ banget.

Oh jadi, Ario cuma bawa riff-nya saja dan enggak ikut menentukan direksi musiknya?

Oh ikut juga, malah Ario yang sempat rewel, “aduh jangan blasting lagi dong”. Proses penggarapan kami jadi lama ya karena di part dram sebenarnya. Jadi dari proses kreatif, latihan sampai rekaman demonya, Ario sangat terlibat sebelum akhirnya dia mundur dari Carnivored. Demo CD berisi 3 lagu yang dirilis tahun 2018 itu Ario dan Ray yang ngisi gitar. Nah, setelah Ario keluar, Ray tinggal melanjutkan, ternyata Ray tuh nyambung dan klop banget dengan materi yang Ario bikin. Sisa 4 lagu lainnya Ray yang bikin yang masih relate walau kami bisa ngebedain mana yang lagu Ario, dan mana yang lagu Ray.

Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya awal kalian bertemu Ray sampai bergabung di Carnivored?

Sebelumnya Ario ‘kan udah sering berhalangan untuk manggung dengan Carnivored, dan David (gitaris Djin -Ed.) yang bantu. Awal ceritanya, setelah rilis No Truth Found, ‘kan mau tur, Ario butuh gitaris tandem untuk keperluan live, terus datanglah David dari Medan, kami ajak bantuin Carnivored, di saat Ario berhalangan, diganti oleh Derrick (sekarang di Hellcrust -Ed.) atau Baken (Nainggolan, eks-Siksakubur/Hellcrust, sekarang Kapital -Ed.). Dengan begitu malah David yang terkesan sebagai gitaris utama Carnivored karena dia yang main terus selama tur.

Terus, sekitar 2018, David enggak bisa bantu lagi karena harus kembali ke Medan untuk waktu yang lama karena istri dan anaknya di sana. Sebelum dia cabut, dia bantu cariin penggantinya, karena Ario sendiri juga masih susah bagi waktunya dengan Carnivored. David nemu si Ray di Instagram yang sebelumnya sudah saling follow tapi belum saling kenal, dan ternyata Ray tempat tinggalnya juga enggak jauh dari anak-anak. David kontak dan menawari Ray main di Carnivored. Ray mau dan David nyuruh Ray bikin riff yang modelan Decapitated dan kemudian dikirim ke anak-anak, dan kami suka. Akhirnya David suruh kami kontak Ray langsung dan akhirnya kami ketemu Ray dan latihan band.

Dan kami juga sempat manggung bareng David untuk terakhir kalinya, bersama Ray untuk pertama kalinya, yaitu di Noxa Fest, Bulungan, Jakarta. Setelah David cabut, Ario nongol lagi, tapi ya gitu, nongol ilang, nongol ilang. Tapi kami sempat manggung sekali bareng Ario dan Ray. Setelah itu baru mulai menggarap materi demo.

Ray saat itu sudah main di ILP (Indra Lesmana Project)?

Enggak. Ray main di Carnivored duluan. Jadi saat itu Ray tuh sedang enggak ada band. Makanya kami beruntung banget.

Tapi nama Ray terekspos ke publik mainstream dari ILP duluan. Biasa lah. Anyway, dari judulnya, Labirin, nampaknya memberikan kesan yang mendalam, sebagaimana jika kita masuk ke dalam labirin pasti susah untuk mencari jalan keluar sampai bisa gila. Bagi-bagi dong cerita yang lebih gamblang di balik ide judul album ini.

