×
×

Search in Mata Mata Musik

Wawancara Trivium: Album Baru ‘What The Dead Men Say’ Di Tengah Karantina

Posted on: 04/24/20 at 10:30 am

Trivium, ki-ka: Alex Bent, Paolo Gregoletto, Matt Heafy, Corey Beaulieu. (Foto: Facebook Trivium).

Dunia memang sedang berantakan dan krisis di sana-sini, tetapi Trivium tidak se-“cupu” itu untuk mundur atau menyerah. Jum’at ini (24 April) band metal yang berbasis di Orlando, Florida, Amerika Serikat (AS) ini merilis album full-length kesembilan mereka, What The Dead Men Say, melalui Roadrunner Records. Sebagai album yang patut didengar dan pasti akan menyenangkan bagi para fans berat Trivium lama maupun yang baru, album terbaru mereka ini memiliki berbagai chorus yang anthemic, screaming yang enerjik, dan, tentu saja, serangkaian aksi instrumentalia virtuoso yang edan. Bahasa promosinya sih, konon album ini bisa dibilang adalah karya terbaik Trivium dalam beberapa tahun terakhir.

“Dengan begitu banyak band yang menunda tanggal rilis album mereka karena lesunya penjualan album fisik, menurutku kami harus mengeluarkan materi kami tanpa alasan apa pun,” kata sang komandan Trivium, Matt Heafy, tentang merilis album di tengah pandemi Covid-19 atau virus Corona. “Kami berutang kepada orang-orang yang sekarang menganggur, cuti, atau terjebak di rumah… Aku ingin memberi mereka sesuatu untuk dinikmati selama masa ini”.

Trivium 'What The Dead Men Say'.
Trivium.Trivium.Cover album ‘What The Dead Men Say’ oleh Trivium. (Gambar: Facebook Trivium).

Album ini dirilis sesuai jadwal, tetapi Matt Heafy dan rekan-rekan seperjuangannya – sang gitaris Corey Beaulieu, bassis Paolo Gregoletto dan dramer Alex Bent – masih harus beradaptasi dengan dunia Covid-19 yang aneh. Misalnya, video musik untuk lagu ‘What The Dead Men Say’ sepenuhnya direkam dan diedit di Inggris oleh sutradara Ryan Mackfall selama masa shutdown. Dibuat selama dua minggu – dengan semua kru bekerja menggunakan masker dan sarung tangan, menjaga jarak sejauh mungkin – produk akhirnya benar-benar sebuah karya seni yang mutlak demikian adanya mengingat keadaannya sedang sesulit ini.

Baca juga: Matt ‘Trivium’ Meng-cover Lagu Mariah Carey ‘All I Want For Christmas’

Sekarang dengan perilisan albumnya tiba, Trivium telah menyiapkan sebuah toko virtual, yang akan mereka streaming pada 27 April pukul 3 malam waktu setempat di situs web trivium.org. Para fans dapat melakukan pre-order untuk kopian CD dari album What The Dead Men Say yang dipersonalisasi oleh band itu sendiri, yang akan menandatangani kopian album secara live selama acara online tersebut.

Menjelang hari besar itu, REVOLVER mewawancarai Matt Heafy untuk mengobrol tentang kehidupan selama masa karantina, asal-usul channel Twitch miliknya yang populer, jiwa semangat “tidak ada aturan dan tidak ada batasan” yang menyelimuti energi album terbaru Trivium, dan semua proyek mendatangnya.

Matthew Kiichi Heafy yang berdarah Jepang-Amerika. (Foto: Facebook Trivium).

Secara pribadi dan dari perspektif band, apa yang telah menjadi hikmah terbesar dari seluruh pengalaman masa karantina sejauh ini?

Matt Heafy: Aku menggunakan waktu ini untuk menciptakan tempat atau ranah bagi para fans kami untuk melarikan diri – mau itu tempat gym, restoran, kantor terapis, perpustakaan, klub malam, bar, kedai kopi – apa pun yang mereka butuhkan. Channel Twitch milikku adalah untuk komunitas.

