×
×

Search in Mata Mata Musik

Wuhan Calling: Bagaimana Kota Ini Menjadi Episentrum Punk Rock Di Cina

Posted on: 01/23/21 at 10:00 am

Wuhan Calling: Bagaimana Kota Ini Menjadi Episentrum Punk Rock Di Cina
Punk rocker di Beijing. (Foto: AFP).

Punk adalah lebih dari sekadar genre musik rock dengan aneka gaya fesyennya yang eksentrik sarat aksesoris serta atribut simbol dan slogan perlawanan. Punk telah menjadi ideologi kebebasan dalam konteks positif yang diterapkan dalam bagian dari gaya hidup penganutnya. Amerika Serikat (AS) sebagai spermatozoid yang membuahi Inggris sebagai ovum yang membentuk zigot punk yang kemudian melahirkan serangkaian ikon “culture-shock” termasuk Ramones, Sex Pistols, The Clash yang telah berhasil mengubah sejarah budaya populer selamanya.

Baca juga: Dari Memoar Steve Jones, Film Mini Seri Tentang Sex Pistols Akan Tayang Di FX

Meski keluar dari rahim Barat, punk menyebar hingga ke wilayah Bumi bagian Timur tanpa memerlukan misionaris khusus. Pengaruh punk mengalir seperti air mampu beradaptasi dengan lintas benua, negara, suku, adat, ras, agama, walau dalam prosesnya selalu menjadi gegar budaya di mana pun punk berpijak.

Punk telah eksis sebagai komunitas independen yang besar di hampir seluruh negara Asia, tidak hanya Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, dan yang terbesar, Indonesia. Tapi pernahkah lo mendengar gelagat punk dari Cina? Kalau belum, tempat yang tepat untuk lo temukan scene punk yang besar adalah kota Wuhan. Yup, kota yang mendadak beken di seluruh dunia setelah mendapat stigma sebagai pionir eksportir virus Corona.

Zhu Ning, anggota pendiri SMZB, band punk rock paling awal di Cina, mengingat ekspresi enggak nyaman yang doi terima saat pertama kali mencukur kepalanya hingga botak.

“Kami sedang dalam perjalanan untuk latihan band,” kenangnya, “dan di sepanjang jalan, banyak orang akan naik bus dan segera turun. Di belakang bus, seorang wanita tua menunjuk ke kepala gue”.

Saat itu tahun 1990-an, ketika punk rock baru saja tiba di Cina. Zhu masih muda, berusia 20-an tahun, dan suka memberontak. Doi tahu selera gayanya jauh dari ortodoks, tetapi doi masih terkejut dengan tanggapan yang doi terima. “Gue enggak menyangka bakalan sedramatis itu,” katanya.

Punk masih belum menjadi pemandangan umum di Cina, kecuali di kota Wuhan. Mungkin tiap beberapa langkah saat lo berkeliling, lo akan menemui satu atau sekelompok punk rocker di jalan.

Meskipun Wuhan menjadi berita utama paling teratas di sepanjang tahun 2020 karena alasan yang spesifik, sebelum pandemi Covid-19, kota itu sudah dikenal sebagai “rumah spiritual” bagi punk di Cina.

Scene underground punk Wuhan dapat ditelusuri kembali ke formasi band punk SMZB, yang merupakan singkatan dari “shengmingzhibing” yang berarti “bread of life” alias sumber makanan bagi kehidupan.

Zhu Ning (kiri) bersama rekan bandnya di Wuhan, pada akhir 1990-an. (Foto: dok. Zhu Ning).

Zhu, seorang dramer, adalah salah satu anggota pendiri SMZB, bersama dengan bassis merangkap vokalis Wu Wei dan gitaris Han Lifeng.

Ketiganya berasal dari Wuhan dan bertemu saat sama-sama menjadi mahasiswa di Sekolah Musik Midi Beijing.

Di sana, mereka mendapatkan eksposur musik rock dari luar negeri. Kurt Cobain dan Nirvana adalah pengaruh yang paling besar saat itu. Sebagaimana ledakan musik grunge di awal dekade 1990-an.

“Gue rasa pertama kali kami mendengar musik punk mungkin Nirvana,” kata Zhu, mengacu pada band yang digawangi Cobain. “Cobain adalah orang yang sangat pekerja keras. Pemikirannya tentang masyarakat, keluarga, dan orang-orang semuanya ada dalam musiknya. Dan itu memotivasi kami untuk melakukan banyak hal juga”.

SMZB, trio punk rock yang terinspirasi dari Kurt Cobain. (Foto: dok. Zhu Ning).

Setelah ketiganya lulus pada tahun 1996, mereka kembali ke rumah mereka di Wuhan dan mulai membentuk band punk.

Lagu pertama SMZB cukup kontroversial. Lagunya dipenuhi dengan kata-kata kotor dan lirik anti kemapanan. Mereka mengamuk melawan korupsi di ranah politik, kewajiban sosial dan kekecewaan lainnya dalam campuran bahasa Cina Mandarin dan bahasa Inggris yang terpatah-patah.