Labirin itu secara garis besar menyeritakan tentang mental health. Ario ‘kan sudah bikin 8 lagu sebelum Ray gabung, dan gue juga sudah bikin cerita di 8 lagu itu. Jadi inti ceritanya tentang seseorang yang sedang ‘dealing with the devil’, dia masuk ke dalam ‘circle’ yang bener-bener jahat, yang awalnya tuh, uhh… nikmat banget, enak banget, tapi perlahan di beberapa tahun kemudian, dia mulai digerogoti, ternyata ada sesuatu yang enggak baik ikut tumbuh di tubuhnya, dan itu bakal berada dalam hidupnya mungkin bisa selamanya, dan itu bener-bener enggak menyakitkan buat dia sampai dia mengalami depresi, hampir gila, sampai dia memiliki penglihatan-penglihatan makhluk-makhluk astral, sebenarnya itu hanya dia yang melihat, sampai dia berada di keadaan di mana dia merasa orang-orang ingin membunuh dia, bahkan dia merasa orang-orang terdekatnya, keluarganya sendiri juga ingin membunuhnya, ketika dia lengah, dia merasa ingin dibunuh. Nah, kenapa namanya labirin, karena dia tuh selalu ingin keluar dari keadaan kayak gini, tapi dia enggak tahu sebenarnya dia kenapa dan enggak tahu cara keluarnya, dia sampai merasa ada orang yang kirimi dia santet, makanya ada lagu yang berjudul ‘Gerilya Voodoo’ (hidden track di album -Ed.). Yang tadi, dia merasa ada orang yang ngejar dia untuk bunuh dia, makanya ada lagu ‘Paranoia’. Terus, dia sempat merasa udah enggak ada harapan dan pengen mati aja, ada di lagu ‘Sekarat Asa’.

Nah, kalau lagu pertama kenapa ‘Tunduk Raga’?

Karena tunduk raga karena itu pertama kali dia ‘dealing with the devil’, dia tuh saking nikmatnya ‘dealing with the devil’, raganya udah enggak bisa menolak, nunduk aja. Dan semua 8 lagu itu gue pakai bahasa Indonesia, pengen nyoba aja.

Delapan lagu ciptaan Ario, sisa 4 lagu ciptaan Ray, apakah masih sama tema ceritanya?

Tahun 2018, Ray masuk, sampai 2019, Ray nyumbang 4 lagu, nah gue sempat bingung mau cerita apa lagi nih. Akhirnya, 4 lagu dari Ray itu, gue ngomongin hal di luar tema Labirin, gue ngomongin soal sosial-politik sama seperti di album Revival dan No Truth Found, cuma gue pakai bahasa Inggris. Tapi gue menempatkan atau membuat susunan lagunya, enggak 8 lagu Ario terus lanjut 4 lagu Ray. Kalau lo lihat track list dengan susunan lirik di dalam booklet CD-nya itu memang beda, dan bikin lo bingung. Susunan lirik di booklet sesuai alur cerita Labirin dari 8 lagu Ario, dan sisanya 4 lagu Ray. Sedangkan susunan track list sesuai dengan musiknya yang paling pas.

Di lagu ‘Sekutu Hitam’ fitur Vicky (Burgerkill), ‘Industrial Casualties’ fitur Anggi Ariadi (Revenge The Fate) dan ‘Labirin’ fitur Stevi Item (Deadsquad) dan Tara Adia. Sebenarnya apa sih tujuan lo dengan menampilkan tamu spesial tersebut?

Labirin ‘kan variatif banget ya, ada lagu yang riff-nya rada metalcore, ada riff-nya yang rada progressive/djent atau deathcore gitu, gue mikir kayaknya asyik nih kalau featuring vokalis lain, nah ‘Sekutu Hitam’ ‘kan berasa metalcore, dan Vicky adalah sosok yang tepat karena Burgerkill yang paling gede di scene metalcore, walau sebenarnya Burgerkill enggak sepenuhnya metalcore, mereka ada di antara hardcore dan metal. Sedangkan ‘Industrial Casualties’ ‘kan rada djent dan deathcore, dan vokalis yang paling gede di scene deathcore ya Anggi dari Revenge The Fate. Terus, ‘Labirin’ ‘kan lagu instrumental, Stevi lah yang pas ngisi solo gitarnya, dan ternyata ada part yang pas buat diisi biola, yaudah kami ajak Tara Adia.

Menarik banget. Oh iya, sepertinya kalian sudah cocok banget dengan Bahrull Marta yang kembali menggarap artwork sampul album Labirin setelah sebelumnya menggarap No Truth Found.