Dengan semua karya seni yang diciptakan para musisi sekarang – video IGTV, podcast, livestream Twitch, dll. – siapa atau apa yang kamu suka tonton sendiri?

Ketika aku sedang tidak streaming di Twitch – yang aku lakukan hampir sepanjang hari – aku bermain dengan anak kembarku, menonton komunitas streamer musik yang luar biasa dan hebat yang muncul sebelum deretan musisi baru di Twitch. Streamer seperti NoelleDosAnjos, Chainbrain, iYoungGun, MrGregles, The8BitDrummer, VenusWorld, MermaidUnicorn, Sayanoe, Lammasaurus, TheFlairGuns, PizzaVibes, Aishu, HugoMoroux dan banyak lagi.

Kamu telah membangun komunitas Twitch yang sangat kuat jauh sebelum pandemi ini terjadi. Apa yang membawamu ke platform ini?

Kami memainkan sebuah konser di Barcelona, ​​dan kemudian bertemu beberapa YouTuber dari Spanyol. Jordi Wild, orang utama dari kelompok teman-teman lainnya – yang telah menjadi teman baikku – memiliki tujuh juta subscribers di Twitch. Setelah kami bertemu, aku merasa terinspirasi dan berkata, “Aku harus mulai membuat video di YouTube”. Paolo kemudian menjawab, “Kamu juga harus mencoba Twitch”.

Aku memulai akun untuk kedua platform tersebut malam itu dan memulai dengan santai, dengan secara acak menelusuri Twitch. Selama setengah tahun pertama, aku bisa streaming 15 hingga 60 menit pada saat bersamaan dari PS4 dengan webcam dan semacam terlibat melalui kolom chat di iPad.

Ketika aku diundang ke kantor pusat Twitch sekitar dua setengah tahun yang lalu, aku berteman dengan John dan Brandon – yang sekarang adalah dua teman terdekatku – mereka menjadi mentorku dan menginspirasiku untuk mulai men-streaming semua jam latihan yang tak terhitung jumlahnya yang aku lakukan selama istirahat tur. Semuanya dimulai dari sana.

Pindah ke album baru, mari kita bahas topik utamanya – kamu telah mematahkan kutukan Spinal Tap! Meskipun tentu saja, kalian bercanda tentang itu selama hari April Mop! Mungkin itu bagus untuk bekerja dengan anggota yang sama lagi ya, jadi, hal baru apa yang telah dibawa oleh Alex Bent dan apa yang kamu sangat nantikan?

Apa yang lucu tentang pembahasan orang-orang tentang pertukaran dramer itu – kami hanya punya empat dramer studio. Itu adalah rekor yang lebih baik daripada kebanyakan band lainnya. Dengan itu dikatakan, aku akan selalu bercanda dengan orang-orang tentang pertukaran dramer.

Apa yang aku sukai ketika kami membawa Alex masuk, itu akhirnya bukan lagi pertanyaan tentang “Mengapa kalian mengganti dramer?”, itu menjadi pernyataan tentang “Sekarang kami melihat apa yang kalian cari selama karier kalian”.

Buktinya ada di musik. Dua album terakhir kami adalah dua dari karya-karya terhebat kami, dan itu karena kami akhirnya memiliki sekelompok empat orang dengan pola pikir, mentalitas, dan pola latihan yang sama, serta dedikasi pada karya mereka dan kerjasama yang diperlukan untuk melakukan hal ini dengan benar.

Kamu dan Trivium memiliki selera humor yang baik perihal komentar para fans tentang dramer atau pilihan vokalmu di antara menyanyi dan nge-scream. Dibandingkan dengan beberapa rilisan terakhir, kamu nge-scream lebih banyak pada album What The Dead Men Say, yang memberikan album itu nuansa Trivium yang lebih old school, tapi dalam cara yang modern. Apa motivasi di balik itu?