Salah satu lagu mereka, yang berjudul ‘F*U*N*K’, adalah lagu protes terhadap otoritas Cina.

Zhu bilang saat pertama kali doi mendengar musik SMZB diputar di stasiun radio lokal, doi enggak tahan mendengarkannya.

“Itu pada dasarnya adalah kebisingan,” katanya. “Kami merasa performanya sangat buruk. Karena itu adalah penampilan pertama, kami sangat tegang”.

Band ini masih baru dan belum berpengalaman, tetapi SMZB membuka jalan bagi scene musik underground Wuhan. Sejak itu menjadi lebih banyak band yang terbentuk, dan bersama-sama, mereka hidup dan bernafas musik punk. Pada satu titik, Zhu pernah bermain dram seenggaknya di lima band.

“Kami melakukan semuanya bersama,” kata Zhu. “Kami hidup berkelompok, makan, minum, dan latihan bersama. Semua orang selalu bersama, jadi terkadang itu menyebalkan”.

Tapi bagaimana Wuhan bisa menjadi tempat kelahiran punk Cina ketimbang kota-kota besar lain seperti Beijing atau Shanghai?

Jawabannya mungkin berkaitan dengan akar kelas pekerja dan sejarah revolusioner di kota tersebut.

Sebagai kota pelabuhan utama, Wuhan adalah rumah bagi kelas pekerja yang besar. Anti-elitisme, penolakan terhadap budaya arus utama, dan sikap DIY (Do-It-Yourself) yang terdapat dalam ideologi punk sangat beresonansi dengan para pemuda kotanya.

Wuhan adalah tempat terjadinya pemberontakan bersenjata melawan dinasti terakhir Cina.

“Di pertengahan 1990-an, lo memiliki cukup banyak orang yang tertarik pada musik yang sama,” kata Nathanel Amar, seorang peneliti yang mempelajari scene punk Cina dan sejarahnya.

Wuhan juga memiliki sejarah panjang perbedaan pendapat. Kota ini adalah tempat terjadinya pemberontakan yang mengarah pada revolusi Cina tahun 1911, yang menggulingkan Kaisar terakhir Cina (The Last Emperor) dan mendirikan negara Republik.

Kemudian, di puncak Revolusi Kebudayaan di tahun 1960-an, masyarakat Wuhan menantang kebijakan pemimpin Mao Zedong dalam konflik bersenjata yang kemudian dikenal sebagai “insiden Wuhan”.

“Punk sendiri menggunakan sejarah ini dalam lirik mereka,” kata Amar.

Salah satu lagu SMZB yang paling populer, ‘Big Wuhan’, dimulai dengan referensi tentang pemberontakan tahun 1911.

Zhu Ning di kantornya di Vox, venue pertunjukan musik yang doi dirikan di Wuhan. (Foto: Yuan Yue).

Pada tahun 2002, Zhu keluar dari band untuk mulai menjalankan Vox, venue pertunjukan musik live yang kemudian menjadi episentrum punk di Wuhan. Pada malam tertentu, lo bisa melihat punk rocker, mahasiswa, dan ekspatriat berbaur bersama di antara penonton.

“Mereka enggak ada hubungannya dengan musik punk, tapi mereka menemukan SMZB melalui konser di Vox, dan itu sangat menyentuh mereka,” kata Amar. “Lo bisa melihat bahwa SMZB adalah bagian dari kota ini dan bagian dari sejarah kota ini”.

Baca juga: Bryan Adams Minta Maaf Atas Ucapan Rasisnya Tentang Biang Kerok Covid-19

Di bawah ini adalah video dokumenter tentang bagaimana punk rock mengubah anak-anak muda Cina. Selamat menyaksikan, bray.

Sumber: SCMP, Goldthread
Penulis, Penerjemah & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Glenn Danzig

    Glenn Danzig: Ledakan Punk Tidak Bisa Terjadi Di Tengah 'Cancel Cultur...

    Glenn Danzig (Foto: Heather Kaplan). Vokalis ikonik Glenn Danzig bersyukur bahwa band horror punk legendarisnya, Misfits memulai kariernya di akhir tahun 19

    on May 3, 2021
    Johnny Rotten

    Johnny Rotten Ancam Gugat Danny Boyle Karena Serial TV Sex Pistols

    John Lydon. John Lydon atau lebih dikenal sebagai Johnny Rotten mengancam akan menuntut sutradara beken Danny Boyle (Trainspotting, Slumdog Millionaire) ata

    on Apr 27, 2021
    Joey Ramone

    Joey Ramone Diperankan Pete Davidson Di Film Biopik “I Slept With Jo...

    Pete Davidson (Foto: Kevin Winter via Getty Images) / Joey Ramone (Foto: Marcia Resnick via Getty Images), keduanya milik Netflix). Ada kabar gembira untuk

    on Apr 16, 2021
    The Brandals

    The Brandals Setia Dengan Nuansa Punk Rock Via Single 'Belum Padam'

    The Brandals. (Foto: Ade Branuza). Gerombolan rocker sejati The Brandals merilis single terbaru bertajuk 'Belum Padam'. Sejak 21 Maret, lagu ini resmi diril

    on Mar 22, 2021