Waktu gue masih menulis lirik cerita Labirin, gue udah kebayang sih, ini harus Bahrull yang ngerjain artwork-nya. Gaya gambarnya Bahrull ya kayak begini.

Sebenarnya, kalian sudah siap enggak sih dengan respons terhadap perubahan musik Carnivored dari metalhead terutama fans yang sudah mengikuti Carnivored dari awal?

Ya udah siap lah, haha, gue dari awal udah ngebayangin sih dari awal 2015 materi ini udah dibikin. Respons orang-orang udah kelihatan dari demo 2018 yang kami rilis. Kok jadi begini? Hehe.

Sejauh ini, ada enggak respons yang berpengaruh ke diri kalian?

Mungkin kalau dari demo 2018 ‘kan hanya orang-orang tertentu karena kami juga nyetak terbatas. Paling nyata dari pertama kali rilis single ‘Rintih Mengemis’ (video lirik di YouTube -Ed.) secara publik. Tolok ukurnya paling dari komentar-komentar di YouTube dan social media ya. Sebenarnya masih dominan yang bernada positif sih…tapi juga menimbulkan keheranan dan pertanyaan. Tapi gue sih enggak terlalu berasa/berpengaruh dengan pertanyaan “kok begini, kok begitu?”, untungnya masih dominan dengan komentar orang-orang yang, enggak terlalu peduli mau genrenya apa, selama menurut mereka keren dan masih enak, yaudah, tapi ada juga orang-orang yang merasa, “kok udah enggak berasa death metal sih?”, “kok udah enggak ada blast beat-nya sih?”, “ah enggak ada Ario jadi begini dah”.

Okeh, kalau menurut lo sendiri, Labirin itu masih death metal enggak sih, Nald?

Bentar… hmmm… Enggak. Ini Carnivored. Tapi yang jelas kami berangkat dari ranah death metal. Mungkin kalau isian dramnya banyak blast beat ya jadi beneran death metal.

Tapi death metal ‘kan enggak mesti ada blast beat.

Iya.

Tapi pelabelan atau genre itu masih perlu atau penting enggak sih buat lo pribadi, Nald?

Hmmm…

Kadang klasifikasi musik masih diperlukan ya, secara bisnis atau fanbase ada gunanya untuk membedakan satu dengan lainnya. Tapi ada juga orang atau musisi yang enggak peduli dengan genre, bebas mau disebut apa.

Iya memang. Kayak Decap (Decapitated -Ed.) aja udah bingung nyebutnya apaan sekarang. Decap yang baru, Anticult, death metal enggak?

Iya sih, hehe. Paling yang paling gampang untuk mendeskripsikan genre yang seperti itu sih ya dengan sebutan extreme metal. Karena lebih universal, bisa mewakili apa saja, bisa thrash metal, death metal, black metal, grindcore, dan masih banyak lagi.

Bener. Kayak, Gojira tuh berada di genre apa sih? Abu-abu ‘kan? Meshuggah genre apa sih? Mastodon apa coba? Bahkan Lamb of God pun.

Yoi, Lamb of God dibilang metalcore pun enggak tepat walau memang ada elemen metalcore-nya, tapi enggak sepenuhnya.

Nih band metal yang paling gede di negara kita. Burgerkill ada di genre apa coba? Hardcore udah bukan. Metalcore, kayaknya mereka terlalu keras untuk metalcore. Iye kan? Death metal bukan juga. Yaudah itu Burgerkill. Cuman gede-gede aja bandnya, paling gede malah.

Mungkin lo berangkat dari mindset itu ya.

Tapi feel di Labirin masih death metal sih sebenarnya… gelapnya. Toh, akhirnya ada beberapa part lagu yang pakai blast beat juga, dan di beberapa lagu juga ada vokal growl gue, gue bikin low, di Labirin vokal gue memang sengaja gue bikin middle supaya lafal lebih jelas, intinya pengen nyoba sih…

Boleh dibilang ini adalah langkah yang cukup berani untuk sebuah band death metal di negeri IDDM (Indonesia Death Metal) yang didominasi band brutal death metal yang musiknya ngebut-ngebut. Dan Carnivored sebagai salah satu pengusungnya, sekarang “sell out”, hahaha, kidding, Nald. Tapi artinya lo sudah siap kehilangan fans dong di satu sisi.