Kami tidak mencoba untuk mengulangi sesuatu atau kembali ke suatu era atau zaman. Dengan album What The Dead Men Say, kami masuk tanpa aturan dan tanpa batasan. Kami membuat musik yang ingin kami dengar dan mainkan, tanpa berpikir jika akan ada yang suka atau tidak dengan materi itu.

Ketika sebuah band kembali ke pola pikir seperti itu, alih-alih mencoba untuk melihat kembali kepada suatu era dari sound khas mereka sendiri, sebuah band malah akan membuat materi mereka yang paling jujur.

Melihat kembali ke The Sin and the Sentence, itu adalah materi terbaik dari album satu sampai tujuh. Dan dengan What The Dead Men Say, ini adalah yang terbaik dari album satu hingga delapan. Itu tidak dimaksudkan untuk menjadi seperti ini, tapi materi tersebut terwujud secara organik melalui cara ini.

Aku tahu Paolo menulis banyak lirik dalam album. Bagaimana kamu berkolaborasi dengan mereka? Dan juga, kamu harus yakin saat menyanyikannya ‘kan.

Dengan band kami, semua orang sama pentingnya satu dengan yang lain – itu semua untuk satu, satu untuk semua. Jadi siapa pun yang memulai penulisan lagu, lirik, melodi – itu hanya akan menjadi Trivium ketika itu dilakukan dan diselesaikan oleh empat anggota.

Aku senang memiliki perspektif lain tentang lirik dan melodi, terutama dari Paolo. Aku telah mengambil liriknya dan menemukan maknaku sendiri di dalamnya dan pada dasarnya mampu melakukan apa yang fans kami lakukan ketika mereka menafsirkan lirik kami sebagai lirik mereka sendiri. Metafora terbaik yang aku temukan bahwa Paolo adalah seorang penulis-sutradara, dan aku adalah sang aktor dalam hubungan ini.

Lagu apa yang paling sulit untuk ditulis untuk album ini dan kenapa?

Kami mulai menulis secara diam-diam tak lama setelah The Sin and the Sentence dirilis, jadi semuanya muncul secara alami dan perlahan berkembang ketika kami merasa terinspirasi. Untuk menciptakan “waktu menulis” atau menetapkan batas waktu atau kuota musik adalah ketika band biasanya sedang pusing secara kreatif. Proses kami adalah untuk membiarkan lagu-lagu ditampilkan secara alami, dibanding memaksa untuk menulisnya.

Syukurlah, semuanya berjalan lancar, seperti proses rekaman, yang memakan waktu 16 hari secara total. Kami melakukan banyak persiapan sebelum masuk ke studio.

Apa lagu favoritmu dalam album dan kenapa?

‘The Defiant’. Sementara sebelumnya aku memang menyebutkan bahwa ini bukan tentang “kembali ke era lama” ketika lagu ini dibuat, aku suka bahwa lagu ini secara alami mengingatkanku pada era Ascendancy, in Waves dan segelintir era The Crusade di tengahnya.

Apakah ada lagu yang hampir tidak masuk album? Atau satu yang hampir masuk tetapi dibatalkan?

Kami tahu kami tidak menginginkan adanya kelebihan. Konsep memiliki banyak lagu terasa tidak menarik bagi kami, jadi kami tahu bahwa kami menginginkan sembilan lagu. Rasanya cocok untuk memiliki yang terbaik dari yang terbaik, dan hanya itu.

Kamu sudah bilang tentang album ini, “Aku sangat mencintainya jika orang-orang merasa terinspirasi untuk bisa mengambil instrumen dan menulis lagu”. Berapa umurmu saat menulis lagu pertamamu, dan seberapa baik atau buruk atau lucu itu?

Aku bergabung dengan Trivium ketika aku berusia 13 tahun. Itu adalah band pertamaku dan adalah “pekerjaan” pertamaku. Lagu pertama yang aku tulis bersama dengan penyanyi lama kami adalah ‘Thrust’, dan lagu pertama yang aku tulis sendiri adalah ‘Pain’. Keduanya masih cukup bagus hingga hari ini.

Ember To Inferno adalah album pertama kami. Aku menulis itu pada usia 16 tahun dan merekamnya pada usia 17. Aku menyukai album itu sama dengan semua album Trivium favoritku.

Judul albumnya What The Dead Men Say terasa cukup ekspresif. Pernahkah kamu mengalami sesuatu yang supernatural? Apa makna di balik judul itu?

Kami ingin semua judul, lirik, musik, dan visualnya terbuka untuk interpretasi bagi para fans kami. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Di ujung semua ini, kami pada akhirnya akan membuat orang tahu apa yang kami pikirkan dalam hal ini – tetapi untuk sekarang, kami ingin pendengar kami merasa terinspirasi untuk menjadi kreatif. Supernatural? Tidak juga. Untungnya ya?!

Hal lain apa yang kamu sedang kerjakan? Kami mendengar lagu baru dengan Chthonic. Apa ada kabar baru mengenai proyekmu dengan Ihsahn?

Sepertinya kalian tidak dapat melarikan diri dari Matt Heafy belakangan ini ya! Hahaha.

Aku sedang mengerjakan halaman bantuan resmi Twitch untuk musik. Aku akan menjadi narator dan guru dalam serangkaian panduan bantuan untuk apa pun yang perlu diketahui oleh seorang musisi yang ingin streaming. Di sela-selanya, aku telah membantu setiap musisi yang menghubungiku dengan pertanyaan. Kamu akan melihat wajahku saat masuk ke Streamlabs Obs – yang merupakan perangkat lunak terbaik untuk streaming di platform apa pun.

Aku memiliki banyak penampilan bintang tamu luar biasa yang muncul di sana-sini… Aku sedang mengerjakan Mrityu dengan Ihsahn. Aku memiliki kesepakatan album solo dengan Roadrunner Records yang untuk beberapa lagu cover yang menyenangkan – seperti Tiger King dan Witcher – dan beberapa lagu orisinil. EP terbaruku dengan Jared Dines juga akan segera dirilis!

Album baru Trivium What The Dead Men Say dirilis hari ini, 24 April 2020, tersedia di semua platform digital dan juga album fisik dan merchandise-nya via https://store.trivium.org/. Yuk kita dengarkan beberapa single-nya di bawah ini… headbanging di rumah saja!

Sumber: Revolver Magazine (penulis: Sammi Chichester)
Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    The Warning - evolve

    THE WARNING, 3 Rocker Cantik Lagi-Lagi Sukses Meninggalkan Impresi

    Horeee… The Warning nongol lagi!Horeee… tidak banyak "PAUSE" walau masih trauma dengan pemblokiran video akibat penerapan perlindungan copyright yang b

    on Oct 23, 2021
    Lovebites

    LOVEBITES - Holy War (Live at Zepp DiverCity Tokyo 2020) GO-KILL!

    LOVEBITES, salah satu dari deretan band heavy metal Jepang terbaik yang semua anggotanya cewek. Tetapi penampilan mereka yang anggun bak tuan putri hanyala

    on Oct 19, 2021
    Max Portnoy

    Max Portnoy, Putra Mike Portnoy, Menjadi Dramer Baru Code Orange

    Foto: Max Portnoy (via Instagram). Max Portnoy, putra kandung dramer metal legendaris Mike Portnoy, sekarang resmi menjabat sebagai dramer Code Orange. Band

    on Oct 17, 2021
    Burgerkill

    Burgerkill Ft. Ahmad Dhani 'Satu Sisi', Kolaborasi Terepik Sepanjang M...

    Kenapa bisa dibilang kolaborasi paling epik? Yang pertama, karena kolaborasi ini menampilkan mesin metal nomor wahid Indonesia BURGERKILL (BK) dan salah sa

    on Oct 15, 2021