Ah gue mah cuek aja sih, hehehe. Gue ngerasa sebrutal-brutal lo pasti enggak setiap hari hanya dengerin lagu brutal death, sebrutal-brutalnya Daniel (vokalis Deadsquad -Ed.) pasti punya sisi lain. Gue pun begitu. Pada akhirnya people is getting older sih… bakal tua, lo bakal pusing dengan banyak kerjaan, masalah hidup, kemaceten jalanan, terus sampai rumah lo masih dengerin brutal death kayaknya ada saatnya lo capek dengan itu. Yah pengen refresh dengan style musik yang baru atau sedang berkembang. Soalnya gue dan Oces tuh gitu, Oces kurang brutal death atau kurang grindcore apa tu orang, hahaha.

Yoi, hehe. Tapi nanti kalau konser sudah kembali normal usai pandemi, lagu-lagu lawas ‘kan tetap masuk dalam set list konser Carnivored dong…

Ya iyalah, di-mix nanti set list-nya. Gue juga ngerasa banyak band luar yang lumayan produktif, yang tiap dua atau tiga tahun sekali selalu ngeluarin album, gue ngerasa musikalitasnya stagnan. Lo dengerin emang keren, tapi lo cuma dengerin sekali, udah, lo enggak pengen dengerin lagi. Lo seputeran doang, itu kayak cuma jadi sekadar koleksian lo aja. Kayak Cannibal Corpse, konsisten musiknya, tapi beda-beda ya tiap orang, gue rasa sebagian besar orang balik lagi dengerin album-album lamanya aja, album baru ya sekadar tau aja.

The Black Dahlia Murder juga sama, album-albumnya makin ke sini enggak ada sesuatu yang baru, cuma sound-nya aja lebih bagus karena seiring dengan perkembangan teknologi. Tapi beda ketika gue amazed dengan Decapitated, gue dengerin album-album lamanya, tapi gue juga dengerin album-album barunya yang musiknya udah berkembang, selalu dengerin, dan gue tetep menganggap ini ya Decap, mau mereka mau berubah atau enggak ini Decap, bukan seperti band yang berubah. Ya itu gue ya.

Baiklah dengan demikian, kesimpulan dari semua obrolan ini, genre Carnivored yang paling tepat adalah CARNIVORED METAL.

Yoi. Hahahahaha.

Narator, Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Stevi Item & Isyana Sarasvati

    Stevi Item & Isyana Sarasvati Wujudkan Proyek Lanjutan "DeadSyana"

    Isyana Sarasvati dan Stevi Item mempromosikan t-shirt Deadsyana (Foto: Instagram/Deadsquad.official). Stevi Item, sebagai pendiri dan motor utama DeadSquad

    on May 10, 2021
    Behemoth

    Behemoth Rilis NFT Anniv Ke-7 The Satanist Collab Dengan Seniman Bali

    Behemoth (Foto: Grzegorz Gołębiowski). Behemoth telah mengumumkan peluncuran lini NFT mereka sendiri, yang tersedia mulai 7 Mei 2021 pukul 8 malam waktu

    on May 9, 2021
    DeadSquad

    DeadSquad, Ikon Death Metal Indonesia Yang Mampu Hidup Di Dua Dunia

    DeadSquad formasi 2021. (Foto: Instagram/possessedtomerch). DeadSquad adalah nama yang sudah enggak asing lagi di kancah musik Indonesia. Meski mengusung ge

    on May 5, 2021
    At The Gates

    At The Gates Rilis 'Spectre of Extinction' Fitur Gitaris Andy LaRocque

    At The Gates (Foto: Ester Segarra). Sebulan lalu At The Gates mengumumkan album studio ketujuh mereka, The Nightmare of Being. Kini dedengkot Swedish-Gothen

    on May 3, 2021